Militer Myanmar Ingin Musnahkan Muslim Rohingya

Militer Myanmar Ingin Musnahkan Muslim Rohingya

Genosida atau pemusnahan massal dilakukan Militer Myanmar agar tidak ada keturunan muslim Rohingya di Myanmar.

Putuskan Keturunan Muslim Rohingya, Militer Myanmar Lakukan Pemusnahan Massal

Konten.co.id – Misi pencari fakta PBB menemukan fakta bahwa militer Myanmar bermaksud melakukan genosida atau pemusnahan terhadap etnis Muslim Rohingya ketika mereka mengusir ratusan ribu etnis itu pada tahun 2017.

Dalam laporan yang dirilis hari Kamis (22/8/2019), PBB juga mengatakan, pemerintah Myanmar gagal untuk menyelidiki dan menghukum tindakan genosida.

“Kami diminta menyelidiki pelanggaran hak asasi, tanggung jawab dasarnya ada pada Tatmadaw,” kata pakar seorang pakar Radhika Coomaraswamy

Tatmadaw sendiri adalah nama resmi angkatan bersenjata (militer) Myanmar. Diketahui lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar utara, pada Agustus dan September 2017, setelah serangan oleh gerilyawan Rohingya terhadap pasukan keamanan di sana menyebabkan militer melakukan pembalasan. Etnis Rohingya terus mencari perlindungan di kamp pengungsi di Bangladesh, negara tetangga Myanmar.

Misi pencari fakta itu berfokus pada kekerasan seksual dan berbasis gender, yang dilaporkan secara luas oleh para penyintas yang tiba di Bangladesh.

Dari fakta ditemukan Tatmadaw menunjukkan niat untuk melakukan genosida terhadap kelompok minoritas Muslim itu dengan secara sengaja merusak kondisi kehidupan perempuan dan anak perempuan Rohingya yang diperhitungkan akan membawa kehancuran bagi Rohingya secara keseluruhan atau sebagian.

Genosida ini termasuk pembunuhan sistematis dan perkosaan beramai-ramai atas perempuan yang masih subur, dan mutilasi atau perusakan organ seksual mereka. Juga banyak serangan atas perempuan hamil dan bayi.

Kata Coomaraswamy genosida adalah taktik dasar yang dilancarkan oleh militer Myanmar untuk menghukum penduduk sipil etnis Rohingya.

Untuk melaporkan hal tersebut, tim pencari fakta itu juga tidak diizinkan masuk ke Myanmar. Laporannya sendiri disusun berdasarkan wawancara dengan sekitar 300 korban dan saksi-saksi yang berada di luar Myanmar. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *