Menyoal Pemadaman Massal, Manajemen PLN, dan Isu Sabotase

Menyoal Pemadaman Massal, Manajemen PLN, dan Isu Sabotase

Jejak Panjang Pemadaman Massal, Buruknya Manajemen PLN dan Menyeruaknya Isu Sabotase.

Menyoal Pemadaman Massal, Buruknya Manajemen PLN hingga Isu Sabotase

Konten.co.id – Sebagian kawasan di pulau Jawa mengalami pemadaman listrik (blackout) hingga tujuh jam, Minggu siang (4/8/2019). Wilayah terdampak paling parah dari insiden tersebut ialah Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Meski listrik secara berangsur sudah menyala hingga Senin (5/8/2019), beberapa wilayah masih mengalami gangguan.

PLN menyebut, insiden tersebut bermula dari adanya gangguan di SUTET 500 kV Ungaran-Pemalang pada Minggu, (4/8/2019) siang kemarin. Di saat yang sama, listrik di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali masih tetap berjalan normal. Hingga kemudian, pukul 11.48 WIB daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta padam secara serentak. Tak pelak, pelayanan telekomunikasi, transportasi, dan operasional ATM seketika terganggu dan bahkan lumpuh total.

Listrik padam di sejumlah wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten sejak Minggu (4/8), bahkan berlanjut hingga hari ini.

Kasus Pemadaman Listrik seperti ini, bukan Pertama kali Terjadi

Pemadaman listrik dengan waktu lama dan merata bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. Berikut insiden pemadaman massal yang pernah terjadi:

  • Tahun 1997, Listrik di Jawa dan Bali Padam

Kasus listrik padam serupa juga pernah terjadi di Jawa dan Bali pada 1997. Saat itu, butuh waktu cukup lama untuk memulihkan listrik pada.

  • Tahun 2002, Listrik di Jawa dan Bali Padam

Kasus pemadaman listrik juga pernah terjadi pada September 2002. Kala itu, listrik padam selama dua hari. Pemadaman listrik tersebut, saat itu disinyalir terjadi karena adanya kerusakan jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV Jawa-Bali. Satu-satunya jaringan penghubung daya dari PLTU Paiton di Jawa Timur ke Jawa Barat; Jalur Cilegon-Cibinong-Saguling, terganggu.

  • Tahun 2005, Pasokan Listrik Jawa-Bali Putus Mendadak

Pada 2005, listrik padam juga terjadi pada 18 Agustus sekitar pukul 09.00 WIB di Jawa dan Bali. Saat itu, tiba-tiba pasokan listrik wilayah Jawa-Bali putus mendadak. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden saat itu, kemudian merespons insiden ini dengan mengadakan rapat bersama Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Kapolri Jenderal Sutanto, dan Kepala BIN Syamsir Siregar.

Penyebab pemadaman listrik secara serentak itu akibat kerusakan jaringan transmisi SUTET 500 KV Saguling, Cibinong dan Cilegon. Blackout berdampak pada seluruh pulau Jawa dan Bali. Diperkirakan sekitar 100 juta penduduk menjadi korban. Saat itu pemadaman listrik dikarenakan adanya gangguan jaringan transmisi di Cilegon dan Saguling, Jawa Barat. Hal ini membuat listrik mati sampai 7,5 jam. Kegagalan jaringan listrik ini membuat dua unit jaringan listrik PLTU Paiton dan enam unit PLTU Suralaya kehilangan daya listrik hingga mencapai 2.700 Mega Watt.

Akibat kejadian ini seluruh layanan masyarakat lumpuh, jadwal operasi harus diganti, rumah sakit kecil menolak menerima pasien, dan banyaknya kebakaran di Jakarta karena warga lupa mematikan lilin.

  • Tahun 2008 di Wilayah Jawa Timur, Listrik Mati Massal

Peristiwa pemadaman listrik juga pernah terjadi pada September 2008 di wilayah Jawa Timur.

Insiden ini terjadi secara parsial dan hanya wilayah Jawa Timur saja yang mengalami dampak pemadaman. Pada saat itu listrik padam disinyalir akibat ada gangguan di PLTU Paiton.

  • Tahun 2019, Listrik Padam kembali terjadi di Sejumlah Wilayah Jawa.

Direksi PLN menjelaskan, penyebab pemadaman listrik karena ada gangguan pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV. Hal ini mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan. Seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Jawa pun mengalami gangguan.

Sejumlah wilayah yang terkena mati listrik adalah Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat. Di Jawa Barat, wilayah yang terkena pemadaman listrik adalah Bandung, Bekasi, Cianjur, Cimahi, Cirebon, Garut, Karawang, Purwakarta, Majalaya, Sumedang, Tasikmalaya, Depok, Gunung Putri, Sukabumi, dan Bogor. Di Banten, wilayah yang terkena pemadaman listrik adalah Cilegon.

Insiden pemadaman listrik Agustus 2019 di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten ini, bahkan menelan korban jiwa. Untuk diketahui, pemadaman listrik tahun ini dampaknya jauh lebih parah dibanding pemadaman listrik Jawa-Bali 2005 lalu dilihat dari luas wilayah terdampak.

Delapan Kebakaran Terjadi Saat Listrik Mati, 4 Orang Tewas

Ada delapan kebakaran terjadi pada Minggu malam (4/8/2019) hingga Senin dini hari (5/8/2019). Hal ini terjadi karena masyarakat lalai dalam menggunakan lilin ketika pemadaman listrik terjadi. Lokasi terjadinya kebakaran adalah rumah warga di Cilincing-Jakarta Utara, Meruya Selatan-Jakarta Barat, Setiabudi-Jakarta Selatan, Sawah Besar-Jakarta Pusat, Apartemen Ambasador, Penjaringan-Jakarta Utara, Cakung-Jakarta Timur.
Selain itu juga aula sekolah SMK PSKD di Senen, Jakarta Pusat. Kebakaran tersebut mengakibatkan 4 orang tewas yang merupakan satu keluarga pada kebakaran di Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara dan satu orang tewas pada kebakaran di Setiabudi, Jakarta Selatan.

Jokowi ‘Semprot’ PLN

Akhirnya Pemadaman Listrik yang Terjadi di Sebagian Jawa kemarin, Diakui PLN Sebagai Kesalahan.

Sebelumnya, Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat serta Jawa Tengah mengalami mati listrik lebih dari enam jam. Bahkan, hingga Senin pagi ini, masih ada sejumlah wilayah yang belum teraliri listrik secara normal. Minggu (4/8/2019) sore, Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN I Made Suprateka mengatakan bahwa pemadaman listrik ini terjadi karena gangguan pada sistem transmisi.

“PLN memohon maaf atas pemadaman yang terjadi akibat gangguan yang terjadi pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV,” ujar Made melalui keterangan tertulis. “Hal ini mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan dan diikuti trip seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Jawa,” lanjut dia.

Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) Sripeni Inten, Senin (5/8/2019) mengaku pihaknya tidak mengantisipasi adanya gangguan dua jalur sirkuit sekaligus pada sistem penyaluran daya listrik di jalur utara dan selatan.

“Mengenai kalkulasi, kami memiliki ketentuan N minus 1, kemudian emergency-nya adalah N minus 1 minus 1. N adalah jumlah sirkuit, dan dalam sistem yang memasok di utara dan selatan, ada dua sirkuit di utara dan dua di selatan.2,” jelas Sripeni Inten.

Sripeni menambahkan pemeliharaan yang bisa dilakukan terhadap sistem pasok hanya satu sirkuit. Namun pada Minggu (4/8/2019) gangguan terjadi di dua sirkuit pasok sekaligus.

Diketahui terdapat total empat sirkuit jaringan pasok listrik di Jawa dan Bali yakni dua di jalur utara dan dua di jaur selatan. Gangguan di jaringan utara terjadi di jaringan Ungaran-Pemalang pada Kecamatan Gunung Pade pada dua jalur sistem.

Secara otomatis, transfer daya dari timur ke barat sebesar 2.000 megawatt pindah menuju sistem jalur selatan.

“Dan pada waktu pindah dari Ungaran dan ke Pedan dan ke Kasugihan dan Tasikmalaya inilah membuat guncangan dalam sistem dan guncangan ini kemudian secara proteksi, secara pengamanan sistem ini kemudian melepas, dan yang dilepas adalah Kasugihan, Tasikmalaya, kemudian melepas dari sistem sehingga aliran pasokan daya dari timur ke barat mengalami putus,” jelas Sripeni.

Dia menjelaskan pasokan listrik ke wilayah timur masih bertegangan yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Yogyakarta.Tegangan listrik yang turun menyebabkan pembangkit-pembangkit di kawasan barat Pulau Jawa mengaktifkan otomasi proteksi dengan melepaskan arus listrik dari sistem.
Merespon hal tersebut, Presiden Joko Widodo menegur direksi Perusahaan Listrik Negara (PLN) atas kasus ini. Jokowi mengingatkan kasus listrik padam di Jawa dan Bali pada 2002. Terkait hal ini, Presiden Jokowi meminta PLN segera memperbaiki gangguan pada sistem penyaluran.

“Saya tahu peristiwa seperti ini pernah terjadi di tahun 2002 di Jawa dan Bali, mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama jangan sampai kejadian yang pernah terjadi kembali terjadi lagi. Yang paling penting saya minta perbaiki secepat-cepatnya. Beberapa wilayah yang belum hidup, segera dikejar dengan cara apapun agar segera bisa hidup kembali kemudian hal-hal yang menyebabkan peristiwa besar ini terjadi, sekali lagi saya ulang jangan sampai terjadi lagi ” ujar Jokowi saat meminta penjelasan direksi PLN atas pemadaman listrik, Senin (5/8/2019).

Dugaan Sabotase

Polri ikut menginvestigasi penyebab padamnya listrik di hampir seluruh Pulau Jawa dan Bali pada Minggu (4/8/2019) kemarin. Polri ingin memastikan, apakah peristiwa tersebut disebabkan oleh faktor gangguan teknis, kelalaian, faktor alam, bahkan hingga kemungkinan adanya sabotase.

“Yang jelas dicari dulu penyebabnya. Penyebabnya bisa jadi gangguan teknis, kemudian ada human error, kemudian gangguan lain,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019).

Sejauh ini, Polri mendapatkan informasi bahwa peristiwa padamnya listrik di Jawa dan Bali bukan disebabkan oleh sabotase. Pemadaman informasinya disebabkan karena ada gangguan teknis di alur sutet (saluran udara tegangan tinggi) Jawa Tengah. “Dugaan sementara kan ada gangguan di alur sutet Jateng, antara Pemalang dan Semarang. Faktor lainnya akan didalami semuanya,” kata Dedi.

Polri sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh pejabat pada Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri. Tim investigasi ini akan bekerja sama dengan PLN. Dedi memastikan, tim akan bekerja secara hati-hati untuk menyelidiki kemungkinan penyebab padamnya listrik itu.
Kehati-hatian ini dilakukan demi mendapatkan pembuktian secara ilmiah. Sementara, terkait tenggat waktu investigasi, Dedi mengatakan bahwa hal itu akan menyesuaikan kondisi di lapangan. “Sangat tergantung pada tim di lapangan. Proses pembuktiannya masih ditelusuri,” pungkas dia. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *