Pandangan Islam Soal Gerhana Bulan

Pandangan Islam Soal Gerhana Bulan

Begini pandangan Islam soal Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Menurut Pandangan Islam

Konten.co.id – Gerhana Bulan Sebagian atau gerhana parsial akan bisa diamati di wilayah Indonesia, Rabu (17/7/2019).

Gerhana akan mulai pukul 03.01 WIB dengan puncak gerhana 04.30 WIB dan gerhana berakhir 06.11 WIB. Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam pada Kementrian Agama Muhammad Amin pun mengajak kepada umat muslim untuk melakukan berbagai sunah dan kewajiban pada saat gerhana bulan.

Salah satunya adalah melakukan shalat gerhana. Shalat gerhana merupakan shalat sunnah muakkadah sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Nabi Muhamad SAW :

Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata,”Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW bait@ pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi). Kemudian orang-orang berkata,’Tejadinya gerhana matahari itu karena wafatnya Ibrahim. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dun bulan itu tidakgerhana karena wafatnya seseorang dun tidak karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat (kejadian gerhana), maka shalatlah dun berdoalah kepada Allah. (Shahih Al-Bukhari, I:228 No.1043).

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita tuntunan syariat yang mulia ketika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, antara lain :

1.Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana matahari dan bulan, karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiarnat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.

2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi Muhammad SAW dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat kusuf, Rasulullah SAW diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka, bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka.

3. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai shalat gerhana, beliau bersabda, ” Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dun banyak menangis.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

4. Menyeru dengan panggilan ‘ilsshalaatu Jaami’ah”. Maksudnya adalah panggfian untuk melakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyerukan “Ashshalaatu Jaami’ah” (HR Abu Daud dan Nasa’i) Tidak ada azan dan iqamah dalam pelaksanaan shalat gerhana. Karena adzan dan iqamah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.

5. Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal ini dilakukan Rasulullah SAW dalam shalat gerhana (HR. Muttafaq alaih).

6. Shalat gerhana sunah dilakukan di masjid secara berjamaah. Rasulullah SAW selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/323).

7. Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asma ikut shalat gerhana bersama Rasulullah SAW. (HR. Bukhari).

8. Disunahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW dalam shalat gerhana memanjangkan bacaannya. (HR Muttafaq alaih). Namun hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.

9. Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad SAW bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah (HR. Nasa’i).

Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat Jumat Sebagian ulama menganggap tidak ada sunah khutbah selesai shalat, akan tetapi petunjuk hadits lebih menguatkan disunahkannya khutbah setelah shalat gerhana.

Dianjurkan memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa, bertakbir, serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.

Adapun tatacara shalat Gerhana sebagai berikut :

a Berniat di dalam hati. Adapun jika dilafazkan: Artinya: “Aku niat shalat sunnah gerhana bulan dua raka’at menjadi (imam/ma’mum) karena Allah Tabla”

b. Takbiratul ihram yaitu bertakbir setelah niat sebagaimana shalat biasa;

c. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat A1 Fatihah dilanjutkan membaca ayatlsurat dengan jahr (dikeraskan suaranya) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi SAW. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901);

d. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya;

e. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal);

f. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat A1 Fatihah dan ayat/surat Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;

g. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;

h. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal);

i. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;

j. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;

k. Salam;

Setelah itu imam menyampaikan khubah kepada para jama’ah yang berisi anjuran meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta memperbanyak amal shaleh, bersedekah, dan meningkatkan kepedulian sosial. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *