Ketika Julaikha Mengakbarkan Yusuf

Ketika Julaikha Mengakbarkan Yusuf

Masa Kinibanyak Manusia banyak mengakbarkan dunia.

Dunia Diakbarkan Bagai Julaikha Mengakbarkan Yusuf

Konten.co.id – Sewaktu kecil kita diceritakan kisah tenntang Yusuf yang super keren. Salah satu penggalan menarik dari kisah itu ialah, ketika Julaikha menyuruh para dayangnya untuk mengiris buah buah pada saat yang sama Yusuf melewati mereka dengan pesona wajahnya yang memukau. Apa yang terjadi kemudian, sontak para dayang istana menatap penuh keakbaran tanpa sadar mereka mengiris jari tanganyan sendiri.

Tentu kisah itu bukanlah dongeng orang-orang terdahulu, karena penggalan kisah itu tersirat dalam qur’an. Tentu juga kisah itu bukan hendak menceritakan sebuah dongeng fantasi Harry Potter atau dongeng ala disney, tapi ada pesan khusus yang termuat dari kisah itu.

Apakah keteledoran itu hanya prilaku para dayang? Apakah Pesona itu hanya milik Yusuf? Apakah cerita itu tak kita alami sekarang?

Tentu kita semua melakukan itu dalam versi yang berbeda. Bukankah kita sering mengakbarkan sesuatu yang membuat kita terlena sehingga kita mencederai diri sendiri.

Bukankah banyak kita saksikan banyak mafia anggaran yang mengakbarkan APBN tanpa sadar memotong nama baik dan keselematanya sendiri, para politisi yang mengakbarkan jabatan, para penjilat yang mengakbarkan presiden, para politisi yang mengakbarkan partai, simpatisan yang mengakbarkan ormasnya, rakyat yang mengakbarkan idola.

Banyak orang yang mengakbarkan tuhan palsu atau “berhala” buatan manusia dengan nama yang berbeda-beda, pada ranah dan level berbeda.

“Falamma roainaahu akbarnaahu, waqoto’na aidiyahuma.” ( maka tatkala kami memandangnya, kami “mengakbarkanya”, dan kami potong tangan kesadaran mereka).

Begitulah pesona materi yang kadang selalu menjadi penghalang bagi kesadaran dan kejernihan memandang sesuatu. Kita terlena dengan sesuatu yang nampak indah, sehingga kita kehilangan kendali pada diri sendiri.

Padahal komitmen kita selalu meangakbarkan Tuhan Sejati bukan berhala. Mengakbarkan Tuhan sang pengatur kosmos tentu dapat menciptakan kesadaran dan nalar kita untuk memandang hidup yang dicipta dengan ilmunya menjadi sebuah hukum hidup yang harus dipahami rasional dan penuh rasa.

Karena kita diberi akal dan rasa untuk dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang menyelamatkan atau mencelakakan kita.

Sejarah mencatat bagaimana Brado menembak Rebecce sang comedian idolanya ditelevisi, gara-gara dia mengabaikannya, hingga nasib Brado berujung di penjara.

Tak sedikit pula cerita supporter yang mati tragis, demi membela tim pujaannya, atau kisah bunuh diri sang selebriti setelah mencapai puncak ketenaran, yang sebelumnya dia dambakan.

Mengakbarkan Tuhan sejati akan linier dengan memahami total alam ini, dan hukum hidup yang terlahir dari ilmu, sekaligus mewakili kekuasaanya. (*)

Oleh : Kundrat Kanda Permana
Editor : Ade Indra Kusuma

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *