fbpx

8600 Ton Stok Garam Menumpuk, Harga Anjlok, Petambak Menjerit

8600 Ton Stok Garam Menumpuk, Harga Anjlok, Petambak Menjerit

Penumpukan stok garam terjadi karena tidak ada permintaan dan anjloknha harga.

Stok Garam 8600 Ton tak Terserap dan Harga Anjlok, Petambak Menjerit

Konten.co.id – Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu mencatat, ada 8.600 ton garam yang belum terjual, yang seharusnya sudah dilepas ke pasar.

Lesunya penyerapan stok garam para petambak membuat tingginya stok garam.

Kepala Bidang Perikanan Budaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu Edi Umaedi, menuturkan, hal ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Lantaran tahun lalu stok garam yang berada di gudang sudah habis di bulan Juni.

Sebab, perusahaan-perusahaan besar biasanya sudah melakukan penyerapan garam dari para petambak.

Selain itu stok terus menumpuk karena harga garam yang hanya Rp300 – Rp400 per kilogramnya. “Dengan harga tersebut, sangat sulit bagi para petambak untuk mengambil selisih keuntungan karena mereka harus mengeluarkan ongkos distribusi garam sebelum dijual,” katanya, Kamis (11/7/2019).

Kata dia, garam akan banyak dibeli jika harganya kembali Rp500 per kilogram atau Rp1.000.

Nilai tersebut dipandang masuk akal untuk diraih ketika melihat data dua tahun ke belakang. Saat itu, harga garam mampu menyentuh harga tertinggi dalam sejarah yaitu Rp4.500 per kilogramnya.

Selain itu, dikatakannya penyebab lesunya penyerapan karena belum adanya pembelian dari perusahaan-perusahaan besar.

Hanya saja ia mengaku belum mengetahui secara pasti alasan para perusahaan-perusahan tersebut belum melakukan penyerapan.

Dinas Perikanan dan Kelautan terus berupaya supaya stok garam yang ada bisa segera dilepas ke pasar. “Diperkirakan seminggu lagi akan segera terserap,” ujar Edi

Edi menuturkan, peningkatan produksi garam terjadi ketika bantuan sudah disalurkan kepada petambak dengan tujuan meningkatkan kualitas produksi garam.

Hasilnya kuantitas produksi garam sudah meningkat tajam. “Beberapa tahun lalu, dalam sekali masa produksi, satu hektare lahan hanya menghasilkan 60 ton saja. Kini bisa mencapai 117 ton,” ungkap dia.

Edi mengatakan, garam Indramayu memiliki potensi menjanjikan di masa yang akan datang. Kualitas garam produksi para petambak sudah bisa menyaingi garam impor, sehingga garam lokal sudah bisa diserap untuk keperluan industri.

Apalagi, kata dia, produksi garam Indramayu pun cukup besar. Pada tahun 2018, produksi bisa mencapai 335.000 ton. Jumlah itu meningkat tipis 18.000 ton bila dibandingkan tahun 2017.

Untuk itu, para petambak diminta tetap menjaga kualitas garam produksinya. “Koperasi garam pun harus kompak bersatu,” ujarnya.

Dengan demikian, harga garam yang diproduksinya bisa terus berada di angka ideal, minimal bisa di angka Rp1.000. “Kalau harga segitu sudah sangat bagus,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, Hakim, mengatakan, pihaknya akan terus mengupayakan agar harga garam tidak begitu anjlok. Dia menilai, harga garam saat ini masih cukup rendah bagi para petambak. (*)

Penulis : Ade Indra
Editor : IGR

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video