5 Fakta Hutan Bunuh Diri Aokigahara di Jepang

5 Fakta Hutan Bunuh Diri Aokigahara di Jepang

Hutan Aokigahara dikenal sebagai hutan bunuh diri.

Ini Alasan Aokigahara Jadi Hutan Bunuh Diri

Konten.co.id – Indonesia baru-baru ini dikenal luas karena kawasan Desa Penari di Jawa Timur. Tapi tahu gak sih kalau Jepang juga punya hutan yang disebut hutan bunuh diri. Yaitu hutan Aokigahara.

Aokigahara sendiri adalah hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi. Aokigahara disebut juga “hutan lautan pohon” dan “lautan pohon gunung Fuji”.

Disebut demikian karena jika angin meniup pepohonan di sana terlihat seperti keadaan ombak di laut. Usia hutan ini diperkirakan sekitar 1200 tahun. Hutan ini dikenal sebagai tempat bunuh diri populer di Jepang.

Hutan tersebut dilaporkan sebagai tempat bunuh diri yang paling populer di seluruh Jepang dan masuk peringkat dua di dunia sebagai destinasi bunuh diri setelah Jembatan Golden Gate di San Francisco.

Angka kasus bunuh diri bervariasi, namun dari yang sejauh ini didokumentasikan sejak tahun 1988, sekurang-kurangnya ada 100 peristiwa bunuh diri terjadi tiap tahun di sana.

Berbeda dengan kawasan-kawasan hutan wisata lain yang sering dikunjungi orang-orang, di pintu masuk Aokigahara akan ditemui papan besar yang berisi nasihat-nasihat dan kalimat persuasif untuk membatalkan niat bunuh diri.

Jepang, menurut data WHO, adalah salah satu di antara sepuluh negara yang warganya gemar memilih bunuh diri. Tradisi itu bahkan ada sejak era keshogunan.

Di samping itu, hutan tersebut dikabarkan menyimpan 5 fakta misterius di dalamnya.

1. Hutan yang Sunyi

Karena kesunyian dari hutan tersebut, dikabarkan suara-suara hantu yang merintih dan menangis bisa terdengar dari jarak yang jauh.

2. Bisa membuatmu tersesat

Dari jauh kamu bisa melihat pemandangan Gunung Fuji yang menenangkan bersama dengan hutan Aokigahara di bawah kakinya.

Hanya saja pemandangan indah itu sebenarnya tak seindah dengan kenyataanya. Pepohonan yang rimbun dan seragam dapat dengan mudah membuatmu tersesat.

Itu sebabnya, para pejalan kaki di Aokigahara biasanya mengikuti jalan setapak dan membawa pita berwarna untuk menandai jalan. Jika sampai tersesat, GPS dan ponsel tak akan berguna untuk digunakan di sana.
nday

3. Tempat populer untuk melakukan bunuh diri

Aokigahara yang sunyi merupakan tempat sunyi dan damai. Mungkin banyak orang berpikir bahwa hutan ini merupakan tempat yang tepat untuk peristirahatan terakhir mereka.

Sehingga memungkinkan bagi sejumlah orang pergi ke Aokigahara hanya untuk mengakhiri hidup mereka dengan secara tenang tanpa adanya gangguan.

Oleh karenanya, hutan ini dianggap sebagai situs bunuh diri terpopuler setelah Golden Gate Bridge. Pemerintah Jepang sampai harus menyembunyikan angka kematian bunuh diri di Aokigahara, agar menghentikan tempat itu menjadi populer.

Tak heran jika di sana kamu bisa menemukan papan peringatan untuk tidak bunuh diri. Biasanya papan tersebut bertuliskan pesan menggugah seperti “Hidupmu merupakan anugrah berharga bagi orangtuamu” atau “Pikirkan tentang keluargamu!”.

4. Roh Yurei

Menurut cerita rakyat Jepang, roh gentayangan yang dikenal dengan nama Yurei dianggap menghantui hutan Aokigahara dalam waktu yang lama. Biasanya ia digambarkan dalam sosok wanita yang pucat dengan baju putih panjang dan rambut bewarna hitam.
nday

Bedasarkan tradisi dan kepercayaan di Jepang, jika mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri maka roh mereka tak dapat bergabung dengan para leluhur di dunia lain. Mungkin karena itulah Yurei bisa gentayangan.

Untuk menghindari hal itu, biasanya orang-orang yang meninggal karena bunuh diri, mayatnya akan ditemani oleh seseorang. Petugas hutan Aokigahara biasanya melakukan ritual ini agar arwah orang yang bunuh diri tak sendirian dan menjadi marah.

5. Populer sebagai situs bunuh diri sejak lama

Memang sudah lebih dari beberapa dekade hutan Aokigahara terkenal sebagai situs bunuh diri. Mungkin banyak orang dari kita hanya mengetahuinya baru-baru ini.

Namun, hutan itu populer untuk dijadikan tempat bunuh diri sejak tahun 1950. Beberapa literatur dianggap sempat mendongkrak kepopuleran hutan Aokigahara sebagai tempat bunuh diri.

Pada 1960, penulis Seicho Matsumoto menulis novel yang disebut dengan Kuroi Kaiju. Kisah yang ditulisnya berakhir dengan tragis yakni dua pasangan yang saling mencintai mati bunuh diri bersama di hutan.

Sejak novel itu melejit, kasus bunuh diri dikabarkan juga mengalami peningkatan.

Tak hanya novel Matsumoto, Wataru Tsurumui yang menciptakan buku kontroversial tentang bunuh diri pada tahun 1993, juga menyebutkan hutan Aokigahara merupakan tempat yang paling tepat untuk mengakhiri hidup. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *