Gelombang Panas Serang Eropa

Gelombang Panas Serang Eropa

Jerman dan Prancis sudah mengalami panas yang luar biasa.

Gelombang Panas 40 Derajat Celcius Serang Eropa

Konten.co.id – Benua Eropa dipastikan akan mengalami cuaca ekstrem pekan ini. Benua biru akan diterjang gelombang panas dan cukup berbahaya. AccuWeather memprediksi kalau temperatur beberapa kota di benua biru itu bisa mencapai 40 derajat Celsius.

Gelombang panas ini dikarenakan kombinasi antara badai di Samudra Atlantik dengan tekanan udara tinggi di Eropa tengah. Kondisi itu bisa membuat udara panas dari Afrika sampai ke Eropa.

Gelombang panas yang berpotensi bahaya, akan terjadi di sebagian besar wilayah Eropa barat dan tengah.

Badan meteorologi Prancis, Météo-France Senin (24/6/2019), mengungkapkan temperatur di negara itu akan mencapai temperatur antara 35 derajat Celcius sampai 40 derajat Celcius. Kondisi tersebut bakal terjadi di beberapa kota.

“Meski gelombang panas hanya akan terjadi sebentar, gelombang panas ini harus diwaspadai karena momentum dan intensitasnya,” jelas AccuWeather, seperti dilansir The Guardian.

Menteri Kesehatan Prancis, Agnès Buzyn, telah memberikan peringatan agar negaranya bersiap menghadapi gelombang panas ini, terutama bagi panti jompo dan rumah sakit. Ia menggarisbawahi bahwa 2018 lalu di musim panas terjadi 1.500 kematian lebih banyak akibat gelombang panas.

Sementara itu, ahli meteorologi di Jerman mengatakan ada 50 persen kemungkinan temperatur mencapai 40 derajat Celsius di sana. Bahkan, gelombang panas diprediksi akan memecahkan rekor temperatur terpanas yang negara itu pernah rasakan, yaitu 40,3 derajat Celsius di Bavaria pada 2015 lalu.

AccuWeather menjelaskan, beberapa kota besar Eropa, dari Madrid sampai Berlin akan mengalami gelombang panas selama beberapa hari pada pekan ini. Temperatur diprediksi bakal mencapai 32 derajat Celsius atau lebih.

Kondisi ini akan membuat keadaan di Eropa berbahaya. Eric Leister, ahli meteorologi senior AccuWeather menjelaskan, hal itu akan terjadi terutama pada mereka yang tinggal di rumah-rumah tanpa pendingin ruangan.

“Beberapa hari dengan panas yang ekstrem, dikombinasikan dengan malam yang panas akan membuat bangunan dan rumah tanpa pendingin ruangan tidak bisa mendingin,” kata Leister.

“Ini akan menciptakan kondisi tidur yang tidak nyaman, sekaligus meningkatkan risiko penyakit akibat temperatur tinggi.”

Dengan cuaca ekstrem ini, orang tua dan anak-anak diprediksi akan berada dalam risiko tinggi. Leister menambahkan, bahwa terlalu sering berada di luar ruangan bisa meningkatkan risiko dan dampak cuaca panas.

Ramalan cuaca jangka panjang mengungkap bahwa temperatur musim panas di Eropa, mulai Juli sampai Agustus, akan lebih tinggi dari biasanya. European Environment Agency menjelaskan, temperatur bisa sama atau bahkan lebih tinggi dibanding temperatur musim panas 2018. 2018 adalah salah satu tahun paling panas bagi Eropa.

Sebelumnya, para peneliti telah mengatakan bahwa pada tahun 2018 lalu gelombang panas menyebabkan peningkatan kematian, penurunan hasil pertanian, penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir, dan kebakaran di daerah Arktik. Kejadian itu dihubungkan dengan permasalahan lingkungan dan iklim ekstrem yang diduga akan semakin sering terjadi dalam tahun-tahun ke depan. (*)

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *