Menengok Kehidupan Timor Leste Pascareferendum

Menengok Kehidupan Timor Leste Pascareferendum

Pascareferendum di tahun 1999 kini kondisi politik Timor Leste kian membaik.

Menengok Kehidupan Timor Leste Pascareferendum di Tahun 1999

Konten.co.id – Pascareferendum tahun 1999, Timor Leste pada tahun 2002 resmi menjadi negara merdeka dan berdaulat yang diakui secara resmi di dunia. Bagaimana situasi negara termuda di Asia-Tenggara tersebut sekarang?

Mantan presiden Timor Leste José Manuel Ramos-Horta mengatakan kalai Timor Leste kini sangat damai. Tidak ada kekerasan politik. Bahkan tingkat kriminalitas biasa pun sangat rendah.

Tapi pihaknya memiliki tantangan serius dalam mengatasi kemiskinan, terutama soal kekurangan gizi. “Kami belum berhasil di bidang ketahanan pangan, tetapi negara ini berkembang sangat pesat dalam 15 tahun terakhir,” katanya.

Untuk kesehatan, pada sebuah penelitian oleh WHO mengatakan bahwa pada tahun 2018, Timor Leste tidak memiliki lagi kasus malaria yang selama berabad-abad membunuh begitu banyak orang. Dikatakannya, pada tahun 2002, Timor Leste hanya memiliki 19 dokter. Sekarang sudah punya lebih dari seribu dokter.

Terkait dengan hubungan dengan indonesia, ia mengaku Timor Leste dan Indonesia sangat baik. Bahkan, kata dia, tidak ada hubungan sebaik antara Indonesia dan Timor Leste.

Ia menambahkan bukan hanya sekadar hubungan resmi, antara pemimpin, tetapi antar individu.

“Mahasiswa Timor Leste misalnya. Banyak dari mereka yang sekolah di Indonesia. Jika Anda melihat statistik imigrasi Indonesia, kunjungan Indonesia, puluhan ribu orang dari Timor Leste pergi ke Indonesia, setiap bulannya,” katanya.

“Jika Anda pergi ke Timor Leste, Anda juga akan melihat ribuan orang Indonesia, bekerja dan tinggal di sana. Kami pun mengimpor 70% barang kami dari Indonesia. Itu adalah hubungan yang baik dan ini juga tak lepas dari keberhasilan kepemimpinan politik kita,” kata dia.

Pihaknya mempromosikan rekonsiliasi di antara orang-orang Timor Leste, yang terbagi di masa lalu. Kemudian normalisasi dan rekonsiliasi dengan Indonesia.

Terkait intoleransidi Indonesia ia mengaku miris. Ia mengatakan terlepas dari radikalisme yang meningkat, indonesia tetap menjadi negara mayoritas Muslim inklusif paling terbuka.

Indonesia tetap menjadi negara paling demokratis dan terbuka di Asia Tenggara. Dalam pemilu baru-baru ini, beberapa pemimpin politik telah memanipulasi situasi. Ada beberapa ekstremis yang mencoba ‘mencuri’ pemilu.

“Tetapi pada akhirnya, ketika Mahkamah Agung memutuskan Presiden Joko Widodo memenangkan pemilu, Jenderal Prabowo Subianto sebagai penantang menerimanya. Dalam konteks pemilu, bisa saya katakan, demokrasi menang. Jadi saya bisa melihat pemilu di Indonesia sebagai hal yang positif,” ucapnya.

“Ada konfrontasi, ada ketakutan, tetapi demokrasi dan toleransi tetap berlaku di Indonesia. Mereka harus melanjutkan dialog agama, mereka harus mengatasi ketegangan di masyarakat, harus menjaganya dari pengaruh Jamaah Islamiyah, ISIS. Namun secara keseluruhan, Indonesia tetap sebagai negara demokrasi yang berhasil,” tambahnya.

Terkait masalah Papua, ia pun mengaku sedih. Namun ia yakin Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.

“Masalah mereka berasal dari hati, pikiran dan perasaan atau jiwa. Papua memiliki masalah berkaitan dengan perasaan, pikiran dan jiwa, jadi bukan ekonomi yang menjadi permasalahan. Namun Indonesia juga merupakan negara spiritual. Saya rasa Jokowi ingin mengatasi masalah di Papua dalam masa jabatannya. Meski ia sudah mengunjungi Papua berkali-kali, masih belum ada kemajuan dalam mengatasi masalah ini,” ucapnya.

Ia pun mengaku tidak kapok dengan Indonesia. Bahkan ia sangat dekat dengan Indonesia.

Ia mengaku kenal Presiden Jokowi, dan wakil presiden Jusuf Kalla, mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarno Putri, dan banyak orang di pemerintahan dan media.

“Saya kenal banyak jurnalis dan saya adalah teman baik aktris Indonesia Christine Hakim, dia adalah aktris hebat. Saya ingin berkunjung ke Indonesia sesering mungkin,” tukasnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *