fbpx

Kebebalan kok Dilawan dengan Cara yang Absurd?

Kebebalan kok Dilawan dengan Cara yang Absurd?

Menyoal bahaya populisme dan absurditas kaum postmo

Imam Besar Pidi Baiq, Kebebalan kok Dilawan dengan Cara yang Absurd?

Konten.co.id – Sekarang ini, media nyinyir dan mereka yang terobsesi dengan kenyinyiran, sama menyeramkannya dengan media hoax dan orang-orang yang terobsesi berita hoax.

Yang satu memelihara kemunafikan; membiarkan orang saling sindir dan membicarakan keburukan dengan cara-cara pengecut. Satunya lagi, memelihara kebohongan; membiarkan orang menjadi semakin bebal dengan informasi yang tidak dapat di verifikasi kebenarannya.

Keduanya tumbuh subur di era populisme seperti sekarang. Dimana pencitraan adalah koentji. Saat dimana orang sudah enggan untuk melakukan perdebatan secara terbuka dan head to head; beradu argumen dengan berani.

Berbasis data, fakta maupun bukti. Lebih gemar beradu argumen penuh retorika. Tentu saja subjektif, dan celakanya nggak substantif.

Era dimana banyak mantan aktivis yang ‘pintar-pintar’ itu, sudah tak lagi dapat memahami makna dari quotes motivatif bagi orang miskin macam “teruslah bekerja, dan berhenti berharap pada negara.” Padahal ini quotes maqomnya Satir, satu atau dua level diatas Nyinyir.

Saat dimana orang sudah tidak bisa lagi membedakan mana kritik dan protes terhadap ketidak-adilan, serta mana keluhan. Era dimana orang-orang (yang mengaku) pintar, tidak bisa lagi membedakan mana harapan (objektif) terhadap negara, dan mana sikap (subjektif) bermanja-manja terhadapnya.

Era yang penuh dengan kebohongan dan kepengecutan. Kebohongan dan kepengecutan adalah sumbu konflik. Populisme memberi keduanya peluang untuk tumbuh subur, kemudian menjadi industri. Karena sama-sama menggiurkan secara profit.

Kebohongan dan kepengecutan sebagai komoditi kemudian diindustrialisasi. Karena memang pada dasarnya kapitalisme adalah banci, lagi-lagi atas nama akumulasi modal semua cara dihalalkan.

Konflik horizontal yang terjadi sekarang, harus diakui, salah banyaknya disebabkan oleh media dan manusia-manusia macam ini. Ormas-ormas bengal itu tidak bakal dapat lepas dari sikap konservatifnya selama ini, kalau media tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Lagi-lagi mari kita merujuk kepada Undang-Undang Kemerdekaan Pers No. 40 Tahun 1999. Dimana berdasar Undang-undang, tugas media penerbitan pers adalah memberikan Informasi, Edukasi dan Hiburan bagi publik.

Tentu saja, ‘mass media’ yang gemar memproduksi hoax dan kenyinyiran adalah musuh bersama.. Sekali lagi, kebohongan (media) dan kepengecutan (media) seperti itu, adalah satu diantara sekian banyak sumbu konflik.
Dan Imam Besar Pidi Baiq, kali ini kami mungkin harus berseberangan dengan sikap absurd anda selama ini.

‘Melawan’ dengan cara ‘ngepop’ ala kaum postmo – kaum menengah ngehek, hanya bakal menghasilkan ‘absurditas berjamaah’.

Mari bersikap tegas. Karena pencerahan – terhadap siapapun – mustinya menghasilkan sikap yang maju dan berlawan. Bukan sikap absurd yang nihilis. Itu tugas kita bersama, (yang mungkin) sudah memiliki kesadaran maju. Kebebalan kok dilawan dengan cara-cara absurd.

Tabik, kumendan. (*)

Penulis : AI & IGR

Editor : IGR

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video