Polri: Waspadai 6 Kejahatan Fintech Ilegal Ini

Polri: Waspadai 6 Kejahatan Fintech Ilegal Ini

6 kejahatan fintech illegal diungkap Polri.

Waspadai 6 Kejahatan Fintech Ilegal. Dari Sadap Data, hingga Ancaman

Konten.co.id – Financial technology (fintech) ilegal kini semakin banyak. Ada enam kategori tindak pidana yang berhubungan dengan fintech ilegal.

“Pertama, penyadapan data; kedua, penyimpanan data pribadi; ketiga, pengiriman gambar porno dan ini mengarah juga ke pencemaran nama baik; keempat, pengancaman; kelima, manipulasi data; dan yang keenam, illegal access,” terang Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (2/7/2019).

Ia mengatakan enam tipe kejahatan itu dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Hal itulah yang bisa kita jerat dalam pasal-pasal yang sudah terangkum dalam Undang-Undang ITE. Lebih daripada itu, belum ada kami temukan pasal-pasal lain yang bisa menjerat para fintech-fintech ilegal ini,” kata dia.

Pihaknya tidak dapat secara maksimal mengendalikan berkembangnya fintech ilegal. Hal ini terjadi karena hampir sebagian besar server aplikasi fintech ilegal berada di luar negeri.

“Khusus untuk fintech ilegal, kami tak bisa mengantisipasi dengan maksimal karena hampir sebagian besar, banyak server-servernya yang ada di luar negeri. Di Indonesia hanya 20 persen,” ucap Rickynaldo.

Pihaknya menyarankan agar masyarakat tidak menggunakan fintech ilegal.

“Kecuali, fintech servernya di Indonesia. Yang legal dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” katanya.

“Karena salah satu yang jadi syarat pokok adalah memberikan data pribadi, jika kita berikan pada orang yang tak bertanggung jawab, bisa disebar, karena kita mengirimkan foto dan KTP,” terang Rickynaldo.

Fintech ilegal sendiri, kata dia, akan berulah ketika peminjam tak mampu mengembalikan pinjamannya sesuai dengan tanggal jatuh tempo.

“Masalah muncul setelah jatuh tempo lewat itu peminjam gagal bayar. Mulailah muncul tindak pidana yang dilakukan desk collector, kalau di dunia nyata disebut debt collector,” tuturnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *