Tagar #bpjsmencekik Trending Karena Rencana Kenaikan Tarif BPJS oleh Menkeu

Tagar #bpjsmencekik Trending Karena Rencana Kenaikan Tarif BPJS oleh Menkeu

Menkeu Sri Mulyani akan menaikkan iuran BPJS dua kali lipat membuat warganet ramai.

Iuran BPJS Akan Dinaikkan Menkeu, Netizen Teriak Karena #bpjsmencekik

Konten.co.id – Dua hari ini tagar #bpjsmencekik jadi trending di twitter. Kebanyakan dari netizen mengeluh dengan iuran bpjs kelas 1 yang akan dinaikkan.

“Sebenernya Males Gw Bahas BPJS SecaRa Gw Bayar Rajin DiPake Juga Kagak .. eeeh Udah Gitu Malah Mau Dinaekin Pula Iuran BPJS nya Sudah Tau BPJS Kolap Eeh Sok2 an Pulak Mau Pindah Ibukota. Kalo Ada Duit Berlebih Urus Dulu Lah Itu BPJS Kasian Rakyat Kecil Boz ! #BPJSMencekik,” cuit @StevanieHuangg.

Hal senada diungkapkan akun @Mocha_RF7. “Gak di bayar nanti kena sanksi, gak ikutan di sangka warga gak baik, di ikutin tapi gak prnh kepake krn sakitnya cuma sembuh pake obat warung. Beginilah nasib menengah kebawah yg ikutin semua aturan pemerintah pasrah dalam lelah #BPJSMencekik”

Sementara akun @BundaTrie3 mencuitkan “Gak kira2 naiknya… Jadi beginilah caranya pemerintah Memanjakan rakyat nya KLS 1 : Rp.80.000,- Jadi Rp.120.000,- KLS 2 : Rp.51.000,- Jadi Rp.80.000,- KLS 3 : Rp.25.500,- Jadi Rp.42.000,- #BPJSMencekik #BPJSMencekik”

Diketahui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengusulkan iuran BPJS Kesehatan kelas mandiri I naik 100 persen mulai 1 Januari 2020 mendatang. Dengan kenaikan ini berarti, peserta yang tadinya membayar iuran Rp80 ribu akan naik menjadi Rp160 ribu per orang per bulan.

Untuk peserta kelas mandiri II, mereka usul agar iuran dinaikkan dari Rp59 ribu per bulan menjadi Rp110 ribu. Sementara, peserta kelas mandiri III dinaikkan Rp16.500 dari Rp25.500 per bulan menjadi Rp42 ribu per peserta.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kenaikan iuran ini akan membuat kinerja keuangan BPJS Kesehatan semakin sehat. Hitungannya, kalau kenaikan iuran dilakukan sesuai usulan Kementerian Keuangan dan mulai diberlakukan 1 Januari 2019, kondisi keuangan BPJS Kesehatan yang selama ini defisit bisa berbalik menjadi surplus Rp17,2 triliun.

“Nah surplus itu bisa menutup defisit pada 2019. Pada tahun ini prediksi defisitnya Rp14 triliun. Sudah ditutup pun masih surplus,” ucap Sri Mulyani, Selasa (27/8/2019).

Artinya, BPJS Kesehatan berpotensi meraup keuntungan Rp3,2 triliun tahun depan setelah dikurangi perkiraan defisit pada 2019 yang sebesar Rp14 triliun. Namun, Sri Mulyani belum menyebutkan dampak kenaikan iuran tersebut terhadap penurunan peserta.

Sementara itu, ia menyatakan bahwa kenaikan iuran ini juga akan sejalan dengan penambahan beban BPJS Kesehatan untuk membayar rawat inap. Makanya, Sri Mulyani memperkirakan surplus lembaga itu semakin berkurang pada 2021-2023.

“Surplus pada 2021 diperkirakan Rp11,59 triliun, kemudian 2022 sebesar Rp8 triliun, dan 2023 hanya Rp4,1 triliun. Ini karena jumlah utilisasi meningkat,” jelasnya.

Usulan Sri Mulyani bisa dibilang lebih tinggi dibandingkan dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Kelas mandiri I hanya diusulkan naik Rp40 ribu per bulan menjadi Rp120 ribu per bulan.

Kemudian, kelas mandiri II naik Rp24 ribu menjadi Rp75 ribu per bulan. Sementara, usulan untuk kelas mandiri III sama, yakni menjadi Rp42 ribu per bulan. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *