fbpx

Kisah Manager yang Merangkap Jadi Pedagang Asongan

Kisah Manager yang Merangkap Jadi Pedagang Asongan

Manager Fundrising ini, merangkap jadi pedagang asongan. Kok bisa?

Kisah Manager Fundrising yang Setiap Pagi Jadi Pedagang Asongan di Bis

Konten.co.id – Banyak orang memilih pekerjaan karena penghasilan besar. Tapi tidak dengan Rudi Suparno.

Ia memilih menjadi pedagang asongan menjajakan pulpen ke penumpang bus karena asyik beramal. Ia beramal untuk pekerjaan utamanya sebagai Manager Fundrising di Lazismu Bojonegoro. “Saya mempunyai penghasilan sekitar Rp 100 ribu per hari. Tapi saya berbahagia karena bisa menolong umat melalui Lazismu,” katanya, Selasa (16/7/2019).

Diketahui orang-orang di Terminal Rajekwesi Bojonegoro biasa memanggilnya Rudi Pulpen. Dia biasa terlihat di atas bus Bojonegoro-Babat menjajakan pulpen ke penumpang di pagi hari. Dia mengasong di bus antara pukul 05.00-09.00 WIB.

Selepas itu dia pulang menjalankan tugas sebagai amil Lazismu Bojonegoro. Di luar tugas itu dia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah Cabang Mantingan.

Rudi bercerita awalnya ia ‘ngasong’ kotak infaq sejak tahun 1999 diatas bus dengan rute Ngawi-Sragen. Kotak infaq tersebut miliki panitia pembangunan masjid desa di Mantingan, Ngawi.

Usai naik turun bus, setiap sore kotak infaq disetorkan ke panitia untuk dibuka kuncinya. Panitia memberi upah sekitar Rp 30 ribu. Setelah pembangunan masjid selesai, Rudi tampaknya ketagihan menjadi pedagang asongan di bus jalur itu. Apalagi susah mencari kerja.

Upah dari mengedarkan kotak infaq digunakan untuk modal membeli permen dan pulpen yang ia tawarkan ke penumpang bus rute Ngawi –Sragen. Selain bus jurusan ke Barat, dia juga menjajakan di jurusan Bojonegoro-Babat.

”Pada saat itu sehari bisa untung bersih Rp 50 ribu,” tuturnya.

Selama menjadi pedagang asongan, Rudi pun punya banyak suka duka. Salah satunya Rudi bisa menemukan jodoh, seorang gadis manis asal Desa Jatigede Kecamatan Sumberjo Bojonegoro bernama Rini Indayati.

Setelah menikahi Rini, dia pindah ke Bojonegoro. Dari perkawinannya, kini dia mempunyai dua orang anak yakni Dito (13) dan Rizky (9).

Rudi mengaku aktif di Lazismu saat menjadi asongan pulpen. Suatu ketika, dia membaca baliho Lazismu Bojonegoro yang terpasang di jalan raya. ”Saya telepon nomor Lazismu yang tertera dan saya membuat janji untuk bertemu dengan sekretaris Mas Ansorul Hakim. Itu terjadi bulan September tahun 2016,” kenangnya.

Beberapa bulan kemudian, Rudi dipanggil Lazismu Bojonegoro untuk mengikuti pelatihan fundrising Lazismu Jatim di Pasuruan. Setelah pelatihan ternyata belum ada tugas. Baru bulan November, dia dipanggil diterima menjadi amil untuk mencari donatur.

Berdasarkan pengalaman menjadi asongan di Mantingan, Rudi ikut mengembangkan Lazismu di Bojonegoro. Dengan gaya keberanian asongan dia mampu menembus semua lini. Mulai amal usaha, majelis dan pasar-pasar.

Kini Lazismu Bojonegoro sudah mempunyai mobil ambulance dan mobil jenasah. Ia pun dipercaya menjadi Manager Fundrising Lazismu. ”Ini hasil kerja tim Lazismu. Baik yang di kantor maupun di lapangan,” katanya.

Saat ini ia punya cita-cita agar Lazismu bisa besar. Karena dengan besarnya Lazismu akan banyak membantu masyarakat miskin. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video