Populasi Cewek Jomblo Rusia Meningkat Tajam

Populasi Cewek Jomblo Rusia Meningkat Tajam

Kesempatan buat para cowok jomblo, populasi cewek single di Rusia meningkat pesat.

Tumbuh Pesat, Cewek Jomblo Rusia Cari Pria Indonesia. Ayo Kejar, Mblo..

Konten.co.id – Rusia memiliki luas 17.125.200 kilometer persegi menjadi negara terluas di dunia. Dengan wilayah luas tersebut ternyata rusia punya jumlah populasi yang tak seimbang. Populasinya justru didominasi oleh jumlah kaum perempuan yang lebih banyak ketimbang kaum laki-lakinya.

Dampaknya sekitar 10 juta kaum wanitanya tidak dan belum menikah alias jomblo. Wah kesempatan banget tuh buat kamu yang juga jones. Hihihi..

Kalian pasti tahu kalau cewek Rusia punya memiliki kulit yang putih, bersih, dan cantik yang tentunya sangat diidamkan oleh banyak pria. Terutama cowok Indonesia. Wow…

Tapi ada pengakuan khusus loh buat cowok Indonesia dari enam perempuan Rusia yang pernah berinteraksi langsung dengan pria Indonesia.

Anastasia Prilipko

Anastasia Prilipko/Instagram

Anastasia Prilipko (23) yang berasal dari Sankt Peterburg ini tengah menempuh studi S2 di Universitas Negeri Sankt Peterburg (SPbGU).

Wanita yang fasih berbahasa Indonesia ini mengaku ketika pertama kali ke Indonesia merasa pria Indonesia sangat sopan. “Sampai sekarang pun saya masih berpikir begitu,” katanya.

Namun tentu saja, selama di Indonesia, ia pernah mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Diceritakannya suatu hari ketika ia sedang berjalan pulang dari kampus, ada seorang pria bermotor yang mencoba berbicara dengannya dengan bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti.

Ia yakin pria tersebut berusaha meminta uang. Ia bilang tidak punya uang, tapi kemudian si pria itu memarkir motornya dan berusaha mencuri iPad milik Anastasia.

Selain itu, saat di Bali, pernah ada dua laki-laki muda yang menepuk bokongnya sambil mengendarai motor, sementara dua orang lainnya mencuri tasnya.

Terlepas dari itu, ia tahu bahwa kebanyakan pria Indonesia sebetulnya sangat baik dan pintar. “Saya bahkan punya teman pria yang mengantar saya pulang saat saya sakit. Dia membawakan saya buah-buahan, obat, dan air,” katanya.

“Saya pikir, perbedaan antara pria Indonesia dan Rusia adalah bahwa mereka (pria Indonesia) lebih pemalu dan sederhana,” ucapnya.

Pada 2015, ia mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan tinggal di Surabaya. Setelah kembali ke Rusia, ia mendapat tawaran kerja di salah satu perusahaan Rusia di Jakarta sebagai penerjemah.

Ia sempat tinggal di Jakarta selama beberapa bulan sebelum akhirnya kembali Sankt Peterburg.

Ia sendiri tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan dengan pria Indonesia. “Saya pernah bertemu beberapa pria muda Indonesia yang terpelajar, berpenampilan menarik, dan memiliki pandangan hidup yang modern,” imbuhnya.

Lagipula, terlepas dari segala perbedaan budaya dan agama perempuan Rusia bisa mempertimbangkan pria Indonesia sebagai pasangan mereka. “Saya tahu beberapa perempuan Rusia yang menikah dengan pria Indonesia dan mereka hidup bahagia.

Di sisi lain, ada juga beberapa pasangan yang akhirnya bercerai, tapi itu bukan karena kewarganegaraan mereka, melainkan karena masalah personal mereka. “Jadi, latar belakang budaya mungkin bisa jadi tantangan, tapi saya pikir pria Indonesia adalah tipe pria yang sangat peduli dan perempuan Rusia bisa hidup bahagia dengan mereka,” tukasnya.

Irina Androva

Irina Adrova/Instagram

Irina (26) mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Itu adalah kedua kalinya ia tinggal di Indonesia.

Pertama kali ia mengenal pria Indonesia adalah ketika berada di pesawat menuju Indonesia. Ia mengenakan baju hangat dan memakai sandal jepit.

“Dia sangat menyenangkan. Ia bahkan memberi tahu saya banyak hal menarik mengenai Indonesia. Setelah tiba di (bandara) Soekarno-Hatta, dia bertanya apakah saya perlu bantuan dan siapa yang akan menjemput saya. Dia bahkan meminjamkan ponselnya supaya saya bisa menelepon. Itu benar-benar mengejutkan dan sekaligus menyenangkan,” kata dia.

“Setelah memastikan bahwa saya akan baik-baik saja, dia pergi,” tambahnya.

Hal itu, lanjutnya satu dari sedikit kejadian ketika seorang laki-laki Indonesia pergi begitu saja tanpa meminta berfoto atau menanyakan akun Facebooknya.

Selain itu, ia punya pengalaman lain. Seorang pria Indonesia mengizinkan Irina dan temannya tinggal di rumahnya selama masa studi di Indonesia, yang saat itu memang tidak ia tempati. Lantaran ia kesulitan menemukan tempat tinggal.

“Saya bisa bilang bahwa orang Indonesia adalah orang paling baik di dunia. Mereka sangat ramah terhadap orang asing yang secara tulus mencintai negara mereka,” tuturnya.

Sebelum itu, Irina juga pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Saat ini, ia tengah menempuh kuliah S2 di Universitas Negeri Moskow (MGU).

“Orang Indonesia juga sering memberikan pujian. Selama di Indonesia, saya sering mendapatkan pujian meski saya pikir itu karena saya “bule”. Namun, pria Rusia memang lebih jarang memuji perempuan,” katanya.

Namun, terlepas dari itu semua, ia pribadi lebih memilih pria Rusia dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. “Biar bagaimana pun, kami punya kesamaan mentalitas, pandangan, budaya, agama, dan gaya hidup. Saya pikir, pria Rusia lebih berpeluang untuk merebut hati saya. Namun tak ada yang tak mungkin,” tandasnya.

Tatiana Gromenko

Tatiana Gromenko/Instagram

Tatiana (24) berasal dari Tver, sekitar tiga jam dari Moskow. Ia lulus dari Institut Negeri Hubungan Internasional Moskow (MGIMO) dan fasih berbahasa Indonesia. Kini, ia tinggal di Singapura bersama suaminya.

Ia mengaku tak begitu mengetahui mengenai pria Indonesia sebelum ia datang ke sana. Namun ia merasa pria Indonesia sama seperti pria mana pun di dunia. Hanya lebih ramah.

“Setiap pria berbeda dan kita tidak bisa menyamaratakan mereka. Namun, saya pikir satu karakter yang hampir dimiliki setiap pria Indonesia adalah keramahan,” terangnya.

Ia mengaku sudah beberapa kali ke Indonesia dan punya banya teman pria di Indonesia. Ia bilang bahwa pengalamannya cukup baik.

Namun, tentu saja ada beberapa kasus “unik” yang pernah ditemui. “Misalnya, mentalitas pria yang berasal dari daerah yang jauh dari perkotaan cukup berbeda dengan saya. Karena itulah, saya pikir akan sangat sulit untuk menjalin hubungan dengan pria semacam ini,” kata dia.

Namun, ia mengaku juga bertemu banyak pria Indonesia yang terpelajar dan punya rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap dunia dan berwawasan luas.

“Saya yakin pria semacam ini punya peluang untuk menarik perhatian gadis-gadis Rusia. Apalagi, menurut saya, pria Indonesia lebih berpikiran terbuka daripada pria Rusia dan tidak malu untuk mendekati perempuan,” terangnya.

Pada 2014, ia berkesempatan mengikuti program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) selama tiga bulan. Setahun berikutnya ia kembali ke Indonesia dan mengikuti program magang di salah satu stasiun televisi swasta.

“Meski begitu, saya sudah menemukan cinta sejati saya. Jadi, saya tidak berharap jatuh cinta pada pria Indonesia mana pun. By the way, saya sama sekali tidak punya anggapan buruk terhadap pria Indonesia. Sejujurnya, ketika saya tinggal di Indonesia, saya tak menutup kemungkinan untuk memiliki pacar orang Indonesia. Bagi saya, ini semua soal kepribadian orang itu, bukan kewarganegaraannya” ucapnya.

Secara keseluruhan, ia percaya bahwa perempuan Rusia harus lebih berpikiran terbuka mengenai peluang ini. Jika belahan hati mereka ternyata adalah seseorang yang berasal dari Indonesia, mereka harus benar-benar mempertimbangkannya.

Maria Mitsura

Maria Mitsura/Instagram

Maria (25) yang berasal dari Cheboksary, sekitar 680 kilometer di sebelah barat Moskow mengaku kurang tertarik dengan pria Indonesia.

Hal ini karena kebanyakan pria yang ia temui kurang sopan. “Ini selalu terjadi setiap saya jalan-jalan keliling Indonesia, dan bahkan di pesawat sekalipun! Tentu saja, ada banyak juga yang baik bahkan kebanyakan teman saya di Jakarta adalah laki-laki, dan mereka berbeda,” katanya.

“Namun, sering kali saya merasa tidak nyaman berjalan sebagai “bule” perempuan di Indonesia. Padahal, kami juga manusia, sama seperti orang Indonesia. Mereka tentu tidak tahu bahwa saya bicara bahasa Indonesia dan mengerti semua yang mereka ucapkan pada saya,” tambahnya.

Perbedaan ini, katanya, hanya ia temui di Indonesia. Bahkan ia melihat banyak orang yang penasaran dengan wanita bule. “Karena itu, saya pikir saya tidak mungkin menjalin hubungan dengan pria lokal. Alasannya sederhana: budaya kita berbeda, agama kita berbeda, dan cakrawala berpikirnya pun berbeda,” imbuhnya.

Kata dia, sangat jarang ada orang yang berasal dari suatu bangsa bisa benar-benar menyatu dan cocok dengan bangsa lain. “Saya sangat mencintai Indonesia. Saya mencintai negara ini sepenuh hati saya. Namun, soal hubungan atau bahkan pernikahan, saya lebih memilih pria Rusia,” tandasnya.

Semasa kuliah, ia pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan belajar di Universitas Indonesia Setelah menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Negeri Moskow (MGU), Maria kembali ke Indonesia dan bekerja di kantor Perwakilan Perdagangan Federasi Rusia di Jakarta hingga kini.

Irina Khatuntseva

Irina Khatuntseva/Instagram

Irina (22) yang berasal dari Kaluga, tak jauh dari Moskow. Pada 2015, ia mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Selama setahun, ia belajar dan tinggal di Yogyakarta.

Sebelum ke Indonesia, ia mengaku sudah tahu kalau pria Indonesia ingin mencari pacar bule.

Tapi ia tidak menyangka mereka benar-benar gigih. Banyak dari mereka yang berusaha mendekat. Dan yang pertama kali mereka tanya adalah apakah Irina sudah punya pacar atau belum.

“Kadang-kadang saya merasa bahwa mereka tidak benar-benar ingin mengetahui orang itu lebih dalam, yang penting orang itu bule. Bagi saya, ini sangat mengecewakan,” terangnya.

Ia mengaku cukup beruntung bisa bertemu laki-laki Indonesia yang cuma mau berteman dan tetap peduli pada saya.

Ia pun menceritakan ada juga pria yang awalnya ingin berteman, namun menyatakan perasaannya. “Ini situasi yang sulit karena Anda tahu bahwa dia sebetulnya teman yang baik, tapi saya tidak mau lebih dari itu. Saya menolaknya dan itu seperti membuatnya sakit hati. Setelah itu, dia tidak mau berkomunikasi lagi,” tuturnya.

Ada juga laki-laki yang pernah mengungkapkan perasaannya. Bahkan pernah jalan-jalan, mengajaknya berkencan, dan sebagainya.

Suatu hari, saat ia pergi berlibur ke Bali. Orang itu tiba-tiba menghilang. “Beberapa bulan kemudian saya baru tahu bahwa ia menikah. Bagi saya, ini aneh. Saya memang tidak punya perasaan apa pun dengan pria itu, tapi tetap saja hal itu aneh,” imbuhnya.

“Terlepas dari itu semua, saya pikir pria Indonesia lebih sensitif daripada pria Rusia. Sementara, perempuan Rusia suka laki-laki yang bermental kuat. Karena itu, saya pikir cukup sulit bagi perempuan Rusia untuk menjalin hubungan atau bahkan menikah dengan pria Indonesia,” katanya.

Ia pikir, secara umum perempuan Rusia lebih cocok dengan orang Eropa. Hanya saja kini Irina memiliki kekasih dari Indonesia. Hal ini karena ia menilai pria Indonesia lebih peduli kepada sang wanita ketimbang pria rusia yang cuek.

Irina sendiri selain fasih berbahasa Indonesia, juga pandai dalam menarikan tarian tradisional Indonesia, seperti Tari Rantak dari Sumatera Barat. Saat ini, ia tengah menjalani kuliah S1 semester VII di Universitas Negeri Moskow (MGU).

Ksenia Dubenko

Ksenia Dubenko/Instagram

Ksenia (21) adalah mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE) Moskow. Dia pertama kali ke Indonesia pada 2015 lalu.

“Sebelum ke Indonesia, saya sama sekali tak punya pengalaman berhubungan dengan pria Asia. Jadi, saya tidak punya ekspektasi tertentu terhadap sikap atau karakter mereka,” katanya.

Ketika ia mengenal pria Indonesia, ia pikir pria Indonesia sangat pemalu, pasif, dan kurang peduli. Namun seiring waktu, pandangan ini berubah. Pria Indonesia sangat peduli, khususnya pada perempuan yang mereka suka, dan selalu siap membantu atau bahkan memberikan kejutan.

“Meski begitu, kadang saya merasa bahwa pria Indonesia bersikap manis karena saya “bule” dan mungkin berjalan-jalan dengan perempuan asing terlihat keren,” katanya.

Beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai tipe kekasih impian, perempuan tercantik, yang tidak seperti gadis-gadis Indonesia lain. “Hanya karena saya orang asing. Padahal, saya tidak sempurna, apalagi dalam menjalin hubungan,” imbuhnya.

“Saya harap orang-orang, khususnya para pria, bisa menghargai saya karena kualitas diri saya, bukan karena warna kulit atau rambut saya. Sering kali pria Indonesia menyampingkan hal semacam ini dan saya tidak menyukai itu,” tambahnya.

Namun, tentu saja, ia mengaku sering bertemu orang-orang yang bisa menjadi sahabat karena punya banyak kesamaan.

“Meski hampir dua tahun berlalu sejak saya ke Indonesia, saya masih berkomunikasi dengan teman saya, Indra. Saya sangat percaya padanya sejak pertama kali kami bertemu,” terangnya.

“Padahal, biasanya saya tidak mudah percaya pada orang asing. Ada juga Agung yang sangat humoris dan berjiwa petualang. Saya benar-benar kagum dengan selera humor dan wawasannya,”.

Sebetulnya, menurutnya, pria Indonesia lebih lembut daripada pria Rusia. Laki-laki Rusia biasanya lebih kaku “tidak” berarti “tidak”, dan “ya” berarti “ya”. Sementara, pria Indonesia lebih bisa berkompromi dalam membuat keputusan.

Selain itu, pria Rusia lebih terbuka dan emosional. Mereka seperti buku yang terbuka. “Anda bisa atau setidaknya berusaha mengerti pola pikir mereka. Sementara, pria Indonesia agak sulit ditebak.”

“Mereka selalu terlihat tenang dan merasa semuanya akan baik-baik saja. Di Rusia, tidak seperti itu ekspresi wajah dapat memberikan gambaran apa yang ada di pikiran seorang pria,” kata dia.

Ia ke Indonesia setelah mendaftar program magang sebagai guru Bahasa Inggris di SMA Don Bosco Semarang. Kegiatan itu merupakan bagian dari program AIESEC Global Citizen.

AIESEC sendiri merupakan organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan pemuda.

“Saya percaya pada hubungan beda negara. Namun, saya pribadi tak mau punya “keluarga internasional”. Bagi saya, keluarga yang kuat dibangun oleh latar belakang sosial dan budaya yang sama”

“Menjalin hubungan beda budaya perlu kerja keras. Masing-masing pihak harus mengerti satu sama lain, khususnya ketika kita bicara soal keluarga,” terangnya.

Di Rusia, lanjutnya, ada peribahasa, “Suami dan istri adalah satu setan.” Yang artinya suami dan istri menjalani kehidupan yang sama atau dua individu jadi satu.

Mereka punya tujuan yang sama, nilai-nilai yang sama, dan latar belakang yang sama. Rusia dan Indonesia sama-sama punya budaya yang unik. “Karena itu, ketika menjalin hubungan, saya pikir kita akan menghadapi tantangan yang cukup besar akibat perbedaan budaya,” katanya.

Namun, tentu saja, jatuh cinta adalah hal yang menyenangkan. Mencintai dan dicintai. Jika cinta bisa memberikan emosi yang positif, kebahagiaan, dan ketenangan, masalah beda kewarganegaraan tak perlu masuk dalam daftar teratas hal yang perlu dikhawatirkan. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *