Jalan Terjal Aria Permana Menuju Kurus

Jalan Terjal Aria Permana Menuju Kurus

Kabar terkini mengenai kondisi Aria Permana

Perjuangan Panjang Aria Permana Untuk Menjadi Kurus

Konten.co.id – Indonesia sempat dihebohkan Aria Permana sebagai anak tergemuk di dunia. Waktu itu diusia 12 tahun Aria memiliki bobot mencapai 192 kg dan ini membuatnya menjadi pengidap obesitas ekstrem.

Daily Mail bahkan memberinya julukan ‘World Fattest Boy’ atau Bocah Tergemuk Sedunia. Obesitas ekstrem itu juga menyulitkan Aria beraktivitas atau bahkan sekadar duduk sekalipun.

Kini Aria telah berhasil menurunkan bobotnya hingga 87 kg dan mengikis gelar Bocah Tergemuk Sedunia. Dilansir dari detikhealth, Aria lahir pada 15 Februari 2006 secara normal dengan berat badan 3,7 kg di Karawang, Jawa Barat. Tumbuh kembangnya normal seperti anak seusianya.

Namun dituturkan oleh Ade Soemantri (43), ayahnya, obesitas yang dialami Aria diawali saat ia mengalami diare parah pada usia lima tahun dan sempat membuat Aria tidak mau makan.

Hingga sang dokter memberi obat nafsu makan. Aria pun jadi gemar mengkonsumsi mi instan bahkan hingga lima bungkus per hari dan 20 gelas minuman manis.

Nafsu makan berlebih dan pola makan yang tidak sehat membuat bobot Aria naik drastis hingga mencapai 90 kg walau usianya masih 7 tahun. “Kalau makan mi instan bisa sampai 2 bungkus sekali makan, kalau sehari berarti 6 bungkus, tiga kali makan. Sama sehari habis 20 gelas minuman manis, nggak minum air putih, sampai harus nyetok,” tutur Ade.

Aria mengaku tiap satu jam terasa lapar hingga pola makannya tidak terkontrol. Bobotnya melonjak cepat hingga mencapai angka 192 kg saat ia berusia 10 tahun di 2016 lalu.

Ia lalu mulai kesulitan berjalan, bergerak dan bahkan harus berhenti sekolah. Berita tentangnya mulai tersebar luas hingga terdengar oleh Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana dan dibawa ke RS Hasan Sadikin.

Aria sempat ditangani 13 dokter yang terdiri dari dokter ahli gizi, kejiwaan serta dokter spesialis. Ia juga sempat dirawat dan berat badannya turun, tapi naik lagi. Saat itu pula media Inggris Daily Mail mendengar kabar tentangnya, menjuluki Aria sebagai World’s Fattest Boy, dan Museum Rekor Indonesia menjuluki Anak dengan Bobot Terberat.

Kabar Aria pun sampai ke telinga binaragawan nasional Ade Rai. Pertama ia memberikan Aria alat yang bisa membuatnya lebih banyak bergerak, seperti bola, raket untuk bulu tangkis, barbel dan stamper.

Ade Rai juga mengaku membantu orang tua Aria untuk mulai memberikan makanan yang lebih sehat. Misal dengan mulai mengganti makanan yang digoreng dengan dipanggang atau direbus dan memperbanyak sayur.

Lalu mukjizat pun datang ketika ia mulai susah bergerak dan berjalan. OMNI Hospitals Alam Sutera memberikan tawaran untuk berbagai operasi pada Juli 2017.

Tim yang dipimpin oleh dr Handy Wing, SpB, FBMS, FICS, dokter spesial bedah bariatrik beserta dokter gizi, dokter spesialis jantung, dokter anak, dan masih banyak lagi berencana melakukan bedah bariatrik gastric bypass lambung. Operasi ini guna mengatasi obesitas ekstrem yang dialaminya.

“Operasi cuma membantu makannya nggak lebih dari lima sendok sama nggak cepet laper. Udah. Tapi apa yang diisi, olahraga apa, aktivitas sehari-hari ngapain, itu ya orang tua dan Aria sendiri yang ngejalanin. Itu kredit paling besar,” kata dr Handy, beberapa waktu lalu.

Operasi dijalani Aria berbuah hasil. Berat badannya mulai berangsur-angsur turun. Pada Mei 2018 lalu, berat badannya bisa turun mencapai 102 kg dan ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

“Masih pengen kurusin lagi. Akhir tahun ini pengen sampe 80-an kilogram. Pengen ngebela timnas. Mau gabung timnas, sama Liverpool juga,” ungkap Aria, yang kini hanya bisa makan sekitar lima sendok dan bisa muntah jika kelebihan.

Tekad Aria menguruskan badan didorong oleh keinginan terus bermain bersama teman-temannya, bisa bepergian dengan bebas, dan tentu mewujudkan cita-citanya sebagai pesepak bola.

Akibat bobot yang turun drastis, kini Aria harus bersiap untuk menjalani operasi kedua, yakni operasi pengangkatan kulit yang menggelambir di tubuhnya setelah mengalami peregangan akibat lemak yang sebelumnya menumpuk di tubuh Aria. Semula operasi tersebut akan dimulai tahun 2018, namun lantaran biaya mencapai Rp 200 juta membuat orang tuanya mengurungkan niatnya tersebut.

Walau rencana semula operasi ini akan dijalankan pada akhir tahun 2018, sayangnya karena kendala biaya Aria belum menjalani operasi tersebut. Diperkirakan biaya akan menghabiskan 200 juta rupiah, jumlah yang sangat besar bagi kedua orang tuanya.

Berat Aria kini sudah mencapai 87 kilogram dan duduk di bangku SMP. Sayangnya perjalanannya belum usai, karena kulit gelambir Aria membuatnya cukup minder dan terganggu. Ade mengaku hanya ingin Aria bisa menjalani operasi tersebut agar bisa beraktivitas normal seperti anak-anak lainnya.

“Kalau Aria lagi jalan dan bajunya longgar keliatan nggak nyaman banget, kulit tangan dan perut gerak-gerak mengikuti gerakan langkah Aria,” kata Ade yang kini membuka donasi untuk membantu biaya operasi Aria tersebut. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *