Aktivis Papua Merdeka Luncurkan Buku Soal Konflik Nduga

Aktivis Papua Merdeka Luncurkan Buku Soal Konflik Nduga

Acara peluncuran buku aktivis Papua Merdeka.

Aktivis Papua Merdeka Luncurkan Buku Soal Tragedi Kemanusiaan di Nduga

Konten.co.id – Aktivis United Liberation Movement For West Papua atau ULMWP, Markus Haluk meluncurkan buku berjudul “Konflik Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua”, Selasa (30/7/2019). Buku tersebut juga telah diluncurkan di Jakarta pada pekan lalu.

Haluk menyatakan persoalan yang terjadi di Papua dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, Haluk menegaskan sudut pandang apapun yang dipakai untuk melihat persoalan Papua harus didasarkan kepada fakta dan hasil penelitian yang sahih.

Haluk mengaku meluncurkan buku “Konflik Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua”, agar isinya dapat dikaji oleh seluruh pemangku kepentingan yang terkait krisis kemanusiaan yang sedang terjadi di Nduga.

“Buku ini dapat menjadi acuan untuk melihat bersama persoalan Nduga. Apakah isi buku ini benar dan sesuai dengan apa yang terjadi, ataukah tidak,” kata Haluk, Jumat (2/8/2019)
.
Haluk mengatakan buku “Konflik Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua” menelusuri sejarah kekerasan yang terjadi di Nduga sejak 1977. “Saya sadar, bahwa apa yang terjadi pada bulan Desember 2018 itu bertolak dari rangkaian peristiwa panjang. (Kekerasandi Nduga) pada tahun 1977, tahun 1981, tahun 1996, tahun 2000, tahun 2003, tahun 2015, kemudian tahun 2017 hingga sampai sekarang. Dari pengamatan saya, masyarakat adat di (Nduga) ternyata kenyang dengan penderitaan,” katanya.

Haluk menemukan fakta bahwa Egianus Kogoya, pemimpin kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang membunuh 16 pekerja PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 lalu, lahir di tengah rangkaian kekerasan yang mendera Nduga sejak 1977 itu.

Egianus Kogoya memiliki trauma akibat konflik dan kekerasan yang panjang, sehingga akhirnya mengangkat senjata dan menjadi bagian dari pelaku kekerasan. “Situasi kekerasan di Nduga membuatnya harus angkat senjata,” kata dia.

“Jadi, konflik yang terjadi hari ini adalah bagian dari rentetan perjalanan panjang. Situasi seperti itu tidak hanya terjadi di Nduga namun di hampir semua (wilayah) di Papua. Saya mengulas kondisi itu di dalam buku ini, agar menjadi bahan diskusi,” ujar Haluk.

Ketua Sinode Gereja Kingmi Papua Dr Benny Giay juga meyakini konflik di Nduga hari ini merupakan buah dari rangkaian kekerasan yang terjadi secara terus menerus sejak 1977. “Generasi Nduga hari ini [adalah mereka yang] lahir pada konflik masa sebelumnya, dan sekarang melakukan gerakan untuk menentukan nasib sendiri,” kata Giay.

Giay menyatakan pemerintah pusat seharusnya memakai pendekatan dialog untuk menyelesaikan persoalan di Nduga. Pendekatan keamanan yang saat ini digunakan akan terus menghidupkan rasa trauma masyarakat adat di Nduga, dan pada akhirnya akan melahirkan konflik baru.

Giay meminta Presiden dan kabinetnya membentuk tim yang merintis dialog pemerintah Indonesia dengan ULMWP, dengan dimediasi oleh negara yang netral. “Sebab (pendekatan keamanan) akan membuat masyarakat trauma, seperti sekarang ini,” katanya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *