fbpx

Refleksi Akhir Ramadan dan Lebaran

Refleksi Akhir Ramadan dan Lebaran

Setiap hari di bulan Ramadan, isi kepala saya dan banyak manusia sejenis saya, dipenuhi berbagai keinginan konsumtif. Yang tentu saja bermacam-macam. Entah itu pakaian, smartphone, mobil, motor, rumah, blablabla. Pokoknya semua serba baru.

Habis Lebaran, Terbitlah Hutang

Konten.co.id – Sodara-sodara.. saya malu, sebetulnya. Malu sama diri saya sendiri. Puasa bolong-bolong, ‘kok masih ngeyel bikin tulisan soal puasa ? Biar kata nggak pernah ikut fitness, setan itu kuat gaes.Tapi ya dasar setan, meski jarang puasa – tepat nya nggak pernah – masih saja sok sok-an bikin tulisan reflektif soal puasa (ciee.. reflektif).

Gaes, saya memang termasuk orang yang kerap terjangkiti penyakit menahun ; ‘gila’ setiap menjelang, dan usai lebaran.

Betapa tidak. Setiap hari di bulan Ramadan, isi kepala saya dan banyak manusia sejenis saya, dipenuhi berbagai keinginan konsumtif. Yang tentu saja bermacam-macam. Entah itu pakaian, smartphone, mobil, motor, rumah, blablabla. Pokoknya semua serba baru.

Serbuan promosi datang dari berbagai sisi dengan massifnya. Hampir tidak ada satupun sudut yang disisakan. Semua demi memenuhi hasrat konsumtif publik. Bahkan yang tidak konsumtif pun bisa kemudian berubah menjadi rakus, latah terbawa arus konsumerisme.

Bagi para begawan, hiruk pikuk menjelang lebaran mungkin adalah “sejenis makhluk aneh yang berasal dari planet antah berantah”. Dimata mereka, hingar bingar tersebut adalah sebuah ‘kegilaan’. Dengan atau tanpa tanda kutip, gila itu memang kami.

Kami adalah robot yang dikendalikan budaya mainstream bernama ‘konsumerisme’. Budaya yang kadung menjadi niscaya dalam sistem kapitalistik, dimanapun. Bak bola salju, tak ada satupun yang bisa menghentikannya. Tentu saja sekali lagi, itu sungguh mainstream.

Dan sentilan para begawan tadi, tentu saja anti-mainstream. Analisa mereka melenggang sendirian ditengah ramainya parade konsumerisme. Saya yakin itu hasil perenungan kontemplatif yang mendalam. Mungkin saja wujud keprihatinan. Keprihatinan terhadap kami, para robot ini. Tentu saja.

Tapi mari kita selami alasan dibalik kegilaan tadi. Karena segala sesuatu pasti ada sebab. Tidak mungkin tidak, bukan ? Sekaligus ini juga merupakan sebuah upaya nyata menegakkan prinsip ‘cover both sides’ (lagi-lagi mari kita ciee..).

Iya lah. Kita musti adil. Karena seorang terpelajar itu mustilah adil sejak dalam pikiran. Demikian mbah Pram bilang. Malah ada murid Pram sebut saja Mawar, yang bersabda, “kita bahkan mustilah adil sejak sebelum roh ditiupkan”. Lebih Pram dari Pram, bukan ? si Mawar ini memang murid yang sudah paham core of the core-nya dunia dan seisinya. Warbiyasah !

Kegilaan dimaksud adalah warisan budaya turun temurun. Lebaran selalu identik dengan hal-hal yang serba baru. Entah sejak kapan budaya ini berkembang dan dikembangkan. Apapun musti baru. Semuanya, bahkan hingga celana dalam. Teriakan kenceng para begawan macam si Mawar tadi, terbukti kalah telak oleh hingar bingar tawaran diskon gede-gedean yang suaranya terdengar bak desahan nikmat artis porno Jepang “ikehh.. Ikehh…”. Sungguh menggoda. Bikin kita tersugesti. Tentu saja ini menyenangkan buat para setan.

Jarang ada manusia yang tahan godaannya. Dewasa ini, begawan yang zuhud terhadap dunia itu sudah sangat sulit ditemukan. Manusia sudah banyak terjebak hubbud dunia. Penyakit ‘cinta dunia’ ini termasuk epidemi yang sulit diberantas, tujuh turunan sekalipun.

Soal ini, saya sempat berdebat panjang dengan Udin sebut saja demikian. Beliau ini adalah sekondan saya sejak jaman jahiliyah dulu. Perdebatan ini terjadi pertengahan Ramadan lalu. Saat kami berdua resah menunggu kedatangan THR (Tonjokan Hari Raya).

Sekarang ‘sih sudah nggak debat-debat lagi soal itu. Terutama karena kesibukan luar biasa menjelang, dan seusai Lebaran. Juga, terutama sekali karena THR si Udin sudah cair. THR yang cuma lewat sehari, katanya. Habis dalam sekejap, dimakan para pemangsanya di pusat-pusat perbelanjaan. Ya salaam..

Kesimpulan awal perdebatan kami waktu itu adalah, ya kami memang korban konsumerisme. Eh.. tapi entahlah, lho. Entah korban, dikorbankan, atau karena kami sendiri yang memang konsumtif sejak dari pikiran. #eh.

Menurut kami, manusia ‘kontemplatif’ macam si Mawar tadi, jelas sangat jarang. Tentu saja maksud jarang disini bukan rambutnya, karena dia berambut gondrong. Tapi analisa anti mainstreamnya soal Lebaran dan Puasa.

Menjelang lebaran, berbagai macam godaan sempurna menghampiri. Mulai dari es kelapa muda disiang hari bolong, iklan sirup di televisi, hingga Midnight Sale dengan tawaran diskon gila-gilaan. Lagi-lagi, gila. Ritual tahunan di bulan Ramadan macam Itikaf, misal. Bisa dipastikan penggemarnya kalah banyak dibanding Midnight Sale. Iya kan ? Tarawih kalah telak oleh godaan belanja dan persiapan lebaran. Puasa ? Sudah lebih dulu tumbang saat sibuk melaksanakan ritual wajib sebelum Lebaran ; nyari duit dan kemudian berbelanja kebutuhan menyambutnya.

Konspirasi jahat yang kolaboratif antara teriknya matahari, es campur, es kelapa muda, kopi dan rokok di siang bokong eh bolong, bikin ambruk puasa (kami). Iya, sesimpel itu. Nah, kesimpulan akhir perdebatan panjang saya dan Udin adalah, ini semua memang keniscayaan dalam dunia yang kapitalistik. Teriakan anti-mainstream tadi, sekenceng apapun pasti bakal kalah oleh provokasi agitatif konsumerisme. Kesimpulan macam inilah yang kerapkali mendamaikan dan menghentikan perdebatan panjang kami ; saya dan si geblek Udin.

Setelah narasi panjang lebar di atas tadi, kesimpulan akhir artikel ini tentu saja adalah : habis lebaran, terbitlah hutang, kosongnya dompet serta kembalinya stress karena itu. #hiks #sedih (*)

Gege Sureggae
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *