Exclusive Interview with The SIGIT

Exclusive Interview with The SIGIT

Interview dilakukan tepat setelah mereka perform dalam sebuah acara di Garut. Meski terlihat masih lelah, syukurlah para personil band yang nge-hits lewat lagu-lagu berdistorsi gahar dan lirik-lirik kritis yang ‘nendang’ banget ini masih tetap bersedia memenuhi permintaan kru kami tersebut.

KAMI THE SIGIT, BUKAN THE DEMIT!

Konten.co.idYessss… here we come ! Ini lho petikan wawancara eksklusif kru Konten.co.id dengan The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The S.I.G.I.T), band yang diawaki Rektivianto Yoewono (vokalis dan gitar), Farri Icksan Wibisana (gitaris), Aditya Bagja Mulyana (bass) dan Donar Armando Ekana (vokalis dan drummer).

Di tengah hiruk pikuk fans mereka yang ramai minta tanda tangan, sesi foto, dan lain sebagainya, juga ketatnya prosedur birokrasi panitia lokal serta pengamanan dari para bodyguard yang bertugas mengawal mereka, akhirnya kru kami berhasil juga meminta sesi wawancara khusus di backstage.

Salah satu gaya panggung THE SIGIT

Interview dilakukan tepat setelah mereka perform dalam sebuah acara di Garut. Meski terlihat masih lelah, syukurlah para personil band yang nge-hits lewat lagu-lagu berdistorsi gahar dan lirik-lirik kritis yang ‘nendang’ banget ini masih tetap bersedia memenuhi permintaan kru kami tersebut.

Oke lah, nggak usah lama-lama… mari simak saja obrolan santai kami dengan The S.I.G.I.T !

Filosofi kalian sebagai band apa sih ?

All : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh ! hahhahaaa…

Wkwkwkwk. Baiklah. Trus Influence bermusik kalian ?

Rekti : Banyak lah, bro. Kita nggak mau jadi band ‘cover version’ atau apa, gitu. Kita ya kita. Kalau pun ada, paling jadi referensi kita aja.

All : Ideeeeemmm.. (tapi ada yang nyeletuk ‘soneta’. Lho, kok ? hahahaa….. red.)

Genre music kalian ?

Adit : Apa ya ? kita sih nggak membatasi karya, ya. Banyak yang bilang kalo musik kita ‘tuh Rock n roll, Rock, atau apa lah. Bahkan juga banyak yang bilang ‘metal’. Hahahaaa… terserah lah. Kadang gue sih berpikir, kenapa tidak kita coba Dangdut, misalnya.. hahaa.

Hahaha…. Beneran ? emang mau bikin lagu dangdut ?

Adit : hahahaa…. Nggak lah. (trus sambil berbisik Adit bilang : pengen nyoba juga sih… asik aja kayaknya.. hahahaaa)

Mana yang kalian tuju dalam nge-band… menjadi Entertainer, Popstar atau Selebritas ?

Rekti : Apa ajalah. Yang pasti sih kita konsisten bikin karya aja. ‘Kan yang mengapresiasi itu orang, bukan kita. Jadi terserah audiens aja sih. Mau bilang popstar, rockstar, atau apalah… ya terserah. Pokoknya kita bikin karya aja. Karya yang bisa dinikmati semua orang. ‘Kan gitu ya.. setiap musisi pasti seperti itu.

Keren ! Ok, pertanyaan selanjutnya nih. Persaingan di Industri musik tanah air ini ketat. Apa yang kalian lakukan untuk menyiasati itu ?

Adit : ya kita bikin karya yang fresh aja. Karya yang beda, dan inovatif aja sih.
Rekti : Gini ya… hhhmmm…. Ya udah lah gue idem sama Adit aja.. haha.
Farri : Kayaknya gitu juga sih. Sama. Musik itu kan universal ya. Kita cuma berkarya aja.
Acil : Iya. Tentu kita sangat bersyukur karya kita diterima banyak orang. Soal persaingan, itu sih sudah hukum alam ya. Kalau nggak ada persaingan, ya kita nggak bakal terpacu buat bikin karya yang berkualitas.
Rekti : Karya, karya dan karya saja lah pokoknya, bro. Karya yang disetiapnya ‘tuh (album –red) berbeda. Inovatif.

Tantangan nge-Band itu berat. Gonta-ganti personil, hingga ancaman bubar di tengah jalan. Nah, apa tips-nya agar hal serupa tidak terjadi pada Band kalian ?

Rekti : Oh ya pasti berat, lah. Kita sih kompak-kompak aja. Di bawa asik aja, lah..
All personil : Sepakat lah sama dia (Rekti, maksudnya – red).

Musisi itu identik dengan idealisme. Seringkali idealisme bermusik seorang musisi ‘bertubrukan’ dengan ‘keinginan pasar’. Kalian mengalami itu nggak, bro ? kalo ya, kalian terbebani nggak sih dengan itu ? trus nyikapinnya gimana ?

Adit : Kita nggak segmented, lah pokoknya. Kita bikin karya sebagus mungkin aja.
Farri : Menurut kita sih, ‘pasar’ itu bakal terbentuk dengan sendirinya. Jadi nggak mesti pendengar kita itu harus kalangan ini, kalangan itu… nggak lah.

Dalam konteks kalian sebagai musisi yang tergabung dalam sebuah band, tentunya masing-masing punya perbedaan soal influence, karakter serta ego bermusik. Di band kalian, soal itu jadi kendala nggak ?

Rekti : Jadi kendala sih, nggak ya. Cuma kadang memang itu suka muncul juga. Tapi ya kita balik lagi ke tujuan awal kita bikin band ini. Konsep kita sih bukan meredam ego atau apa, gitu ya. Bukan itu. Lebih ke …. Apa ya… sinergis, lah.

Acil : Ya. Sering kita berdebat soal aransemen, lirik, dll. Hal-hal teknis, lah. Tapi ya itu tadi, selama itu bagus buat perkembangan band ini, nggak masalah buat kita. Justru asiknya ‘tuh disitu. Dengan semakin banyaknya influence, itu bakal semakin memperkaya musikalitas The SIGIT.

Terus gimana cara kalian mempersatukan semua perbedaan itu, hingga bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa diterima serta dinikmati segmen pendengar kalian ?

Rekti : Sinergis aja. Kita sudah cukup lama bareng-bareng, ya. Jadi satu sama lain sudah paham karakter masing-masing. Dan karena kita mencintai apa yang kita kerjakan, semua itu ‘tuh sudah tak lagi jadi masalah buat kita.

Oh iya… bicara segmentasi. Sebetulnya segmen yang kalian tuju itu siapa sih ?

Rekti : Siapapun yang suka, ya itu segmen kita… hahhaa.

Oke. Nah, lirik kalian bicara soal apa ?
Rekti : Sosial dan Politik. Kita menyuarakan itu dilirik-lirik kita. Kehidupan sosial dan politik. Tapi dari sudut pandang kita sebagai rakyat, ya. Rakyat musisi.. hahaha.

Adit : Kita nggak beda-bedakan segmen ‘lah. Siapapun yang seneng musik, ya itu segmen kita. Penggemar dangdut sekalipun. (Semua tertawa – Red.).

Ada nggak personil yang paling dominan di band kalian ?

All : Nggak ada. Kita semua saling melengkapi aja. Kalo paling gendut sih …. Ada ! hahahahaaa

Trus siapa yang paling produktif bikin lagu ?

All : bareng-bareng aja. ‘Kan kita band. Ya kolektifitas aja, lah.

Pernah nggak punya kekhawatiran soal… misalnya, karya kalian nggak di terima ‘Pasar’ ?

Rekti : Nggak, lah. Intinya sih gimana keseriusan kita aja. Kalau kita bekerja keras, fokus, ya hasilnya bakal optimal. Audiens itu sudah pinter-pinter sekarang. Jadi, karya bagus pasti bakal diapresiasi.

Kalian selama ini dikenal sebagai band yang konsisten di jalur indie. Di mata kalian, masih layak nggak dikotomi indie label vs major label ?

Rekti : Buat kita sih nggak ada beda, lah. Parameternya karya. Dikotomi major label dan indie label sudah nggak lagi jadi ukuran sukses tidaknya sebuah band. Sama aja, lah. Udah nggak jamannya lagi.

Kalian salah satu Band Indonesia yang sudah Go Internasional. Dikenal di luar negeri. Bahkan kalian ‘kan berangkat dari label luar, kalau nggak salah. Itu keren. Jarang lho ada band kita yang bisa seperti itu. Maknanya buat kalian apa ?

Rekti : Hmmm… oke. Go InternasionalGo, artinya pergi. Maknanya buat kita, ya… Pergi ke luar negeri mungkin ‘ya ? hahaha…. Gitu aja, deh pokoknya. Bersyukur aja.

Setiap band itu biasanya pasti memiliki diehard fans aka groupies. Nah, ngomong-ngomong soal groupies nih… Pernah nggak kalian memiliki ‘masalah’ dengan groupies yang terkadang ‘irasional’ saat menunjukkan kecintaannya terhadap idola mereka, dalam hal ini kalian ?

All : Belum pernah, sih. Karena mereka, kami ada! Gitu aja. Hahaha..

Nah, buat yang sudah punya pasangan nih…. Pernah nggak sih pasangan kalian cemburu dengan fans ? atau complain soal tersitanya waktu kebersamaan dengan keluarga dan atau pacar, karena kesibukan kalian sebagai musisi ?

All : Jarang, sih. Mereka ngerti, lah. Ini kan tuntutan profesi. Konsekwensi pekerjaan.

Kok mau sih manggung kota kecil seperti Garut ?

Adit : Ya mau lah. Kenapa nggak mau ?
Rekti : Mertua gue orang Garut, kok. Tiap liburan gue sering ke Garut. Kita nggak beda-bedain kota besar atau kecil. Kalau ada kesempatan dan jadwalnya sesuai, kita pasti mau diundang manggung di mana pun.
Adit : Tuh ‘kan ? mertuanya orang Garut. Hahaha…
Acil : Iya… kita nggak gitu lah. Kota besar, Kota kecil.. sama aja. Siapa bilang Garut itu ‘kecil’ ? musti bangga, lah. Jangan mengecilkan diri seperti itu, dong ah… hahaha.

3 kata yang menggambarkan Garut ?

Rekti : Saya Suka Garut ! (Semua taklid sama Rekti – red)

Kapok nggak main di Garut ?

All : Nggak sama sekali. Garut asik, lah pokoknya !

Resolusi band kalian di tahun ini apa ?

Adit : Resolusi apa dulu nih ? kalo soal karier band sih, ya pastinya kita ingin band kita tetap eksis, dengan karya yang semakin berkualitas tentu saja.
Rekti, Farri dan Acil (saling menimpali) : Gini…. Kalo dulu tuh resolusi kita four key… nah, sekarang… seven key ! itu. (Maksudnya apa, kita juga nggak ngerti… hahahaaa. Ada yang tau ? Red.)

Terakhir nih…. Kenapa sih band ini kalian namakan The Sigit ? bukan The Demit, misal ? hahahaa… becanda.

Rekti : hahahahaaa…. Anjrit. Gini aja lah… lu namanya siapa ?
Reporter Konten.co.id : (Nyebutin nama – red)
Rekti : Nah, itu. Terserah kita, lah, mau bikin nama apa. Pokoknya, kami The SIGIT, bukan The Demit! hahahaa

Hahahahaaa….. gini lho maksudnya, ada filosofi nggak di balik nama itu?
Rekti
: Ya kalo menurut falsafah Jawa itu, Sigit artinya Cakap. Demikian.
Adit : The Sigit itu singkatan. Nah…. Coba di googling, apa kepanjangannya. Jawabannya itu, lah.

Ok Makasih buat waktunya…. Hatur nuhun pisan, ya. Sukses !

All : Sama-sama. (*)

Gege Sureggae
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *