fbpx

Anjing di Mata Islam

Anjing di Mata Islam

Akhir-akhir ini, anjing sebagai hewan, tengah menjadi trend. Kenapa? Dan bagaimana pandangan agama terhadapnya?

Heboh Anjing Masuk Masjid, Apa Hukumnya Menurut Islam?

Konten.co.id – Baru-baru ini netizen digemparkan dengan anjing yang berkeliaran di Masjidil Haram. Foto anjing di Masjidil Haram itu kali pertama diunggah pengguna akun Twitter @jondriefendi26 pada suatu diskusi terkait video viral anjing di dalam masjid.

Pada keterangan foto, ia menjelaskan foto anjing di Masjidil Haram itu ia ambil kala menunaikan ibadah haji pada 2017 silam. “Waktu haji 2017 saya pribadi temukan anjing ini dalam Masjidil Haram,” tulisnya.

Ia yang saat itu jadi saksi langsung bertanya ke petugas penjaga Masjidil Haram dan polisi. Hanya saja mereka tak mempermasalahkan anjing di Masjidil Haram dan membiarkannya berkeliaran. Padahal, Masjidil Haram diketahui merupakan tempat paling suci bagi umat Islam.

“Saya lapor sama askar polisi di Makkah, dia bilang no problem (tak masalah),” lanjutnya.

Tak pelak kisah serta foto viral anjing di Masjidil Haram itu memicu kontroversi di antara warganet. Banyak yang menduga foto viral itu merupakan hasil edit atau penyuntingan meski si pengunggah mengklaim sebagai foto asli tanpa penyuntingan.

Sebagian umat Islam mungkin merasa alergi dengan anjing dan tidak mau dekat dengannya. Bahkan kalau ada anjing lewat, kita pun tak segan-segan melemparinya dengan batu. Hal ini disebabkan oleh pengaruh dari pelajaran fikih yang diterima bahwa anjing adalah najis.

Meskipun sebagian ulama menganggap anjing najis, tapi bukan berati dibolehkan menyakiti dan menganiaya anjing sesuka hati.

Perlu diketahui, tidak seluruh ulama menyepakati kenajisan anjing. Sebagian ulama menganggap anjing tidaklah najis. Dalam Madzhab Maliki misalnya, anjing tidaklah najis. Karena menurut mereka, setiap makhluk hidup adalah suci, sekalipun anjing dan babi.

Binatang dikatakan najis bila mati atau tidak disembelih dengan cara syar’i. Sebab itu, dalam pandangan madzhab ini, kalau tubuh atau ada benda yang dijilati anjing, maka membasuhnya hanyalah bagian dari kesunnahan. Meskipun sunnah tetap harus dibasuh karena bersifat ta’abbudi.

Sementara dalam pandangan Madzhab Hanafi, tidak seluruh bagian tubuh anjing najis, yang najis hanyalah keringat dan air liurnya. Karenanya, dalam madzhab ini, tetap wajib membasuh tubuh atau benda yang kena air liur anjing.

Ulama yang ada dalam madzhab ini pun berbeda pendapat soal berapa banyak jumlah basuhannya, ada yang mengatakan tiga, lima, dan tujuh.

Adapun Madzhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat seluruh tubuh anjing adalah najis, baik bulu, keringat, ataupun air liurnya. Sehingga kalau ada anjing menjilat sebuah benda atau kulit kita, maka wajib dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satu basuhan wajib pakai tanah.

Kebanyakan pendapat yang digunakan di Indonesia adalah pendapat Imam al-Syafi’i, karena mayoritas penduduk Indonesia bermadzhab Syafi’i. Tapi kalau jalan-jalan ke luar negeri, jangan merasa aneh kalau sebagian penduduk muslim terbiasa memelihara dan bermain dengan anjing.

Bisa jadi mereka menggunakan pendapat Madzhab Maliki yang berpendapat bahwa anjing bukanlah najis.

Kembali lagi ke keberadaan anjing di radius jarak pandang dengan Masjidil Haram (Masjid al-Haram), dimana Ka’bah yang menjadi kiblat umat muslim seluruh dunia berada.

Setelah ditelaah, anjing yang tampak pada foto tersebut tampaknya bukan jenis anjing liar. Karena terlihat rileks dan tidak takut pada manusia yang terdiri ribuan jamaah.

Bahkan menurut Arief Budihartoyo, salah satu WNI yang tinggal disekitar Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi mengatakan perlakuan terhadap anjing di negara tersebut jauh lebih “manusiawi”. Ia mengakui kalau anjing juga pernah bahkan sering keliaran di kawasan suci tersebut.

“Yang saya tahu dari orang sini, paham mereka semua binatang itu suci dan harus dijaga. Karena banyak yang berpendapat kalau pasti ada alasan tersendiri mengapa Allah SWT menciptakan anjing di dunia. Seperti kenapa ada harimau atau singa dan babi di dunia pasti juga ada alasannya tersendiri,” katanya dihubungi Konten.co.id, Jumat (5/7/2019).

Menurut pria asli Serang, Banten ini perlakuan kepada anjing di Arab justru lebih baik. Berbeda dengan Indonesia, banyak sekali salah paham mengenai anjing. Anjing seakan-akan dimusuhi. Bahkan digunakan sebagai kalimat umpatan seperti asu dalam bahasa Jawa.

Anjing yang tidak salah apa-apa terkadang dilempar batu. Ibu-ibu dan anak-anak kecil sering paranoid sendiri lari kalang kabut kalau berjumpa anjing.

Beberapa diantaranya karena ketidaktahuan, bahkan menganggap anjing sebagai binatang yang dilarang agama. Jangankan memelihara, mendekat saja tidak boleh.

Padahal sejatinya air liur anjing itu najis. Tapi, najis bukan berarti untuk dimusuhi. Perlu diketahui, najis itu artinya kotor.

Kalau kotor, tak bisa ibadah. Solusinya ya tinggal dibersihkan. Bukan dijauhi si anjing itu.

Logikanya, darah menstruasi juga najis, apakah itu pembenaran untuk memusuhi dan menyakiti ibu, istri, anak perempuan, dan wanita yang sedang datang bulan?

Berawal dari riwayat mengenai wadah air minum yang dijilat anjing, yang kemudian oleh Nabi diminta untuk dicuci tujuh kali. Beberapa madzhab membatasi kenajisannya hanya sebatas liur. Tapi memegangnya boleh!

Perintah membersihkan 7 kali itu sebetulnya bahasa isyarat untuk membersihkannya dengan sungguh-sungguh. Beberapa orang memperlakukan tatacara 7 kali secara harfiah.

Beberapa yang lebih rasional, mencucinya sekali dengan sabun dan antiseptik,yang tentu saja waktu jaman Nabi.

Sementara soal air liur, ilmu pengetahuan sudah membuktikan dengan jelas, bahwa setiap spesies yang punya kelenjar saliva punya jenis kumannya sendiri, termasuk air liur anjing.

Jadi ada baiknya mencuci bagian tubuh yang terkena air liur, baik anjing, kucing, biawak, ataupun sapi. Bahkan terhadap air liur orang disekitarmu yang sampai ke tubuhpun harus dicuci sampai bersih. Siapa tahu itu mengidap penyakit berbahaya.

Dari ‘Adi bin Hatim (radhiyallahu ‘anhu), ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah.

Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut.

Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut.” (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929).

Bagaimana jika malaikat konon katanya tidak mau masuk rumah bila kita memelihara anjing? Ada hikmahnya, kok. Pertama, memelihara binatang, demi alasan kesehatan, memang sebaiknya tidak di dalam rumah. Dan kedua, Anda akan hidup selamanya, karena malaikat maut nggak mau masuk rumah juga.

Tentang anjing di tanah suci Mekkah, Tuhan tidak marah, anjing senang, Tanah Suci baik-baik saja. (*)

Penulis : Ade Indra

Dari Berbagai Sumber

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video