fbpx

Kisah Ahmad Mudholin, dari Panti Asuhan Hingga Jadi Dirut

Kisah Ahmad Mudholin, dari Panti Asuhan Hingga Jadi Dirut

Kisah hidup anak panti asuhan yang sukses jadi dirut sebuah bank.

Kisah Ahmad Mudholin, dari Panti Asuhan Hingga Menjadi Dirut Bank

Konten.co.id – Hebat dan luar biasa. Mungkin itulah ungkapan yang tepat bagi Akhmad Mundholin, penghuni panti asuhan yang kini menjadi Direktur Utama Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan (BPR BKK) Kendal, Jawa Tengah.

Apa yang Mundholin capai saat ini tentu tidak mudah. Selain membutuhkan perjuangan dan kesabaran, perlu juga untuk banyak berdoa kepada Tuhan.

Bapak tiga anak yang kini tinggal di Desa Pidodo Kulon, Patebon, Kendal, ini menceritakan bahwa masa kecilnya sangat sulit dilalui. Sewaktu umur 2 tahun, ia sudah harus menjadi anak yatim. Sebab, ayahnya meninggal dunia.

Saat itu, kehidupan ekonomi keluarganya benar-benar memprihatinkan. Bahkan, untuk makan saja, keluarganya masih bergantung dari bantuan tetangga yang dermawan. “Hidup kami sangat susah,” kata Mundholin, Sabtu (27/7/2019).

Untuk menghidupi 8 orang anak, ibunya bekerja sebagai penarik karcis pedagang pasar. Lantaran gajinya tidak cukup untuk menghidupi 8 anaknya itu, ibunya mencari pendapatan tambahan dengan bekerja sebagai tukang sapu di Pasar Pidodo Kulon.

Selepas menamatkan sekolah dasar, anak ketujuh dari 8 bersaudara tersebut dilanda kebingungan. Sebab, ia ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

Untuk meneruskan ke SMP, ibunya sudah tidak memiliki biaya. Suatu saat, ada tetangganya yang menawari Mundholin untuk masuk ke panti asuhan agar ia bisa meneruskan sekolahnya.

“Tetangga saya itu pengurus panti asuhan,” jelasnya.

Di panti asuhan dirinya dididik mandiri. Ia harus mulai mencuci baju sendiri, merapikan kamar, bersih-bersih, menyapu, mengepel hingga memasak sendiri.

Mundholin pun akhirnya bisa masuk SMP. Dengan jarak mncapai 7 kilometer ia harus berjalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah. “Kadang bonceng teman yang memakai sepeda onthel. Kalau tidak ada boncengan ya terpaksa jalan kaki,” kata Mundholin.

Demi cita-citanya supaya bisa sekolah tinggi, Mundholin tetap menjalani kehidupannya dengan penuh semangat, meskipun di sekolah ia sering dipandang sebelah mata oleh teman-temannya karena status sosialnya sebagai anak panti asuhan.

Tapi tidak ia pedulikan. “Saya menjadi salah satu anak yang pandai. Teman-teman saya mulai mengakui saya. Bahkan saya ditunjuk oleh guru kelas sebagai ketua kelas,” lanjutnya.

Lulus SMP, Mundholin melanjutkan ke SMA. Jarak sekolahnya dengan panti sangat jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan jalan kaki.

Akhirnya, dia dititipkan untuk tinggal di panti asuhan di Weleri. Jaraknya lebih dekat dengan sekolah.

Bebeda dengan panti asuhan lamanya, di tempat baru tersebut memiliki aturan yang lebih ketat. Namun, aturan itulah yang membuat Mundholin merasakan betul manfaatnya hingga sekarang.

Hingga kini ia dikenal sebagai orang yang tidak mudah mengeluh, pekerja keras, ulet, telaten, sabar, dan pantang menyerah. “Selepas SMA, saya mulai kerja di BPR di wilayah Kecamatan Gemuh. Saat itu, saya menjadi petugas desa yang bekerja dari kantor balai desa satu ke balai desa lainnya,” kata Mundholin.

Lantaran ketekunan dan kejujurannya tersebut, kariernya sebagai karyawan BPR terus meningkat. Sebagian uang pendapatannya ia sisihkan untuk membantu ibu dan membiayai kuliahnya di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) 1945 Semarang.

Setelah lulus kuliah dan meraih gelar sarjana, ia dipercaya menjadi Wakil Direktur BPR BKK Kendal.

“Alhamdulillah, sekarang saya sudah dua periode ini menjabat sebagai Direktur BPR BKK Kendal dan saya juga sudah lulus S2 atau Magister Menejemen,” kata Mundholin.

Sukses menjabat sebagai Direktur BPR BKK Kendal, Mundholin tidak lantas lupa akan asal usulnya. Ia pun sebisa mungkin ia membantu anak-anak yatim dan panti asuhan. Salah satunya, dengan menjadi donatur.

Mundholin ingin memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Sebab, dirinya merasakan sendiri bagaimana susah dan sedihnya menjadi anak yang tidak memiliki orangtua.

Di samping itu, dirinya juga ingin panti asuhan membuat usaha mandiri. Misalnya, usaha fotokopi dan penjualan alat tulis kantor (ATK). Tujuannya agar panti asuhan bisa mandiri dan tidak terlalu bergantung pada bantuan.

“Saya adalah anak yang merasakan bagaimana panti asuhan itu begitu sabar mendidik dan merawat anak-anak yatim. Paling tidak, dengan bisa meringankan beban pengurus panti asuhan,” tuturnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video