Sampah Impor di Jawa Timur Menutup Lahan Pertanian

Sampah Impor di Jawa Timur Menutup Lahan Pertanian

Pembuangan sampah impor di desa Bangun, Mojokerto sudah kelewatan mengingat saat ini Indonesia tengah dililit masalah sampah plastik.

Sampah Impor di Jawa Timur Menutup Lahan Pertanian dan Jalan

Konten.co.id – Ribuan ton sampah asing yang diduga berasal dari Negara-Negara Eropa, Amerika, Australia dan Asia, bertumpuk di desa-desa di Jawa Timur. Sampah-sampah ini bahkan menutup lahan pertanian dan menjadi penggerak ekonomi, setidaknya bagi sebagian warga.

Bahkan badan jalan tidak jarang tertutup sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik. Sampah asing ilegal ini datang saat Indonesia memiliki setumpuk pekerjaan rumah dalam menangani pengelolaan sampah Negeri sendiri.

Sebelum ada sampah, tempat yang yang bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini adalah sawah. Namun lahan tersebut kini beralih fungsi menjadi lahan sampah di Kabupaten Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto, Jawa Timur.

Hal ini pun membuat petani padi kini beralih profesi menjadi pemilah sampah. Salah satunya Hartati. Ibu tiga anak ini menghabiskan waktu diantara tumpukan sampah hampir setiap hari.

Jerih payahnya memilah sampah dihargai Rp 10 ribu rupiah per kilogram. Dalam sehari ia bisa meraup Rp 50 hingga Rp 100 ribu per hari. “Disini hampir semuanya beralih profesi dari petani jadi pemilah sampah,” katanya kepada wartawan, Sabtu (15/6/2019).

Sampah yang dipilah Hartati dan warga sekitar bukanlah sembarang sampah. Sampah tersebut berasal dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Sampah impor ini justru jadi penggerak perekonomian sebagian warga Mojokerto, Jawa Timur.

Lokasi yang kini jadi pemilahan sampah dulunya adalah sawah. Dengan tekun, setiap Hartati memilah dan memilih sampah yang masih memiliki nilai jual, seperti botol plastik dan kaleng minuman.

Kadang Hartati bisa mendapat sampah yang lebih berharga. Seperti uang yang tidak sengaja terbuang. “Sering dapat euro, mata uang Australia, Italia, New Zealand. Semuanya saya jual atau saya tukar,” ucapnya.

Perubahan sawah menjadi sampah yang beresiko merusak lahan pertanian juga diabaikan. Sepanjang jalan menuju desa Bangun, Mojokerto permandangan hamparan sampah nampak menjadi hal yang lumrah. Kanan kiri jalan bahkan badan jalan tertutup sampah sisa hasil pemilahan dengan seabgian besar adalah sampah plastik.

Bahkan, kalau anda ingin mencari truk yang menurunkan sampah pun tidak sulit ditemukan. Lantaran banyak truk sampah dibadan jalan yang acap kali menurunkan sampahnya.

Bahkan ada jalan setapak yang telah menjadi timbunan sampah sejak lima tahun lalu. Truk membawa sampah pun hampir setiap hari datang ke lokasi tersebut. Warga pun mengetahui kalau sampah yang menjadi tulang punggung ekonomi mereka saat ini berasal dari luar negeri.

Kepala Desa Bangun, Muhammad Iskan mengatakan kalau sampah yang masuk ke desanya merupakan sisa bahan baku perusahaan kertas. “Banyaknya datang dari pabrik kertas. Ada juga dari pabrik Jawapos, terus dari Surya, setiap hari ditaruhnya ke sini,” kata dia.

Meski risih, namun ia mengaku bersyukur. Lantaran ekonomi masyarakatnya justru meningkat dari pemilahan sampah dari sisa industri tersebut.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur Diah Susilowati mengatakan pengelolaan sisa hasil industri merupakan kewajiban perusahaan. Jika perusahaan tidak mampu mengelola maka harus diberikan ke pihak ketiga yang memiliki perizinan.

Jika sampah dibiarkan begitu saja bahkan diperjual belikan kepada masyarakat, maka sanksi wajib diberikan.

“Perusahaan yang melakukan itu akan kami berikan pembinaan, seperti apa, jadi tidak boleh ada pemberian sampah atau sisa sampah kepada masyarakat tanpa ada pembelaan atau apapun itu. Nanti akan kami beri teguran dan sanksi kepada perusahaan yang tidak memenuhi aturan tersebut, mau bagaimanapun dalam izin mereka ada ketentuannya,” kata dia. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *