Fakta-fakta Lucu yang Tersaji dalam Persidangan MK

Fakta-fakta Lucu yang Tersaji dalam Persidangan MK

Sidang MK tidak melulu menyajikan fakta-fakta serius. Dalam persidangan tersebut, tersaji pula kejadian-kejadian lucu.

‘Dagelan’ di Persidangan MK: BW Diomeli Hakim Karena Mondar-mandir, Hingga ‘Halusinasi’ Saat Bersaksi

Konten.co.id – Tidak melulu menyajikan fakta-fakta serius, sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi juga menghadirkan banyak keseruan. Cukup menghibur, dan pas buat mengendurkan otot-otot syaraf kita yang tegang setelah sibuk menjalani rutinitas lima hari ke belakang.

Bambang Widjojanto Ditegur Hakim karena Mondar-mandir saat Sidang

Kejadian unik terjadi tatkala persidangan menghadirkan saksi dari Paslon Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Jumat (21/6/2019). Salah satunya saat Bambang Widjojanto, Ketua Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, yang ditegur Hakim Mahkamah Konstitusi Saldi Isra.

Awalnya, Hakim MK Manahan M.P. Sitompul tengah menanyai saksi Candra Irawan. Tiba-tiba, Saldi menyela dan menegur Bambang agar berpindah duduk ke kursi barisan belakang agar BW dan timnya tidak bolak-balik saling menghampiri di dalam ruang sidang.

“Pak Bambang, supaya Bapak tidak pindah-pindah mungkin pindah ke belakang saja kalau mau koordinasi. Ada yang berdiri-berdiri dalam ruang sidang kan tidak baik,” kata Saldi.

“Baik, semua pihak harus menaati aturan dan menghormati persidangan ini,” kata Manahan Sitompul.

Teguran tersebut bukan sekali terjadi. Dalam sidang Jumat (14//2019), Bambang dan hakim juga berdebat soal jumlah saksi dan perlindungan saksi. Hakim menolak permintaan Bambang yang ingin menghadirkan 30 saksi.

“Pak Bambang yang tentukan, mana dari 30 orang itu yang besok (Rabu), harus kami ambil sumpahnya. Jangan berikan beban itu pada Mahkamah. Tentukan sendiri berdasarkan dalil-dalil permohonan. Yang paling penting bagi Mahkamah adalah kualitas kesaksian, bukan kuantitas,” kata Saldi Isra, Jumat (14/6/2019).

BW pun kembali kena semprot. Kali ini dari hakim MK Arief Hidayat lantaran memotong saat Arief sedang menanyai saksi dari pihak 02, Idham tentang posisi saksi saat pemilihan presiden 2019.

Pada hakim, Idham mengaku tidak terlibat dalam tim pemenangan pasangan calon 02, karena berada di kampung. Namun Arief heran saat saksi mengatakan akan memberi keterangan tentang DPT seluruh Indonesia.

Arief kemudian mempertanyakan kembali saat saksi mengatakan mendapat data DPT itu dari DPP Partai Gerindra. “Makanya saya tanya, posisi Anda itu persisnya apa di pemilu ini? Kalau Anda dari kampung, mestinya yang Anda ketahui ‘kan situasi di kampung itu. Bukan nasional,” kata Arief.

Saat Sidang, Lutfhi Yazid Malah Umbar ‘Prestasi’

Bukannya memberikan eksepsi atau hal-hal lain yang laiknya terjadi dalam sebuah persidangan, kuasa hukum Prabowo-Sandi Lutfhi Yazid malah umbar prestasi dan ‘curhat’ tentang pengalaman masa lalu bersama kolega-koleganya, sesama kuasa hukum masing-masing kubu.

Pemandangan unik ini terjadi saat Luthfi Yazid mendapat giliran menyampaikan pertanyaan kepada saksi ahli yang dihadirkan kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf, Heru Widodo.

Luthfi mengaku tak ingin kalah dan mengalah dari tiga kolega yang sebelumnya mengajukan pertanyaan kepada saksi ahli Jokowi-Ma’ruf yang lain, Eddy Hiariej.

“Saya juga tidak mau kalah dari teman-teman saya, Yang Mulia,” kata Luthfi di ruang sidang MK.

Sambil tertawa, hakim MK Arief Hidayat mempersilakan Luthfi beraksi. Sidang MK, kata Arief, adalah ajang unjuk gigi para pakar hukum Indonesia.

Lutfhi kemudian mengisahkan awal perkenalannya dengan Heru Widodo, yang merupakan teman satu indekosnya ketika kuliah. Ia bercerita, kalau mereka sama-sama mendapatkan gelar sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Luthfi mengklaim kalau dirinyalah yang mengajari Heru menulis. “Kamar beliau ada di samping kamar saya. Saya sangat berterima kasih, karena dalam disertasinya, nama saya disebut sebagai orang yang mengajarkan dia menulis. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” kata Luthfi.

Setelah itu, Luthfi menyebut Eddy Hiariej serta dua koleganya di tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga, Iwan Satriawan dan Denny Indrayana sebagai juniornya. Namun, “junior juga bisa lebih pintar daripada seniornya,” kata Luthfi.

Lalu Luthfi menceritakan prestasinya di bidang hukum. Dia mengaku bersyukur pernah diundang sebagai peneliti di Gakushuin University of Law, Jepang. Dia berujar dirinya diundang sebagai profesor tamu, meski dirinya bukan profesor. “Undangannya visiting professor. Padahal saya bukan professor. Tapi saya diundang sebagai visiting professor,” kata Luthfi.

Hakim Tolak Dipanggil ‘Baginda’

Kejadian unik lain terjadi saat hakim konstitusi dipanggil “Baginda”. Padahal biasanya dipanggil sebagai ‘Yang Mulia’ ketika sidang.

Tapi saksi Prabowo-Sandiaga yang bernama Hairul Anas, sempat memanggil hakim dengan sebutan ‘Baginda’.

Awalnya, anggota majelis hakim I Dewa Gede Palguna bertanya tentang pelatihan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf yang sempat diikuti Hairul Anas.

Hairul Anas adalah caleg PBB yang belakangan kemudian bergabung dengan relawan IT Prabowo-Sandiaga.

Dalam kesaksiannya, Hairul Anas mengaku mendapat materi ‘kecurangan bagian dari demokrasi’ dalam pelatihan tersebut. Palguna pun menggali soal materi itu.

“Saudara dilatih untuk melakukan kecurangan, atau saudara diterangkan bahwa ada kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam demokrasi? Itu dua hal yang berbeda,” tanya Palguna.

“Lebih cenderung pada yang kedua. Ini pengakuan bahwa kecurangan adalah suatu kewajaran, Yang Mulia,” jawab Hairul Anas.

Palguna pun menegaskan lagi bahwa Hairul Anas tidak dilatih untuk melakukan kecurangan.

Nah, saat menjawab pertanyaan inilah, Hairul Anas mengeluarkan ucapan ‘baginda’ itu. “Kita memang tidak dilatih untuk itu, tetapi ini adalah semacam pengakuan, Baginda, eh Yang Mulia,” ucap Hairul Anas.

“Jangan panggil ‘Baginda’, nanti saya jadi raja,” kata Palguna merespons.
Tawa pun terdengar di ruangan sidang. Hairul Anas segera minta maaf. “Maaf, saya baru bangun tidur,” kata Hairul Anas.

Saksi 02 Merasa “Diancam” Saat Memberi Kesaksian, Padahal Jadi Saksi Saja Belum

Kelucuan selanjutnya, dihadirkan salah satu saksi dari kubu calon Presiden Prabowo Subianto bernama Agus Muhammad Maksum. Agus yang berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur ini, mengaku ‘ditugasi’ tim pasangan Capres dan Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk meneliti dan memberi masukan ke KPU soal Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sebelum memberi kesaksian, Agus ditanya oleh hakim MK Aswanto, soal kabar ancaman kepada dirinya. “Ancaman dalam bentuk apa yang saudara alami?” kata Aswanto.

Sementara Agus enggan menjawab secara terbuka. “Saya mohon maaf, tidak bisa menjelaskan di sini secara terbuka,” ucapnya.

“Lho, ndak bisa, ini pengadilan terbuka untuk umum, biar didengar dan disaksikan oleh rakyat Indonesia,” terang Hakim Aswanto.

Setelah desakan itu, akhirnya Agus menjawab. “Ancaman itu pernah sampai kepada saya dan juga keluarga saya. Beritanya juga sudah tersebar. Tentang ancaman pembunuhan,” kata Agus.

Saat Aswanto menanyakan siapa yang melakukan pengancaman, Agus kembali enggan menyampaikan. “Mohon maaf. Itu yang tidak ingin kami sampaikan,” katanya.

Kelucuan pun muncul ketika Agus ditanya soal kapan pengancaman itu terjadi. “Sekitar bulan April. Awal bulan April, pak Hakim,” jawab Agus.

“April? berarti ketika itu ‘kan saudara belum ketahuan akan menjadi saksi atau tidak? Betul begitu, kan ?” tanya hakim.

“Eu.. iya, pak. Memang belum,” jawab Agus. (*)

Penulis : Ade Indra

Penulis : Ade Indra

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *