Erupsi Tangkuban Parahu, Lemahnya Upaya Mitigatif Disorot

Erupsi Tangkuban Parahu, Lemahnya Upaya Mitigatif Disorot

Erupsi tangkuban perahu, upaya mitigatif yang buruk dikritisi banyak pihak.

Erupsi Tangkuban Parahu, Lemahnya Upaya Mitigatif jadi Sorotan Publik

Konten.co.id – Fakta ‘unik’ yang luar biasa sekaligus miris, terjadi saat peristiwa meletusnya Gunung Tangkuban Parahu, Jumat (27/7/2019) kemarin.

Apa itu? Ialah banyaknya video dan foto para pengunjung, yang memperlihatkan detik demi detik erupsi gunung sarat mitos tersebut.

Bahkan, ada rekaman video yang diambil dari jarak dekat. “Luar biasa keberanian orang Indonesia”. Mungkin itu yang bakal terbersit di pikiran bangsa lain.

Bagi beberapa pihak, banyaknya video dan foto yang berseliweran di medsos tersebut, mungkin ‘menguntungkan’.

Dengan begitu, detik demi detik peristiwa tersebut; mulai dari letusan hingga campur aduk emosi serta kepanikan pengunjung yang tentu saja bukan rekayasa, bisa dilihat secara kasat mata. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Terutama bagi media massa. Karena bisa memperoleh gambar-gambar eksklusif dengan angle-angle bagus, secara gratis.

Hanya beberapa saat setelah erupsi, di medsos tersaji video maupun foto yang memperlihatkan kejadian tersebut, dengan berbagai angle. Bahkan ada video yang diambil dari jarak sekira 50-100 meter dari titik erupsi. Luar biasa.

Namun, bila dilihat lebih jeli lagi, banyak yang tidak menyadari bahwa sebetulnya kondisi tersebut memperlihatkan betapa buruknya langkah mitigatif para pihak, terutama pengelola. Bahkan boleh disebut, tidak ada.

Padahal, dilaporkan sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) sudah memberikan peringatan. Peringatan yang semestinya sudah bisa dijadikan alasan bagi pengelola untuk menutup sementara lokasi TWA, hingga kondisinya kembali normal.

Bagaimana bisa sebuah gunung yang aktivitas vulkaniknya dilaporkan tengah aktif, meski berstatus Taman Wisata Alam (TWA), masih dengan bebas dikunjungi wisatawan? demi ‘kepentingan bisnis’ sesaat, nyawa banyak orang dipertaruhkan.

Tak pelak, ketika erupsi terjadi, banyak pengunjung yang masih terjebak di dalam TWA. Bisa dibayangkan, bagaimana situasi kepanikan yang terjadi saat itu, kan? Hingga berita ini diturunkan, tercatat ada 2 korban erupsi yang dirawat di rumah sakit. Jumlah yang sepertinya akan terus bertambah.

Dua minggu terakhir ini, PVMBG sebetulnya telah mengeluarkan pernyataan terkait adanya aktivitas vulkanik yang cukup tinggi di Kawah Ratu dan Kawah Upas, yang merupakan kawah terbesar di Gunung Tangkuban Parahu.

Puncaknya, kurun waktu 2-3 hari ke belakang, PVMBG kembali mengeluarkan peringatan soal adanya peningkatan aktivitas vulkanik Tangkuban Perahu.

Pada tanggal 22 Juli 2019, PVMBG mengeluarkan pernyataan jika aktivitas vulkanik gunung Tangkuban Parahu meningkat dari biasanya.

Berdasarkan rekaman seismograf, pada 21 Juli 2019 dari pukul 00.00-24.00 WIB terjadi 425 gempa hembusan, 2 kali gempa tremor harmonik, 3 kali gempa low frequency, 3 kali gempa vulkanik dalam dan 3 kali gempa tektonik jauh.

Sementara dari pengamatan visual 22 Juli 2019 pukul 06.00 WIB, hasilnya menunjukkan adanya asap dari kawah utama bertekanan lemah-sedang teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara dan selatan.

Saat itu, PVMBG mengimbau kepada wisatawan yang berkunjung ke TWA Tangkuban Parahu untuk tidak mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas.

Wisatawan dan pendaki juga diimbau untuk memperhatikan kondisi cuaca ketika berada di kawasan kawah.

“Ketika cuaca mendung dan hujan diiimbau jangan berada di dekat kawah aktif dikarenakan terdapat gas-gas vulkanik yang membahayakan manusia,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi PVMBG Hendra Gunawan.

Hendra juga mengingatkan kepada masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu serta wisatawan, pendaki dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan fratik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Sayangnya, meski sudah ada peringatan tersebut, tampaknya PT Graha Rani Putra Persada selaku Pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu yang berlokasi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat tersebut, tetap ‘keukeuh’ membuka loket kunjungan untuk wisatawan.

Direktur Utama PT GRPP Putra Kaban mengatakan, TWA Gunung Tangkuban Parahu masih aman untuk dikunjungi karena kondisi gunung menurutnya masih normal. “Cuaca cerah, kondisi sangat-sangat aman dan normal. Makanya kunjungan wisatawan juga tetap normal, tidak ada kendala,” kata Putra Kaban saat dihubungi, Selasa (23/7/2019) dikutip dari Kompas.com.

Lebih lanjut, Putra Kaban menambahkan, pihaknya sudah sering bersinergi dengan PVMBG untuk memberikan imbauan dan informasi kepada pengunjung di titik-titik kunjungan di kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu.

Imbauan dan informasi diberikan agar pengunjung merasa tenang dan nyaman serta tidak keliru dalam menyikapi informasi yang beredar terkait gunung api yang menjadi lambang Kota Bandung ini.

Selain itu, Putra Kaban memastikan, setiap hari pegawainya selalu berkoordinasi dengan Seksi Vulkanologi dari PVMBG yang pos pengamatannya ada di kawasan Gunung Tangkuban Perahu.

Dia meyakinkan sejauh ini kondisi Kawah Ratu dan Kawah Upas stabil dan normal seperti biasanya, tidak ada peningkatan aktivitas seperti yang dikhawatirkan.

“Di kami (PT GRPP) ada petugas yang setiap harinya berkoordinasi dengan petugas Seksi Vulkanologi, yang kebetulan posnya ada di sini. Tujuannya untuk memantau kondisi kekinian dan keadaan masih normal seperti sebelumnya,” akunya.

Terkait dengan larangan untuk mendekati Kawah Ratu, Putra Kaban mengatakan hal tersebut sudah ada sejak lama. Tidak hanya dari PaVMBG, dia mengklaim pihaknya telah membuat larangan mendekati kawah ratu sejak lama.

“Larangan mendekati atau turun ke kawah sudah kami pasang sejak dulu. Tidak pernah ada yang berkemah di sini karena SOP kami, sore hari pintu tiket sudah tutup, sehingga daerah atas (kawah) steril,” akunya.

Ahli Vulkanologi Surono mengatakan meski terjadi tiba-tiba, ia mengaku ada sejumlah hal lain yang terjadi.

“Banyak hal tanda-tanda alam yang dapat diamati, termasuk juga kalau akan ada letusan gunung api. Masyarakat bilang hewan akan turun dari puncak, kan itu semua tanda-tanda,” imbuhnya.

Menurutnya, tanda-tanda inilah yang membuat gunung api dipantau. Seperti yang ia tangani pada tahun 2013 yang dianggap tidak normal.

“Walaupun, saya sering tidak akur dengan pengelola wisata di situ. Tapi bagi saya tidak masalah, (karena) lebih baik kita sedia payung saat langit terlihat mendung,” tambahnya.

Baginya, tanda-tanda letusan gunung itu seperti awan yang terlihat mendung. Dia mengingatkan agar masyarakat untuk selalu menyiapkan mitigasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Lebih baik membawa payung meski tidak terjadi hujan, daripada tidak membawa payung begitu kehujanan menyalahkan orang tua atau teman tidak mengingatkan,” paparnya.

“Jadi, setiap gunung akan meletus, pasti ada tanda-tandanya. Mau jelas atau nggak jelas. Karena itu ada ahlinya untuk menjelaskan yang tidak jelas,” tambahnya.

Dia menyayangkan, Gunung Tangkuban Parahu yang menjadi wisata andalan justru mitigasi belum menjadi prioritas.

“Tangkuban Perahu ini menjadi tujuan wisata andalan bagi Jawa Barat, bagi Indonesia juga. Ini harus ada jaminan mitigasi berjalan dengan baik,” tutur Surono.

“Sebetulnya saya tidak takut, dari yang saya alami, paling hanya letusan-letusan freatik atau yang sifatnya dominan uap air,” sambungnya.

Meski begitu, letusan freatik pun masih bisa membahayakan orang di sekitarnya.

“Orang tidak akan mati terkena letusan freatik, kecuali kalau dekat sekali,” kata Surono.

“Namun demikian, wisata untuk Tangkuban Perahu itu terlalu dekat dengan titik letusan, kawah ratu,” imbuhnya.

Bukan perkara letusannya yang dikhawatirkan Surono akan membahayakan para wisatawan, melainkan kepanikan orang saat erupsi itu sendiri.

“Andai ada letusan lalu terjadi kepanikan, orang bisa celaka bukan karena letusan gunung apinya tapi karena kepanikan itu sendiri,” ujar Surono.

“Sekarang orang lari tidak pakai kaki lagi, tapi mesin. Entah itu motor, mobil, dan sebagainya,” tambahnya.

Kepanikan dapat memicu orang ingin segera turun menggunakan moda tercepat. Ketika itu terjadi, hal paling buruk adalah masalah kecelakaan.

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Surono terhadap erupsi mendadak Tangkuban Parahu.

“Sekarang yang bisa dipertanyakan, berapa jumlah pengelola wisata dan berapa jumlah pengunjung yang diperbolehkan,” kata Surono.

“Jadi, ini rasio jumlah pengunjung atau wisatawan yang harus diperhitungkan dengan letusan yang tiba-tiba seperti hari ini,” tegasnya.

Saat hal tersebut dikonfirmasikan pada warga dan pengunjung di sekitar lokasi Tangkuban Parahu, banyak yang menyatakan kekecewaannya.

“Kalau memang kondisinya sudah segawat itu, pihak pengelola TWA mustinya mengambil langkah-langkah antisipatif dan mitigatif yang diperlukan. Supaya tidak menimbulkan korban. Kami pengunjung ‘kan tidak tahu kondisi sebenarnya. Ketika pengelola bilang aman, ya kami percaya saja,” kata pengunjung yang enggan disebutkan namanya, kepada Konten.co.id, Jumat (26/7/2019).

Ia kemudian melanjutkan, jangan sampai hanya demi kepentingan bisnis, nyawa banyak orang dipertaruhkan.

“Harusnya informasi tersebut tersampaikan sebelumnya. Terutama oleh pengelola. Tutup TWA. Kan lucu, ditengah banyaknya pengunjung, tiba-tiba saja gunung meletus, lalu banyak orang merekam. Seolah kejadian berbahaya dan mengerikan ini tontonan biasa. Padahal bisa diantisipasi sebelumnya, karena peringatan sudah ada, kan. Tapi tampaknya, hal tersebut ‘tidak diindahkan’ pengelola TWA Gunung Tangkuban Parahu. Seolah ada upaya menutupi kondisi sebenarnya, demi kepentingan bisnis,” pungkasnya.(*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *