Korban Pinjaman Online Berjatuhan

Korban Pinjaman Online Berjatuhan

Pinjaman online marak dan merugikan banyak orang.

Pinjol Merajalela, Banyak Korban Berjatuhan

Konten.co.id – SM warga Sukoharjo dan AZ Warga Karanganyar menjadi korban penipuan pinjaman online melalui aplikasi.

Pengacara LBH Solo Raya Tur Murniningsih mengatakan kedua korban pada awalnya SM yang pinjam melalui tekfin online sebanyak Rp5 juta, namun karena terlambat beranak-pinak menjadi menjadi Rp70 juta dalam tempo waktu selama 2 bulan.

Sedangkan AZ yang meminjam uang Rp2 juta berbunga kemudian menjadi Rp10 juta dalam tempo satu bulan. “SM dan AZ awalnya belum bisa membayar, dan akhirnya juga diteror sama seperti korban sebelumnya YN warga Solo,” kata Tur, Senin (29/7/2019).

Pihaknya pun mendatangi ke Polresta Surakarta untuk menyerahkan bukti tambahan untuk korban YN, sedangkan dua korban lainnya ini, akan dijadikan saksi, sedangkan bukti tertulisnya berupa screen shoot video dari handphone-nya.

“Rekaman yang akan dijadikan barang bukti itu, suara percakapan saat penagihan utang terhadap korban,” kata Tur.

Pengacara LBH Solo Raya lain, Made Ridho Ramadhan, menambahkan korban perusahaan layanan tekfin pinjaman online sebenarnya ada tujuh orang termasuk YN, SM dan AZ.

Empat korban lainnya, kata dia, sebenarnya sudah melaporkan untuk pendampingan bantuan hukum ke LBH, tetapi mereka belum bersedia untuk dipublikasikan.

Untuk mengatasi masalah ini pihaknya membuka Posko untuk pengaduan korban pinjaman online (pinjol), dan masyarakat dipersilahkan yang akan mengadukan ke LBH Solo Raya, di Sentral Niaga Solo Baru Sukoharjo.

Sementara YN (51) warga Solo, Jateng yang menjadi korban pencemaran nama baik yang dilakukan oleh perusahaan layanan tekfin pinjaman online membantah berita soal dirinya yang sudah menjadi viral di media sosial itu.

Pengacara LBH Solo Raya Gede Sukadenawa Putra mengatakan semua informasi soal YN yang diviralkan itu, bohong atau hoaks. Pihak pelayanan tekfin ternyata ada tendensi pencemaran nama baik, atau pelecehan terhadap kehormatan wanita, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Pihaknya pun sudah melaporkan kejadian ini kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Menkominfo, Hukum dan HAM, dan Yayasan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI), termasuk ke Polresta Surakarta.

“Jadi semua kami tembusi agar masalah ini, bisa terungkap dan klien kami tidak benar menawarkan diri seperti dalam viral itu. Klien kami tidak benar bahwa dirinya menawarkan diri seperti yang diberitakan di media sosial itu,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap para pinjaman online ke depan dapat ditindak oleh aparat yang berwewenang. Bahkan, yang memaparkan atau menyebarkan itu, harus dicari untuk ditindak pidana sesuai proses hukum yang berlaku. Karena, mereka telah memaparkan pencemaran nama baik dengan menyebar luaskan berita bohong. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *