Berhentilah Menuntut Hak pada Penguasa. Rebut saja (kalau berani)!

Berhentilah Menuntut Hak pada Penguasa. Rebut saja (kalau berani)!

Sebuah Ode Untuk para Aktivis dan Mantan Aktivis.

Berhentilah Menuntut Hak pada Penguasa. (Kalau Berani, ya) Rebut Saja!

Konten.co.id – Hmmm… Ini pernyataan sederhana, sebetulnya. Tapi selalu menggelitik. Ya, setiap generasi pemerintahan di negeri ini tidak pernah bisa terbebas dari kecaman, tuntutan, struk tagihan janji-janji politik, dan semacamnya.

Euforia kebebasan berpendapat membuat siapapun yang menempati singgasana jabatan politik tertinggi, bisa dipastikan bak duduk di atas pembakaran sate; kursinya panas banget, cuy…

Bayangkan saja. Setiap saat mereka musti berhadapan dengan jutaan kepala berbeda isi. Berjuta kepala, berjuta tuntutan. Sungguh bukan situasi yang nyaman, buat bernafas sekali pun.

Tapi ya begitulah impak dari kontestasi politik yang mereka menangi. Siapa suruh jadi kontestan? Salah sendiri kok menang! betul ? Siapa suruh bikin janji-janji politik ? Siapa suruh bikin kontrak-kontrakkan dengan konstituen ? Siapa yang suruh, coba. Nafsu berkuasa itu ya nggak gratis, bos !

Jelas itu resiko, dan musti diakomodir. Kalau tidak, ya bersiap saja menerima konsekwensi logisnya : dilengserkan paksa, atau digerogoti para drakula parlemen yang haus duit dan kuasa, di sepanjang masa jabatannya. Sanksi politik khas demokrasi liberal. Mau ?

Demikianlah kondisinya. Legenda sekelas Abdurrahman Wahid pun menjadi korban kebiadaban praktek politik seperti ini. Tokoh yang di anggap ‘manusia setengah dewa’ oleh para pendukung fanatiknya ini, di paksa takluk pada para Sengkuni penghuni Senayan.

Gusdur, demikian sapaannya, harus merelakan jabatannya beralih ke tangan Megawati kala itu. Bagi kalangan Aktivis pendukungnya, kejatuhan Gusdur saat itu di anggap sebagai sebuah ‘kemunduran bagi demokrasi dan proses demokratisasi yang tengah berlangsung’.

Meski saya sendiri tidak paham, kemunduran seperti apa ? Tokh, selama dia berkuasa, BBM tetap naik, kok. Demikian pula Tarif Dasar Listrik (TDL). Semua subsidi dikurangi. Ini kalau parameter keberpihakan terhadap rakyat itu adalah ‘tidak menaikkan harga bahan bakar minyak’ dan atau Tarif Dasar Listrik, lho ya.

Dan faktanya, Budiman Sudjatmiko pun sekarang berhasil menjadi salah satu Ketua DPP di PDIP, dan jadi Anggota DPR yang terhormat pula. Kala itu, dalam kapasitasnya sebagai Ketum PRD, Budiman Sudjatmiko beserta PRD-nya adalah pendukung die hard Dekrit Presiden yang dikeluarkan Gusdur.

Jadi, kalo itu dikatakan mundur, lalu di sebelah mana letak kemajuannya ? jika ukurannya beberapa Aktivis berhasil naik kasta jadi anggota legislatif, atau masuk dilingkaran eksekutif, misal.. lalu di mana letak kemundurannya ? Pfiuhh…

Di era Megawati pun demikian. Kabarnya, saat putri sulung Sukarno ini berkuasa, banyak ‘aset rakyat’ yang di jual. Dan jangan lupa, harga BBM pun ia naikkan juga kok. Kapal tanker (yang katanya milik rakyat) di jual, lalu banyak BUMN (milik rakyat juga, katanya) di lego ke pihak asing, dll. Pokoknya, di jaman mbak Mega ini, negara merugi besar! Katanya, lho… ini katanya.

Tapi rakyat seperti saya tidak pernah bisa paham sebetulnya, aset rakyat itu yang mana sih ? Apanya ? Faktanya, yang dijual itu saham. Porsi besar saham. Dan kepemilikan negara pun juga ternyata cuma berupa portofolio di pasar saham ; kepemilikan ‘imajiner’ yang nasibnya di gantung pelaku bursa.

Aset serta keuntungan fisiknya entah milik siapa, kepemilikan rakyatnya di sebelah mana ? profit perbulannya itu lho…. menguap kemana, sob ? Lalu SBY. Jenderal pensiunan yang ketiban untung menjadi populer karena perseteruannya dengan almarhum Taufik Kiemas suami Megawati, selama 2 periode pemerintahannya berkali-kali menaikkan harga BBM.

Tentu saja kalau parameter tadi yang dipakai (meminjam istilah para Aktivis), berkali-kali pula ia (SBY) mengkhianati rakyat ! Tapi nyatanya Mas Andi Arief diem aja ‘kan ? Berarti tidak ada pengkhianatan di situ. Cuma PKI saja yang berkhianat.

Capek lho, bicara soal kebijakan. Di sebut jelek, tapi kok bisa sih, SBY berkuasa selama 2 periode ?

Nah, yang terakhir nih, sudah barang tentu, ya Jokowi. Siapa lagi kalau bukan ? Pada awalnya, bermacam ekspektasi disematkan pada mantan walikota Solo ini. Tokoh yang meroket popularitasnya karena mobil bernama ESEMKA ini, kemudian berhasil meraih tampuk kepemimpinan nasional setelah menjungkalkan Prabowo Subianto dalam Pilpres kemarin.

Tapi siapa sangka, sosok populis yang awalnya di dukung banyak kalangan ini, sebelum Pilpres 2019, survey popularitasnya sempat anjlok hingga 57%! Nah lho.. Ternyata lagi-lagi penyebabnya karena persoalan kebijakan. Banyak yang tidak puas, katanya, dengan kebijakan presiden baru kita ini.

Ia menggebrak 100 hari pertama kepemimpinannya di periode pertama dengan menaikkan harga BBM.

Sudah barang tentu kebijakan ini menohok tajam ulu hati para aktivis pendukungnya ; yang tetap berkesimpulan bahwa efek domino kenaikan harga BBM bakal menyengsarakan rakyat. Padahal, kita semua tahu, ketika masih menjadi Walikota Solo, Jokowi merupakan salah satu pemimpin daerah yang menolak kebijakan SBY menaikkan harga BBM.

Saya sih yakin, soal kenaikan harga BBM, kesimpulan para Aktivis dan mahasiswa itu salah. Buktinya nih, tokoh macam mas Budiman (Sudjatmiko), mbak Rieke (Dyah Pitaloka) atau mbak Dita (Indah Sari), diem aja kok ?

Artinya, soal kenaikan harga ini bukan (lagi) bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Tokoh-tokoh yang saya sebut tadi, dulu adalah penentang keras kebijakan soal BBM ini; jadi kalau mereka diam, saya tegaskan lagi ya, anggap saja pengkhianatan itu tidak pernah ada.

Karena (meminjam istilah teh Rieke), setiap obat itu pasti rasanya pahit. Jadi meskipun pahit buat rakyat, naiknya harga-harga itu adalah obat. Obat apa ? Duh entahlah. Nah lho… rasain lu. Makan tuh obat !

Nah, terkait kenaikan BBM, mungkin obat yang dimaksud mbak Rieke, adalah beralihnya alokasi duit yang selama ini dipakai buat subsidi, ke pos anggaran lain. Apa saja itu? ya silahkan browsing sendiri, lah. Masa musti saya kasih tau juga di sini? Cuma yang pasti, memang hanya di jaman Jokowi ini, harga BBM dari Sabang sampai Merauke, harganya sama. Itu memang poin plus, yang musti antum semua, dan saya juga tentunya, apresiasi.  

Ada yang bilang, Jokowi itu terlalu nunut pada ibu Mega. Ada pula yang menganggap karena ia salah memilih wakil di periode pertama masa jabatannya. Weww ! Ya nggak mungkin ‘lah dia di lepas Mega, atau Wakilnya bukan Jusuf Kalla (JK). “Dalam politik, saya ini dibesarkan oleh ibu (Megawati),” demikian pengakuannya. Jelas sudah, Jokowi mengakui itu. Jadi ya terima saja ibu suri kita itu.

Lalu soal wakilnya. Siapa sih yang bisa menolak JK saat itu? Kucuran duitnya bak air terjun, dan dia mahaguru Surya Paloh. Jelas sudah. Jadi, hapus segera tuduhan miring soal wakilnya ini. Iya dari kepalamu, kawan. Meskipun kopyahnya memang selalu miring, tapi itu ‘kan kebiasaan, lho. Jadi ya biarkan saja, lah bung!

Nah, sekarang Jokowi kembali terpilih, setelah melewati prosesi melelahkan dan menguras tenaga (juga duit) yang tidak sedikit di Pilpres 2019 baru lalu. Hampir bisa dipastikan pula, kursi sepanas pembakaran sate, tampaknya bakal kembali ia duduki. Dan wakilnya sekarang pun, KH. Ma’ruf Amin, tak lepas pula dari kritik. Lagi-lagi, kyai kharismatik ini harus pula merelakan dirinya dijadikan bulan-bulanan kritik. Dan, sama-sama duduk di kursi yang panasnya, itu tadi, sepanas pembakaran sate.

Ya, begitulah. Pendek kata, hampir semua generasi pemerintahan di negara kita ini nilai raport-nya (rata-rata dianggap) merah. Ya nggak apa-apa juga, sih. Pemimpin mana pun, tak bakal ada yang bisa memuaskan semua pihak. Pasti bakal ada saja yang merasa tidak terpuaskan. Wajar. Manusiawi. No body’s perfect, bule-bule bilang. Yakan? Yakan? Iyain aja, lah, biar cepet. Heuheuu… 

Meski, semua subsidi tinggal cerita, dan rakyat akhirnya semakin kebal dengan naiknya harga-harga. Saat fluktuasi dollar meroket hingga menembus angka 15 ribu rupiah pun, rakyat adem ayem saja tampaknya. Entah karena sudah bosan, lalu pasrah menerima nasib. Yang pasti kali ini adem-ayem adalah sikap mereka. Meski akhirnya banyak pula yang kemudian busung lapar, atau mati di lorong-lorong jembatan, atau tergolek lemah di pelataran rumah sakit pemerintah karena tak mampu bayar.

Banyak pula yang bahkan tidak sanggup memakamkan anggota keluarganya yang meninggal karena mahalnya tanah pemakaman. Mayat dibiarkan membusuk berhari-hari di gerobak. Celaka.

Jadi, ya biarkan saja seperti itu, kawan ! Biarkan. Rakyat sudah capek menuntut, jadi janganlah memaksa mereka untuk terus menuntut !

Yang dibutuhkan bangsa ini sekarang adalah Perubahan; ajaklah masing-masing mereka untuk menjadi agen perubahan, sesejati-sejatinya. Organisirlah mereka. Didik-duduk-belajar bersama membangun kecerdasan mereka.

“Mendidik Penguasa dengan Perlawanan; Mendidik Rakyat dengan Bacaan !”. Biar kita – Rakyat – Merdeka Sepenuhnya !. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan