Audisi PB Djarum Berhenti, Prestasi Dunia Mati

Audisi PB Djarum Berhenti, Prestasi Dunia Mati

Audisi umum PB Djarum yang dihentikan membuat pembinaan atlet muda juga ikut terhenti.

Haruskah Audisi PB Djarum Berhenti?

Konten.co.id – Siapa tak kenal Tontowi Ahmad, Liliana Natsir dan Melati Daeva? Mereka adalah pebulu tangkis andalan Indonesia yang dibesarkan PB Djarum.

Melalui audisi umumnya, PB Djarum melahirkan ribuan atlet handal yang jadi tulang punggung prestasi bangsa ini.

Namun kini semua kian terasa mati. Lantaran keinginan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk menghentikan audisi umum PB Djarum

KPAI menganggap ada unsur eksploitasi anak oleh industri rokok dalam audisi umum yang digelar oleh PB Djarum.

Salah satu indikasi yang dikemukakan oleh KPAI adalah lewat kaus bertuliskan ‘Djarum Badminton Club’ yang dikenakan oleh para peserta audisi.

KPAI yang sempat bertemu PB Djarum di akhir 2018 menyatakan nama audisi tersebut harus berubah dan tak lagi mengandung unsur ‘Djarum’ di dalamnya.

PB Djarum sempat menegaskan bahwa PB Djarum dan Djarum yang merupakan produsen rokok adalah dua identitas berbeda, pun begitu halnya dengan Djarum Foundation yang memayungi audisi ini.

Kedua pihak sempat kukuh pada pendirian masing-masing. Namun sebelum ada langkah konkret untuk penyelesaian dua perbedaan pendapat ini, PB Djarum memilih untuk bertindak.

Setelah melepas nama ‘Djarum’ dari Audisi Umum yang mereka lakukan, PB Djarum menyatakan audisi umum di tahun 2019 adalah audisi umum terakhir yang bakal dilakukan. Untuk format pembibitan tahun berikutnya, PB Djarum masih akan memikirkan cara dan formula yang bakal dilakukan.

Belum jelas keputusan PB Djarum untuk penghentian audisi ini berlaku sementara atau selamanya.

Belum jelas arti dari keputusan PB Djarum ini. Entah itu bentuk kepasrahan atau mundur selangkah demi pembuktian.

Karena terkadang efek dan besarnya keberadaan, dalam hal ini audisi umum PB Djarum, justru bakal lebih terasa saat mereka sudah hilang.

Takkan terlihat lagi ketegangan para calon bibit muda bulutangkis Indonesia yang berjuang di arena GOR Djarum Kudus.

Takkan lagi ada orang tua yang rela bolos kerja demi mengantar anaknya menuju final.

Disinilah cerita terindah. Banyak cerita orang tua yang tak cukup uang sehingga harus menginap di mobil demi hadir di audisi final. Mudah dijumpai orang tua yang bertampang lelah karena wajahnya bercampur harap dan pasrah.

Ada orang tua yang berpelukan dengan sang anak dengan riasan air mata senang. Banyak pula pelukan hangat orang tua yang menenangkan air mata yang jatuh karena sang anak dinyatakan gagal.

“Sebenarnya kisahnya indah ya kalau aku ingat saat masuk ke PB Djarum tahun 2008 dulu, sedih, haru jadi satu. Sekarang jadi sedih karena audisi umum mau dihentikan tahun ini,” ucap mantan pebulutangkis PB Djarum Ristya Ayu Nugraheny.

Hal senada diungkapkan Ravenska Cintya Adifta. Mantan pebulutangkis ganda taruna PB Djarum tahun 2012 ini mengatakan kalau banyak cerita indah kala ia pertama kalinya ikut audisi umum PB Djarum.

“Aku dari Surabaya dan ayah ibuku menemani saat itu. Karena susah nyari penginapan akhirnya mereka tidur di mobil dan nemani aku dua hari, waktu aku berhasil lolos luar biasa sekali,” ucapnya.

Dihentikannya audisi umum PB Djarum pun dirasakan kesedihannya oleh sejumlah pecinta olahraga tepok bulu ini. Esty Wukak contohnya.

Warga Kupang ini menilai dengan dihentikannya audisi umum justru akan membuat pembinaan terhadap atlet bulutangkis muda terganggu.

“Pembinaan atlet muda terbaik Indonesia ya cuma lewat audisi umum PB Djarum. Saya ikut sedih dan geram kalau nanti gak ada lagi audisi umum seperti ini,” katanya.

Badminton Indonesia adalah cerita tentang perjalanan panjang. Mereka yang jadi juara dunia adalah mereka yang mampu mengalahkan seluruh lawan-lawannya dari berbagai negara.

Namun sebelum sampai ke titik itu, mereka harus bisa lolos jadi pemain pelatnas dan masuk sebagai jajaran pemain terbaik di level nasional.

Sebelum bisa lolos ke pelatnas, mereka sudah harus lebih dulu bisa jadi raja di sirkuit nasional. Untuk bisa jadi dominan di sirkuit nasional, mereka harus jadi yang terbaik di klub mereka masing-masing.

Lolos PB Djarum tak serta merta menjadikan masa depan anak-anak itu cerah. Namun lolos masuk ke PB Djarum membuat harapan bisa berjalan tepat terarah.

Badminton adalah salah satu identitas negara ini. Olahraga ini sudah terbukti memperkenalkan nama Indonesia ke tingkat dunia. Dari generasi ke generasi, badminton jadi satu-satunya olahraga yang sejauh ini bisa memberikan medali emas bagi Indonesia di ajang Olimpiade.

Dalam sukses Olimpiade 2016, pemerintah memberikan bonus masing-masing Rp5 miliar untuk Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sebagai peraih medali emas di Rio de Janeiro.

Jumlah Rp5 miliar terasa ‘Wah’, namun sejatinya angka itu termasuk murah. Dalam momen tersebut, pemerintah hadir di puncak keberhasilan.

Tanpa mengecilkan kehebatan Kemenpora yang meningkatkan jumlah bonus Olimpiade menjadi Rp5 miliar, lima kali lipat dari aturan bonus sebelumnya, butuh lebih banyak dana untuk menghasilkan Tontowi/Liliyana serta juara dunia dan juara Olimpiade sebelumnya.

PP PBSI adalah salah satu organisasi yang mampu memiliki pembiayaan mandiri. Roda organisasi sudah berjalan sehingga untuk pembiayaan rutin turnamen tahunan tak lagi bergantung pada pemerintah. Pemerintah baru akan ikut ambil bagian pendanaan dalam ajang multi event macam SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

Puluhan miliar rupiah yang dihabiskan PP PBSI setiap tahunnya belum menjamin Indonesia akan memiliki juara dunia.

PP PBSI selama ini ditopang oleh pasokan pemain-pemain dari sejumlah klub besar, macam PB Jaya Raya, PB Djarum, PB Tangkas, SGS, Mutiara, Suryanaga, PB Exist dan sejumlah klub lainnya.

Miliaran rupiah yang dihabiskan klub-klub tiap tahun untuk menempa atlet, termasuk memenuhi kebutuhan untuk latihan dan turnamen, belum menggaransi mereka bisa memiliki pemain hebat yang akhirnya terpilih masuk pemusatan latihan di Cipayung.

Peran dari klub-klub untuk membina pemain-pemain muda badminton inilah yang kemudian menutupi lubang dan celah pembinaan yang tidak bisa diambil seluruhnya oleh negara karena keterbatasan dana.

PB Djarum memulai tren audisi umum sehingga ruang lingkup penjaringan lebih luas, bukan hanya untuk mereka-mereka saja yang sudah berkecimpung dari turnamen ke turnamen, melainkan juga mereka yang kesulitan mengikuti turnamen daerah secara rutin.

Audisi umum membuat bakat-bakat muda bisa ‘memotong jalur’ untuk menarik perhatian klub besar dengan lebih cepat. Pemain-pemain berbakat di luar Jawa bisa dengan lebih mudah ditemukan bila mereka ikut audisi umum, tanpa harus mengarungi banyak turnamen di berbagai daerah sebelum akhirnya terlihat oleh pencari bakat.

Keputusan PB Djarum menutup audisi umum pada tahun depan tak serta-merta memutus rantai regenerasi badminton Indonesia. Masih ada banyak klub di Indonesia yang kini juga tergerak menggelar audisi umum untuk menjaring lebih banyak potensi berbakat.

Namun dengan kondisi audisi umum PB Djarum yang terhenti akan ada jalan pembinaan yang mati.

Tidak akan ada lagi pemain seperti Kevin Sanjaya yang tengil. Tidak akan terlihat lagi titisan Tontowi Ahmad yang mematikan dan tidak akan terlihat lagi Mohammad Ahsan yang kalem diluar tapi garang didalam arena. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *