fbpx

Imanez dan Revolusi Reggae Indonesia

Imanez dan Revolusi Reggae Indonesia

Imanez adalah salah satu pionir yang memiliki andil serius terhadap perkembangan musik reggae di Indonesia.

Mengenang 16 tahun Wafatnya Imanez, Icon Revolusi Reggae Indonesia

Konten.co.id – Imanez. Ya, sebuah nama inspiratif di dunia musik tanah air. Siapapun pastilah mengakui, Imanez adalah salah satu pionir yang memiliki andil serius terhadap perkembangan musik reggae di Indonesia. Imanez adalah sosok unik, seniman dengan karya yang melampaui jamannya. Gubahan aransemen dan liriknya, tidak hanya berhasil membuat pendengarnya tersugesti. Tapi juga menggiring mereka untuk masuk ke dalam ruang imaji tanpa batas.

Imanez lahir pada 22 Juni 1968, dengan nama Abdul Firman Saad. Iman, demikian nama kecil musisi Potlot ini, adalah kreator jenius yang berhasil membangun karakter musik reggae Indonesia. Lewat sentuhan tangan dinginnya, Reggae meng-Indonesia. Di awal kemunculannya, usungan musik reggae Iman bersama personel Potlot lain, berhasil mencuri perhatian banyak kalangan. Termasuk rezim penguasa. Industri musik tanah air yang kala itu tengah dominan dikuasai genre musik dangdut, rock dan heavy metal, dibuatnya terhenyak.

Beragam lirik yang ditulis Imanez tidak hanya bercerita tentang keseharian rakyat pada umumnya, tapi juga kritik sosial maupun politik. Ia paham betul bahwa induk semang musik reggae adalah perlawanan. Kegeraman terhadap sistem politik rezim orde baru yang kaku dan otoriter, disampaikan Imanez lewat lirik lagu-lagunya. Dua album Imanez, Anak Pantai (1994) dan Sepontan (1995), secara implisit memperlihatkan itu.

Concern Imanez dan musisi-musisi Potlot lain terhadap isu-isu sensitif kala itu, sempat membatasi ruang gerak penyebaran karya-karya mereka. Rezim penguasa menilainya sebagai seniman tak lazim, dan layak untuk ‘di cekal’. Pasca wafatnya, sosok dan karya seniman nyentrik ini kemudian melegenda ; tidak hanya di kalangan musisi, tapi juga penikmat musik tanah air. Bahkan hingga sekarang.

Tiga hari yang lalu, tepat 16 tahun sudah kepergian Imanez. Sebelum wafatnya, Imanez sebetulnya tengah menggarap album ketiga bertajuk “Andai Bunga”. Album ini sudah hampir rampung 90%.

Namun takdir lebih dulu menjemputnya. Imanez meninggal pada 22 Juni 2004, pukul 11.40 wib, di RS Kanker Dharmais, setelah lama menderita lever akut dan kanker hati. Atau tepat di hari ulang tahunnya yang ke-36.

Imanez

Pengakuan terhadap kemampuan dan bakat alami bermusiknya, serta tentu saja lezatnya racikan aransemen yang ia hasilkan, tidak hanya keluar dari musisi-musisi jebolan Potlot. Musisi sekelas Iwan Fals pun pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap karya-karya brilian Imanez. Beberapa waktu lalu, para musisi senior tanah air mengadakan even bertajuk ‘A Tributes to Imanez’. Sebuah apresiasi terhadap kejeniusan bermusiknya.

Imanez berhasil menjadi pelopor perubahan di tanah air lewat musik reggae yang dibawakannya. Imanez berusaha menggugah bangsanya agar berani lepas dari kungkungan sistem yang diciptakan rezim otoriter orde baru kala itu. Ia lantang bersuara untuk perubahan. Industri musik negeri ini – bawah tanah maupun mainstream – telah banyak melahirkan musisi-musisi legendaris yang karyanya tak lekang di makan waktu. Dan karya Imanez adalah salah satunya.

Tentu saja penulis berharap, Imanez-imanez baru terus bermunculan. Agar negeri ini bisa terbebas dari kebodohan, serta keterbelakangan mental yang akut ; Korupsi terutama. Korupsi adalah penyakit akut yang musti dimatikan. Apapun genre-nya, musik memiliki ‘bahasa universal’ yang terbukti efektif bagi perubahan.

Bahasa yang dapat mempersatukan kita dalam semangat yang sama : semangat perubahan. Yang tentu saja se-bersemangat dan se-revolusioner Imanez !
RIP, Imanez….(IGR).

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video