fbpx

Erupsi Tangkuban Parahu, Sejarah Panjang Amukan Sang Legenda

Erupsi Tangkuban Parahu, Sejarah Panjang Amukan Sang Legenda

Sejarah terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu.

Erupsi Tangkuban Parahu, Sejarah Panjang Amukan Sang Legenda Priangan

Konten.co.id – gunung Tangkuban Parahu terkenal dengan keksotisannya. Namun siapa sangka ada fakta unik dari gunung yang dikenal dengan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi ini.

Secara kasat mata gunung tersebut memang layaknya perahu terbalik. Tapi setelah ditelaah, bentuk tersebut hanya bisa terlihat dari sisi selatannya saja. Dilihat dari timur ataupun barat, bentuknya tidak seperti perahu yang terbalik.

Bahkan dari utara, Gunung ini sama sekali tidak terlihat, karena terhalang dinding kaldera Gunung Jayagiri. Dapat diduga dengan kuat, orang yang pertama kali menggubah legenda Gunung Tangkubanparahu, dengan tokoh utamanya Sangkuriang dan Dayang Sumbi, pastilah berdiam di selatan gunung sehingga setiap waktu dapat melihat bentuk gunung yang puncaknya rata seperti terpancung.

Bentuk puncak Gunung Tangkubanparahu seperti perahu yang terbalik karena adanya dua kawah yang berdampingan, yaitu Kawah Upas dan Kawah Ratu yang berarah barat-timur.

Dua kawah inilah yang telah membentuk puncak Gunung Tangkubanparahu menjadi lebar, sekitar 1.550 meter. Itulah yang menyebabkan puncang gunung rata dan miring di sisi barat dan timur sehingga bentuknya seperti perahu yang terbalik jika dilihat dari selatan.

Gunung yang memiliki tinggi 2.084 mdpl itu berada 30 km di utara Kota Bandung. Morfologi lerengnya berbeda dengan Gunung Burangrang yang berada di sebelah baratnya. Gunung Burangrang lahir sezaman dengan Gunung Sunda, sekira 210.000 tahun lalu sehingga erosi sudah berperan membentuk lembah-lembah yang dalam.

Sementara Gunung Tangkuban Parahu lahir sekira 90.000 tahun yang lalu dari sisi timur laut kaldera Gunung Sunda.

Perbedaan umur itulah yang membuat lereng Gunung Tangkubanparahu terlihat masih rata sedangkan Gunung Burangrang sudah berlembah dalam. Semula, di sekitar Gunung Tangkubanparahu sekarang, terdapat gunung api besar, namanya Gunung Jayagiri, tingginya sekira 4.000 mdpl. Gunung itu kemudian meletus dahsyat hingga mengambrukkan sebagian tubuhnya membentuk kaldera.

Menurut Nugraha Kartadina, peristiwa itu terjadi antara 560.000-500.000 tahun lalu. Dari sisi kaldera Jayagiri kemudian tumbuh gunung api baru, yaitu Gunung Sunda.

Letusan dahsyat Gunung Sunda terjadi antara 210.000-105.000 tahun lalu, mengambrukkan tubuhnya dan membentuk kaldera Gunung Sunda. Dari kaldera Gunung Sunda itulah Gunung Tangkubanpararahu membangun diri mulai 90.000 tahun lalu sampai sekarang.

Letusan-letusan Gunung Tangkubanparahu telah membentuk 13 kawah. Catatan letusan tertuanya ada dalam catatan Junghuhn yang menuliskan bahwa gunung itu pernah meletus tahun 1829. Catatan terakhir meletus kecil pada 2004.

Gunung Tangkubanparahu ternyata tidak sekadar wujud gunung api, tetapi segala hal tentang gunung itu tersimpan dalam ingatan masyarakatnya, yang setiap waktu dapat melihat wujud gunung.

Segala gerak gunung selalu mendapatkan perhatian dari waktu ke waktu. Proses alam yang begitu panjang, terpantau oleh masyarakatnya dan terus diturunkan dari generasi ke generasi.

Jauh sebelum ilmu kebumian modern lahir, jawaban akan peristiwa alam saat itu dirangkai dalam bentuk legenda.

Legenda itu sudah sangat tua umurnya, sudah dikenal dan sangat populer di masyarakat pada abad ke-15 dan 16 sehingga Bujangga Manik, pewaris tahta Kerajaan Sunda mencatat legenda itu saat melintas di pinggiran Cekungan Bandung, jauh sebelum pemerintah kolonial berkuasa.

Dalam mitologi, bentuk Gunung Tangkubanparahu seperti perahu yang terbalik karena rasa kecewa yang dalam dari Sangkuriang yang gagal meminang perempuan cantik yang sesungguhnya itu adalah ibunya, yaitu Dayang Sumbi.

Dikisahkan, setelah Sangkuriang berjalan puluhan tahun pergi dari ibunya untuk berjalan ke timur dan belajar ilmu di berbagai perguruan, Sangkuriang tidak menyadarinya telah berjalan kembali ke arah barat, dan bertemu dengan perempuan yang mempersona.

Dalam perjalanan waktu, Dayang Sumbi mengetahui bahwa pemuda yang gagah itu adalah anaknya sendiri sehingga tidaklah mungkin menikah dengannya. Namun Sangkuriang tidak percaya Dayang Sumbi adalah ibunya sehingga tetap pada pendiriannya untuk meminang Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi mengajukan dua syarat kepada Sangkuriang kalau bersungguh-sungguh akan meminangnya. Pertama agar membendung Citarum menjadi telaga dan membuat perahu untuk berlayar di atas telaga. Kedua pekerjaan itu harus selesai sebelum fajar.

Jika hingga fajar menyingsing kedua tugasnya belum selesai, maka pertunangan batal dilaksanakan. Sangkuriang menyanggupi kedua persyaratan itu. Bendungan sudah selesai, airnya mulai tergenang, dan perahu yang sedang dibuatnya hampir rampung.

Melihat keadaan itu, Dayang Sumbi segera memohon kepada Yang Maha Kuasa agar semua perjanjian batal. Dayang Sumbi menaburkan irisan kain kapan, dengan seketika fajar menyingsing pertanda matahari akan segera terbit.

Betapa leganya Dayang Sumbi. Tapi kecewa bagi Sangkuriang. Dengan perasaan marah, perahu yang hampir rampung itu ditendang hingga terbalik. Sangkuriang segera mengejar Dayang Sumbi. Di satu bukit kecil, Dayang Sumbi menghilang.

Di bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi kemudian bermekaran bunga yang indah. Tunggul pohon menjadi Bukit Tunggul, batang pohon yang dijadikan perahu menjadi Gunung Tangkubanparahu. Dahan, ranting, serta dedaunannya menjadi Gunung Burangrang sedangkan bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video