fbpx

Gerakan Berbagi Nasi: Menelisik Empati Sosial Generasi Millennial

Gerakan Berbagi Nasi: Menelisik Empati Sosial Generasi Millennial

Liputan khusus mengenai ‘Gerakan Berbagi Nasi’, yang tengah marak di kalangan muda milenial perkotaan.

Menelisik Empati Sosial Generasi Millennial dalam Gerakan Berbagi Nasi

Konten.co.id – Barangkali ada diantara anda yang sudah pernah mendengar tentang Gerakan Berbagi Nasi, atau disingkat Bernas? Ya, betul. Gerakan yang mulai digulirkan sejak 24 Juli 2012 lalu ini, sekarang sudah merambah 65 kota di Indonesia. Diantaranya Bandung, Jakarta, Tasik, Solo, Jogja, Semarang, Garut, Surabaya, Batam, Pontianak, Palu, Toli-toli, Makassar dan Lampung.

Nah, kali ini, redaksi Konten.co.id berkesempatan untuk melakukan wawancara khusus dengan Danang Nugroho, Founder Gerakan Berbagi Nasi Indonesia. Selamat membaca.

  • Apa Itu Berbagi Nasi ?

Inisiasi Gerakan Berbagi Nasi, berawal dari skripsi Danang Nugroho, sang founder, saat menyelesaikan studi S1-nya di Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung.

Bagi pria berusia 37 tahun yang baru saja menyelesaikan studi S2 Magister Bisnis Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan tema penelitian Social Entrepreneurship ini, Berbagi Nasi adalah gerakan nyata.

“Berbagi Nasi merupakan sebuah gerakan yang datang dari hati, tanpa ada paksaan. Ini gerakan moral yang nyata. Tidak bertendensi SARA, apalagi kecenderungan afiliasi politik tertentu,” katanya, dalam keterangan tertulis kepada Konten.co.id, Rabu (24/7/2019).

  • Lalu, Soal Pejuang Nasi ?

Terkait nama dan istilah bagi para pelakunya, Danang menceritakan, “Seiring berjalannya waktu, ternyata banyak yang memiliki intention, atau minat berbuat baik yang sama. Akhirnya, ya, mengalir begitu saja. Lalu, komitmen itu semakin terbentuk. Secara kebetulan, dalam sebuah obrolan ringan tercetuslah nama Berbagi Nasi. Hingga sekarang, nama itulah yang dipakai. Dan para pelaku didalamnya, kemudian menyebut diri sebagai Pejuang Nasi,” jelas Danang.

Nah, siapa mereka? Mereka adalah sekumpulan orang yang sepakat bertemu setiap Sabtu malam pukul 21.00 WIB, untuk selanjutnya menyisir beberapa rute kota dengan tujuan dan misi sederhana: yakni membagikan sebungkus nasi plus air minum untuk mereka yang tidur beratapkan langit, dan beralaskan bumi.

“Titik kumpul di setiap kota berbeda-beda. Di Bandung, titik kumpulnya di parkiran Bank Danamon,” katanya.

  • Apa misi Pejuang Nasi ?

Sekali lagi, misi mereka sederhana saja, yakni membagikan sebungkus nasi plus air minum untuk kaum dhuafa; para gelandangan, pemulung, tunawisma, anak jalanan dan lainnya. “Pokoknya, mereka yang didera kelaparan, namun tak sanggup membeli makanan,” kata Danang.

Di tengah hingar-bingar kota yang megah, ketika banyak kaum muda asyik kongko-kongko di kafe dan haha-hihi enggak jelas, mereka meluangkan waktu, tenaga, dan rupiah untuk terlibat dalam kegiatan yang mereka namakan “Berbagi Nasi”.

“Kami mencoba menanamkan sikap peduli pada generasi penerus sejak usia mereka belia. Sebuah ikhtiar kecil yang diharapkan bisa mengantarkan mereka pada keberkahan hidup,” demikian diungkapkan Danang Nugroho.

  • Amunisi mereka adalah Nasi, bukan BOM !

Meeting point atau titik kumpul para pejuang nasi, biasanya adalah lokasi dimana kaum dhuafa terkonsentrasi. Menjelang pukul 20.00, mereka sudah siap di tempat dengan menenteng ‘Amunisi’. Tapi jangan kaget dengan istilah ini. Jika dalam istilah militer, amunisi identik dengan senjata api, granat, bom dan sejenisnya, maka amunisi versi mereka adalah nasi bungkus yang akan dibagikan.

Nasi bungkus dipilih, karena mereka ingin memastikan orang-orang di sekitar, tercukupi kebutuhan dasarnya. “Kondisi sekarang ini ‘kan, ibaratnya kita tengah ‘berperang’ melawan kemiskinan dan kelaparan. Jadi, ini bentuk upaya kami- meski kecil, ‘menabuh genderang perlawanan’ terhadap kelaparan,” tegas Danang.

  • Kapan mereka beraksi ?

Tepat pukul 21.00, mereka bergerak. Menyebar ke setiap titik dan lokasi di mana kaum dhuafa terkonsentrasi. Mereka membagi ‘pasukan’ menjadi beberapa tim, dengan misi menjelajah berbagai rute.

Setiap malam Sabtu, per minggu minimal mereka membagikan 300 nasi bungkus, yang diperoleh dari donatur, dan kantong mereka sendiri. Setelah semua siap, mereka langsung turun ke jalan, menyisir titik-titik konsentrasi kaum dhuafa seperti tersebut di atas, berada.

Usia muda tak menghalangi mereka untuk peduli pada sesama. Mereka menyusuri jalanan, berjumpa dan bercakap langsung dengan para penerima. “Ada orang dengan gangguan kejiwaan, ada bapak yang tak punya rumah dengan penghasilan tak tentu dari memulung – biasanya 15.000/hari. Dan masih banyak cerita yang dijamin tidak bakal kita saksikan dalam sinetron. Hahaha… Intinya, setiap malam Sabtu, semua pejuang nasi bergerak ke jalanan, untuk berbagi nasi. Bukan bom,” canda Danang sambil terkekeh.

  • Kenapa memilih “Berbagi Nasi” ?

a. Ekspresi Syukur

Bagi mereka, para Pejuang Nasi ini, Berbagi Nasi adalah cara paling mudah untuk mengungkapkan rasa syukur. “Kami merasa sudah dicukupi oleh Yang Maha Kuasa. Apalagi yang kurang? kesehatan, tempat tinggal, keluarga, makanan, anak-anak dan banyak pemberian lain yang tak ternilai harganya. Berbagi Nasi adalah wujud nyata upaya kami, untuk menebarkan kesadaran bahwa kita tidak hidup sendiri,” jelas Danang.

Danang melanjutkan, “ada banyak orang di luar sana yang nasibnya ternyata jauh lebih memprihatinkan dibanding kita. Kita yang sering merasa kurang dan kerap mengeluhkan kekurangan, mestinya dapat menyadari hal ini. Bahwa kita sesungguhnya begitu kaya. Sebab masih punya keluarga yang menyayangi, banyak teman yang peduli, dan banyak hal lain yang mestinya makin membuat kita bersyukur,” terangnya, yang diamini Pejuang Nasi lain.

b. Wujud Empati

Ini salah satu alasan kuat yang menggerakkan inisiator kegiatan Berbagi Nasi ini. “Banyak diantara kami yang tidak terlahir dari keluarga berada. Jangankan untuk hura-hura, sekedar untuk makan sehari-hari saja sulit. Tanpa nasi, apalah daya kita ? menahan rasa lapar berkepanjangan itu berat,” sahut Danang dan kawan-kawan.

Empati yang lahir dari pengalaman pribadi itulah yang mendorong mereka melakukan ikhtiar kecil, sederhana namun mulia ini; menyumbang nasi pada mereka yang lapar, dan tak sanggup untuk membeli.

c. Kontrol Sosial

Alasan keempat ini mungkin terdengar idealis. Mana mungkin sebungkus nasi bisa jadi alat kontrol sosial? Pemikiran mereka, para Pejuang Nasi ini, sangatlah simpel.

“Coba renungkan cerita berikut. Ada seorang pemulung, sebut saja namanya A. Kebetulan hari itu usaha A nihil. Atau dapat uang tetapi sangat sedikit. Sementara A dan keluarganya harus makan hari itu juga. Terakhir kali melihat nasi adalah kemarin, misalnya. Lantas demi mendapatkan uang untuk makan, A gelap mata dan menjambret seseorang,” katanya.

“Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu? karena yang ada dalam pikirannya adalah, anak-anaknya harus makan. Titik. Hari itu saja, tidak muluk-muluk. Sebab esok dia optimis bisa memulung dan menghasilkan. Memang tidak semua orang lapar berniat buruk demikian. Namun ingat, lapar itu berbahaya! Jika Anda pernah merasakan kelaparan yang teramat sangat, dan tak ada jaminan bisa makan, anda bakal tahu apa yang saya maksud di atas,” urai Danang.

Harapan mereka, setelah menerima nasi, niatan buruk itu terkikis dan sirna. Ketertiban sosial pun terjaga. Dari bermacam pengalaman, bila ada satu keluarga, mereka akan mendapatkan nasi sesuai jumlah orang. Bahkan dalam kasus tertentu, saat amunisi sudah habis sementara jumlah orang masih belum terpenuhi, pejuang nasi tak segan membeli nasi lagi agar semua bisa merasakan.

d. Indikator Bahwa Kebahagiaan dan Kesejahteraan Masyarakat Urban Perkotaan, Masih Belum Terwujud Sepenuhnya

Menurut Danang, indikator kebahagiaan itu relatif. “Soal ini memang relatif, ya. Ketika misal ada mereka yang berpikir bahwa kebahagiaan itu selalu dinilai dengan uang, tapi kenyataannya, pengalaman kami di lapangan tidak seperti itu. Banyak dari mereka yang kami bagikan nasi, aura syukur dan bahagianya langsung terlihat. Bagi mereka, mendapat sebungkus nasi di tengah kondisi lapar, mungkin nilai ‘kebahagiannya’ sama dengan orang yang dapat duit bergepok-gepok,” ucapnya.

Tapi, ia menyadari jika hanya mengandalkan gerakan moral seperti ini saja, tentu tidak bakal efektif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan mendasarnya. “Hanya baru sebatas berbagi saja. Belum sampai ke penyelesaian hal-hal pokok yang menjadi akar persoalannya,” ungkap dia.

“Namun setidaknya, gerakan ini menjadi semacam ‘sindiran moral’ bagi otoritas. Agar semakin memiliki kepekaan, dan keberpihakan pada mereka yang termarjinalkan. Sesuai amanat UUD 45 Pasal 34 ayat 1, dimana ‘Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara’. Yang implementasinya, boleh dikatakan minus,” ujarnya.

“Keberadaan kaum miskin perkotaan itu fakta. Kenyataan bahwa mereka ada dan terpinggirkan, itu fakta. Harus dicarikan solusi, bagaimana agar mereka berdaya. Ikhtiar kecil kami ini, semoga bisa menginspirasi lebih banyak lagi pihak. Supaya persoalan-persoalan seperti kemiskinan, dan lain-lain itu sedikit demi sedikit bisa terentaskan,” pungkasnya. (IGR)

  • Ingin turut berbagi?

Nah, bagi anda yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan Bernas, silakan berbagi sesuai kemampuan. “Jika mampu, sediakan nasi beserta lauknya, seperti yang kita makan sehari-hari. Plus minuman,” kata Danang.

Bila punya uang tapi tak punya waktu, silakan mentransfer donasi ke rekening yang disediakan. Kalau tak sanggup menyumbang amunisi, boleh mendonasikan tenaga, dengan ikut membantu pendistribusian nasi bungkus. “Silahkan bergabung dengan para pejuang nasi di kota yang Anda minati, dan tempati,” ujarnya.

“Selain program berbagi nasi, sekarang kami juga tengah merintis Program Kakak Asuh. Secara garis besar, implementasi program ini ialah berbagi susu, makanan bayi berikut perlengkapannya,” pungkas Danang.

Bila tak ada dana atau tenaga, silakan bantu menyebarkan kegiatan ini lewat media sosial yang Anda kuasai. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Gerakan Berbagi Nasi ini, silakan hubungi redaksi Konten.co.id. (IGR)

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video