fbpx

Kerugian PT. Krakatau Steel Capai 10 Triliun

Kerugian PT. Krakatau Steel Capai 10 Triliun

PT. Krakatau Steel bukukan kerugian hingga 10 Triliun.

Kerugian PT. Krakatau Steel Dikabarkan Hingga 10 Triliun

Konten.co.id – PT Krakatau Steel dikabarkan merugi. Komisaris Independen Krakatau Steel Roy Maningkas menilai Proyek blast furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah

Jika dilanjutkan proyek ini akan mengalami kerugian sekitar Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Sedangkan jika dihentikan, maka perseroan akan kehilangan uang sekitar Rp10 triliun.

Pasalnya, sejak dimulai pada 2011, perseroan sudah mengeluarkan uang sekitar USD714 juta atau setara Rp10 triliun. Angka ini mengalami pembengkakan Rp3 triliun dari rencana semula yang hanya Rp7 triliun.

Dewan Komisaris PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyayangkan keputusan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memaksakan pengujian blast furnace ini untuk selesai hanya dalam waktu dua bulan. Padahal, ada banyak item yang harus diuji kehandalan dan keamanannya.

Akibat kerugian itu, Komisaris Independen PT Krakatau Steel Roy Maningkas pun mengajukan surat permohonan pengunduran diri sebagai Dewan Komisaris kepada BUMN sebagai pemegang saham. Surat pengunduran diri ini pun sudah disetujui oleh Kementerian BUMN lewat pesan singkat Whatsapp.

Pengunduran diri secara resmi akan beralaku 30 hari sejak hari ini. “Sudah disetujui oleh pak Fajar (Deputi BUMN) 30 hari terhitung sejak pengajuan surat diterbitkan,” ujarnya.

Roy mengatakan, pada hari ini permohonan pengunduran diri disampaikan kepada Sekertaris Kementerian BUMN. Pasalnya, surat yang semula akan disampaikan lagi pada Menteri BUMN ini ternyata Rini sedang tidak ada di kantor.

Ia mengaku mengundurkan diri karena proyek Blast Furnance yang dipaksakan untuk selesai dalam waktu dua bulan saja. Padahal menurutnya, ada banyak item yang harus diuji terlebih dahulu sebelu benar-benar dioperasikan.

Dikatakannya BUMN memerintahkan hanya dilakukan pengujian dua bulan karena tiga hal. Alasan pertama adalah jangan sampai adanya temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Poinnya saya saya enggak tahu proyek Blast Furnance itu bisa dilanjutkan atau tidak,” ucapnya.

“Enggak punya pengalaman. Sekarang mereka berproduksi dengan membuang gas holdernya ke udara. Artinya ada satu tekanan pokoknya jadi dulu dah urusan mah belakangan,” ujarnya.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, proyek blast furnace menjadi pekerjaan rumah (PR) perusahaan yang harus dibereskan ke depannya.

“Itu PR Masa lalu yang saya sedang bereskan,” ujarnya. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video