Netizen Ramai-ramai ‘Gruduk’ Anggota Komnas Perempuan

Netizen Ramai-ramai ‘Gruduk’ Anggota Komnas Perempuan

Anggota Komnas Perempuan digruduk netizen gegara pernyataan kontroversialnya

Anggota Komnas Perempuan ‘Digruduk’ Netizen. Kenapa?

Konten.co.id – Pernyataan Anggota Komnas Perempuan Adriana, soal memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual adalah pemerkosaan atau marital tape, mendapat respon.

Seperti dicuitkan akun @Neger1_parodi. Didalam cuitannya, akun tersebut menulis “Komnas Perempuan: Memaksa Istri Berhubungan Badan Termasuk Pemerkosaan ———– Ok..Kalau gitu, memaksa suami memberikan uang belanja termasuk pemerasan.”

Hal ini juga direspon langsung oleh netizen. Sebagian besar mengecam apa yang disampaikan Komnas Perempuan. “Lah..klo bini kagak mau..lelaki bisa cari wanita lain bu… Tambah ancur bu..” ucap akun @FenniRossa.

Hal senada dikatakan akun @dangjuna1 “Maka nafkah istri dari suami juga suka suka”

Sementara akun @inayyaputri72 mencuitkan kalau apa yang dilakukan suami untuk meminta hubungan badan itu adalah demi kebaikan. Apalagi jika istri duluan yang meminta akan mendapat pahala besar.

“Koplak,,, kalau istri yg mengerti agama itu tidak perlu di paksa, tapi meminta lbh dulu itu pahalanya besar bangettt… Klu suami sampai maksa itu istri yg bodoh” cuitnya.

Sebelumnya Komisioner Komnas Perempuan, Adriana mengatakan, memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual adalah bentuk pemerkosaan terhadap istri atau lebih tepatnya marital rape.

Marital rape sering disebut kekerasan seksual. Marital Rape adalah hubungan seksual antara pasangan suami istri dengan cara kekerasan, paksaan, ancaman atau dengan cara yang tidak dikehendaki pasangannya masing-masing.

Menurutnya, kekerasan seksual juga masuk ke dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( KDRT). “Jadi KDRT itu dia memaksa istrinya untuk melakukan sesuatu tapi dia tidak mau. Itu bentuk pemerkosaan atau kekerasan seksual pada perempuan ekstrem yang dapat berakhir kepada kematian,” ujar Adriana, Senin (8/7/2019)

Ia mengatakan, seorang istri bisa saja menolak suami apabila menolak melakukan hubungan suami istri dengan alasan tertentu. “Bisa saja istrinya lagi sakit atau ada alasan khusus lainnya yang membuat tidak bisa melayani suaminya, itu hal yang sah dalam rumah tangga,” ujar dia.

Menurutnya, pemerkosaan dalam perkawinan suatu hal yang sering kali dianggap sepele oleh berbagai pihak. Sebab beberapa orang yang jadi korban pemerkosaan dalam rumah tangga jarang sekali melapor ke pihak kepolisian.

Bahkan menurutnya, kadang polisi juga seringkali menyepelekan kasus pemerkosaan terhadap istri.

“Kasus ini terkadang dianggap sepele padahal sebenarnya ini kasus yang penting, sayangnya korban tidak menganggap itu bentuk pemerkosaan yang dilakukan suaminya,” ujar Adriana.

“Mereka (polisi) mengira kasus pemerkosaan itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” jelasnya.

Padahal, kekerasan seksual ini bisa mengakibatkan trauma fisik dan emosional pada korban. Selain itu, ini juga menjadi suatu hal yang menakutkan bila kekerasan seksual yang dilakukan ibunya diketahui sang anak.

“Ini bisa menjadikan trauma mendalam baik itu bagi anaknya maupun bagi korban ya. Ini akibatnya bisa berkepanjangan entah anaknya jadi memiliki karakter emosional atau bisa saja anaknya akan jadi seperti pelaku,” kata Adriana. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *