Jangan Anggap Sepele, Migrain Berbahaya Bagi Otak

Jangan Anggap Sepele, Migrain Berbahaya Bagi Otak

Migrain berbahaya bagi otak dan harus dicegah.

Bahaya untuk Otak, Berikut Penyebab dan Cara Mengatasi Migrain

Konten.co.id – Migrain atau sakit kepala sebelah seringkali dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal migrain ini juga bisa menjadi tanda ada sesuatu yang serius di dalam tubuh

Migrain adalah nyeri kepala sedang hingga parah yang terasa berdenyut, umumnya hanya mengenai sebelah sisi kepala saja. Jangan sepelekan migrain, karena nyatanya gangguan ini dapat secara permanen mengubah struktur otak dengan berbagai cara.

Migrain merupakan gangguan neurologis kronis yang ditandai dengan serangan intens berdenyut disertai dengan gejala mual dan sensitivitas terhadap cahaya atau suara. Pada sebagian penderita, serangan migrain hanya muncul beberapa kali dalam setahun.

Namun pada penderita lainnya, migrain dapat muncul hingga beberapa kali dalam seminggu. Pada kasus tertentu, nyeri dapat muncul di kedua sisi kepala dan bahkan menyerang leher penderita.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa migrain meningkatkan resiko lesi otak, kelainan materi, putih, dan volume. Lesi otak sendiri berarti keadaan abnormal struktur otak dalam bahasa kedokteran.

Materi putih pada otak yang berubah merupakan akson otak atau proses saraf panjang yang menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya dan berubah strukturnya. Perubahan ini dapat mengganggu aliran darah ke otak yang dapat meningkatkan resiko stroke, terlebih-lebih bagi penderita migrain aura.

Jenis-jenis Migrain

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis migrain, namun migrain dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala pada migrain. Selain merasakan sakit kepala, sebagian penderita juga akan merasakan mual, muntah, dan menjadi lebih peka terhadap cahaya dan/atau suara. Berikut ini beberapa jenis migrain yang perlu Anda ketahui.

Migrain Aura

Tanda-tanda yang awal pada migrain disebut dengan aura. Tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan berupa kilatan cahaya pada mata, kaku pada leher, serta kesemutan pada anggota tubuh. Migrain aura juga dikenal sebagai migrain klasik. Jenis ini dialami sekitar sepertiga dari pengidap migrain.

Migrain Tanpa Aura

Migrain tanpa aura didiagnosis setelah pasien diketahui memiliki sejarah serangan migrain sebanyak lima kali.

Aura Migrain Tanpa Sakit Kepala

Migrain jenis ini terjadi ketika penderita merasakan aura atau gejala migrain yang lain, namun tanpa diiringi sakit kepala.

Faktor-faktor Penyebab Migrain

Sampai saat ini, penyebab migrain masih belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga berperan menjadi penyebabnya.
• Faktor hormon. Perubahan hormon menyebabkan sebagian wanita merasakan migrain pada masa menstruasi.
• Faktor gen. Banyak dari pengidap migrain memiliki kerabat dekat yang juga mengalami migrain.
• Faktor pemicu lain, seperti stres dan kelelahan juga bisa memicu migrain pada sebagian penderita.
• Anak-anak yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko terkena serangan migrain
• Konsumsi makanan dan minuman tertentu, seperti coklat, keju bumbu penyedap msakan (misal: MSG), daging mentah atau yang diasinkan, kafein, dan alkohol.

Cara Menangani Migrain

Migrain dapat mempunyai dampak cukup besar bagi kehidupan sang pengidap. Para penderita terkadang tidak beraktivitas secara normal ketika sedang terserang migrain, dan tentu saja penderita membutuhkan waktu istirahat di tempat tidur selama beberapa hari saat dan setelah terserang migrain.

Sejauh ini, berbaring di dalam kamar gelap sering dianggap menjadi solusi yang paling mudah dilakukan ketika migrain menyerang. Salah satu pengobatan yang bisa membantu meringankan rasa sakit yang dirasakan adalah dengan cara mengonsumsi obat-obatan antimuntah untuk mengurangi rasa mual dan muntah.

Beberapa obat-obatan lain juga umum digunakan untuk menangani migrain, yaitu obat pereda rasa sakit dan triptan. Meski serangan migrain terkadang dapat memburuk dari waktu ke waktu, namun umumnya kondisi pengidap cenderung membaik dalam hitungan tahun.

Untuk migrain yang dirasa cukup menyiksa, Anda dapat memeriksakannya melalui MRI agar dapat diuraikan penyebab awal migrain terpancing, apakah dari intensitas sinar yang berlebihan, suara, atau tekanan udara.

Jika diketahui penyebabnya, penderita dapat meminimalisir kemungkinan munculnya gangguan migrain, sebelum gangguan yang lebih buruk lagi muncul dan merusak kesehatan. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *