Susi: MV NIKA Jadi ‘Monumen’ Penegakan Hukum Laut Indonesia

Susi: MV NIKA Jadi ‘Monumen’ Penegakan Hukum Laut Indonesia

MV Nika Jadi monumen penegakan hukum di perairan Indonesia

Menteri Susi Jadikan MV NIKA ‘Monumen’ Penegakan Hukum Laut Indonesia

Konten.co.id – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berenana menjadikan kapal MV NIKA yang dihentikan Kapal Pengawas Perikanan ORCA 3 dan 2 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia di sekitar Pulau Weh pada 12 Juli 2019 sebagai monumen untuk bahan pembelajaran.

“Jadi kami ingin ada kampanye berjalan ke pelabuhan-pelabuhan untuk anak-anak sekolah supaya bisa lihat. Supaya tidak terlupakan bahwa di laut kita banyak kejahatan seperti ini. Untuk mendidik anak-anak bangsa kita juga dan masyarakat dunia juga untuk pembelajaran,” kata Susi, Rabu (17/7/2019).

Menurut Susi mengatakan, selama ini illegal fishing banyak yang tidak terbuka. Sehingga tidak banyak yang tahu literasi mengenai itu. Sebelum menjabat sebagai menteri, kata dia, terdapat lebih dari 10 ribu kapal di laut Indonesia yang melakukan illegal fishing.

“Ada yang kecil, ada yg segede itu, ada yg lebih gede dari ini. Seperti yang ada dua kali ini besarnya, kami kandaskan di Pangandaran, panjang dua kali ini beratnya 1.200 GT,” ujar Susi.

Susi memastikan, kapal MV NICA berbendera Panama tidak akan dikembalikan ke negaranya. Kapal itu, kata dia, akan diproses hukum di Indonesia. Meski, kata dia, negara-negara yang terlibat juga menggelar sidang masing-masing terhadap korporasinya. “Kita juga menuntut sendiri berdasarkan UU Perikanan kita,” kata Susi.

Kapal ORCA 3 dan 2 diketahui menghentikan dan memeriksa MV NIKA, Jumat (12/7/2019) pukul 07:20.

Dalam kapal itu terdapat 18 ABK Warga Negara Rusia dan Indonesia 10 orang. Di dalam kapal terdapat alat tangkap bubu yang berada di luar palka. Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan MV NIKA merupakan buruan International Criminal Police Organization atau Interpol sejak Juni 2019.

Interpol menduga MV NIKA dan FV STS-50 yang ditangkap di Indonesia pada tahun 2018 dimiliki oleh pemilik yang sama. Kapal itu juga diduga memalsukan certificate of registration di Panama yang menyatakan dirinya adalah General Cargo Vessel, sementara MV NIKA diduga melakukan penangkatan dan/atau pengangkutan ikan.

Berdasarkan pemeriksaan oleh Satgas 115 dan PSDKP KKP, MV NIKA sempat mematikan AIS ketika memasuki ZEE Indonesia dan tidak menyimpan alat tangkap di dalam palka, sehingga diduga kuat melakukan pelanggaran UU Perikanan Indonesia.

Menurut Susi penyelidikan akan dilakukan oleh otoritas Indonesia atas dugaan pelanggaran UU Perikanan tersebut. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *