Mahalnya Ongkos Untuk Menjadi Pintar

Mahalnya Ongkos Untuk Menjadi Pintar

Biaya pendidikan saat ini kian mahal, dan orang tua harus perhatikan.

Bingung Biaya Pendidikan Mahal ? Lakukan 4 Hal Ini!

Konten.co.id – Sebagai orang tua, kita wajib menyiapkan pendidikan bagi anak sedini mungkin. Bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Setiap anak adalah penerus, dan nasib masa depan kemanusiaan ada ditangan mereka.

Karenanya, pendidikan anak harus masuk dalam perencanaan matang orang tua. Apalagi kita tahu, di negeri ini ongkos untuk memperoleh akses pendidikan yang baik dan berkualitas tidaklah murah.

Saat ini, rata-rata kebutuhan uang muka sekolah swasta dari mulai PAUD hingga kuliah mencapai Rp 142 juta. Asumsinya adalah biaya pendidikan anak usia dini (PAUD) di sekitaran rumah sekitar Rp 2 juta, TK Rp 5 juta, SD Rp 20 juta, SMP Rp 30 juta, SMA Rp 35 juta, dan kuliah Rp 50 juta.

Itu belum termasuk biaya kebutuhan lainnya. Jika mau dihitung berikut iuran bulanan/semesteran, maka asumsinya adalah PAUD Rp 50 ribu per bulan atau Rp 600 ribu per tahun, TK Rp 100 ribu per bulan atau Rp 2,4 juta per 2 tahun, SD Rp 500.000 per bulan atau asumsi Rp 18 juta per 6 tahun), dan SMP Rp 1 juta per bulan atau Rp 36 juta per 3 tahun.

Untuk biaya iuran SMA Rp 2 juta per bulan Rp 72 juta per 3 tahun, lalu kuliah Rp 7 juta per semester atau Rp 56 juta per 4 tahun.

Sehingga, totalnya akan didapat angka Rp 327 juta untuk uang masuk dan iurannya selama total 13 tahun, dan itupun belum ditambah biaya kos, konsumsi, atau transportasi rutin.

Sari Insaniwati, perencana keuangan dari PT Mitra Rencana Edukasi, mengatakan inflasi biaya pendidikan di Indonesia sebesar 10%-15% per tahun, termasuk yang paling mahal dibanding negara lain sekitar 5% per tahun.

Dengan asumsi skenario salah satu inflasi yang cukup tinggi 15% (ada beberapa yang menilai inflasi pendidikan per tahun bahkan mencapai 20%), dan dengan memperhitungkan periode anak akan mulai masuk sekolah PAUD pada 2021 maka nilai uang muka sekolah mencapai Rp 757,69 juta.

Jika jumlah uang muka ditambah dengan iuran yang sudah ditotalkan dengan nilai masa depan dan ditotal periode mengenyam bangku sekolah dan kuliah Rp 1,05 miliar, maka akan didapatkan angka Rp 1,81 miliar.

Simulasi itu tentu belum memperhitungkan jika anak Anda bersekolah di sekolah negeri di Jakarta yang gratis atau mendapatkan beasiswa.
Angka yang mencengangkan bagi sebagian orang tersebut tentu akan sulit didapatkan jika hanya berharap pada penambahan organik simpanan tabungan kita.

“Untuk itu, jangan hanya memikirkan pendidikan PAUD, TK, tetapi yang paling penting adalah untuk kuliah. Bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi nilai ke depannya juga akan tinggi,” ujar Sari.

Dia juga menyarankan bagi orang tua untuk segera berhitung dan berinvestasi sedini mungkin, bahkan sejak baru menikah sehingga jangan menunggu sampai si jabang bayi lahir.

Selain memulai, Sari mengingatkan nilai inflasi biaya pendidikan yang tinggi yaitu 15% tentu hanya dapat dikalahkan oleh instrumen investasi yang bisa di atas angka itu, dengan risiko yang terukur juga.

Karena itu, dia menyarankan bagi pasangan muda atau yang baru ingin memulai investasi dengan tujuan pendidikan anak untuk memiliki investasi jangka panjang pada instrumen saham blue chips atau reksa dana saham yang lebih terkelola risikonya dibanding jenis reksa dana saham yang fluktuatif.

Pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), secara historis memiliki pertumbuhan tahunan majemuk (compounded annual growth rate, CAGR) sejak 2008-2018 atau dari 1.355 pada 2008-6.194 pada 2018 sebesar 16,41%, di atas inflasi biaya pendidikan.

Semakin muda seseorang atau pasangan, maka waktu yang dimiliki untuk mengumpulkan dan menginvestasikan dananya untuk masa depan akan semakin panjang, sehingga alokasikan investasi jangka panjang dalam jumlah yang lebih besar.

Untuk pasangan berumur 20-an, tentu tidak sulit untuk mengalokasikan 30%-50% dana menganggur untuk investasi jangka panjang sebelum terbelit kebutuhan rutin yang lebih besar lagi.

Porsi persentase investasi jangka panjang, secara lumrah, akan semakin berkurang seiring berjalannya waktu karena profil risiko-investasi seseorang akan semakin rapuh sejalan dengan umur.

Selain itu, jangan lupa juga untuk memproteksi pendidikan anak dengan produk asuransi pendidikan.

Asuransi jenis itu, tutur Sari, perlu untuk melindungi kepentingan dana pendidikan anak jika sewaktu-waktu orang tua terkena penyakit atau bahkan meninggal.

“Asuransi pendidikan penting karena akan dilanjutkan si asuransi jika orang tua terkena musibah dan tidak dapat melanjutkan pembayaran premi, tetapi jangan semua dana untuk asuransi pendidikan juga karena hasil investasi di produk itu juga terbatas, tidak seperti investasi kita sendiri,” ucapnya.

Jadi, tuturnya, diversifikasi juga penting tidak hanya untuk kepentingan anak tetapi juga kepentingan masa depan lain terutama untuk pensiun agar masa tua orang tua tidak menyusahkan anaknya.

Agus Basuki Yanuar, Direktur Utama PT Samuel Aset Sekuritas, menambahkan bahwa simulasi dan penghitungan bagi kebutuhan masa depan, utamanya biaya pendidikan anak, sangat penting dilakukan oleh orang tua.

“Simulasi dapat dilakukan secara sederhana. Kalau saya dulu mencoba sendiri dengan aplikasi spreadsheet sehingga fungsinya bukan untuk menakuti, tetapi untuk mendapatkan gambaran tentang perlunya investasi. Jangan sampai tidak investasi. Salah satu gunanya ya untuk dana pendidikan itu.”

Berikut beberapa tips perencanaan yang dapat dilakukan terkait pendidikan anak :

  • Lebih cepat memulai, lebih baik. Baik dari mulai menghitung maupun investasinya, bahkan kalau bisa dari mulai setelah menikah.
  • Jangan gengsi dalam pendidikan, dan sesuaikan kemampuan masing-masing dalam menyekolahkan anak.
  • Berinvestasilah pada instrumen saham yang mampu mengalahkan inflasi.
  • Jangan lupa untuk membeli asuransi pendidikan. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *