Tata Cara dan Pahala Itikaf

Tata Cara dan Pahala Itikaf

Untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar anda bisa itikaf di Masjid pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

10 Malam Terakhir Ramadhan, Berikut Tata Cara dan Pahala Itikaf

Konten.co.id – Malam Lailatul Qadar adalah malam mendapat pahala besar. Untuk mendapatkannya anda bisa melakukan itikaf.

Itikaf adalah ibadah dengan cara berdiam di dalam Masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Itikaf di Masjid hukumnya sunah muakkadah yang sangat efektif untuk taqarrub dan meraih Lailatul Qadar di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Itikaf sudah semestinya menjadi amalan andalan orang-orang shalih, sebagai satu sarana utama untuk meraih lailatul qadar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .

Dari Aisyah RA berkata: “Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, sampai Allah SWT mewafatkan beliau. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau juga melakukan I’tikaf.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Apakah Itikaf harus dilaksanakan selama 10 hari penuh di akhir bulan Ramadhan ?

Dikutip dari mediaumat, tidak ada dalil syar’i yang mewajibkan bahwa Itikaf itu lamanya harus 10 hari, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Bahkan beritikaf selama satu malam saja (tanpa siang harinya) dibenarkan oleh syara’.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA :

“Bahwa Umar pernah bertanya kepada Nabi SAW, Umar berkata,’Aku pernah bernadzar di masa Jahiliyah untuk beri’tikaf selama satu malam di Masjidil Haram.’ Nabi SAW bersabda,’ Penuhilah nadzarmu!” (HR Bukhari, hadits no 2032, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ad-Daruquthni). (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam, hal. 298).

Dalil hadits di atas menunjukkan bahwa melaksanakan Itikaf di malam hari saja tanpa siangnya adalah boleh.

Tidak ada dalil yang mewajibkan bahwa Itikaf harus 10 hari, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Kendati demikian, Itikaf di Masjid pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang lebih utama dalam rangka meraih Lailatul Qadar.

Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW yang selalu beritikaf selama sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.
Waktu Melaksanakan Itikaf

Dikutip dari bersamadakwah.net, Itikaf di bulan Ramadhan dilakukan di 10 hari terakhir.

Bisa dimulai ketika matahari terbenam pada malam ke-21 (atau ke-20 jika Ramadhannya 29 hari) hingga habis Ramadhan, yakni saat matahari terbenam pada malam hari raya Idul Fitri.

Lebih diutamakan jika ia meneruskan hingga sholat Idul Fitri dan baru meninggalkan Masjid setelah sholat Idul Fitri.

Waktu Itikaf sunnah suka rela atau tidak dibatasi.

Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, meskipun waktunya singkat, seseorang yang berdiam diri di Masjid dengan niat itikaf maka itu termasuk itikaf.

Namun menurut mazhab Maliki, waktu beritikaf minimal adalah sehari semalam.

Menurut mazhab Syafi’i, waktu Itikaf minimal adalah bisa disebut menetap atau berdiam diri di Masjid, yaitu lebih panjang dari ukuran waktu tuma’ninah saat ruku’ atau sujud.

Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, meskipun waktunya singkat, seseorang yang berdiam diri di Masjid dengan niat itikaf maka itu termasuk itikaf.

Namun menurut mazhab Maliki, waktu beritikaf minimal adalah sehari semalam.

Menurut mazhab Syafi’i, waktu Itikaf minimal adalah bisa disebut menetap atau berdiam diri di Masjid, yaitu lebih panjang dari ukuran waktu tuma’ninah saat ruku’ atau sujud.

Jadi menurut mazhab Syafii, Hanafi dan Hanbali, seseorang yang itikaf satu jam atau bahkan hanya setengah jam pun boleh.

Berdasarkan penjelasan tersebut, bagi yang tidak bisa beritikaf penuh pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, ia bisa beritikaf sebagiannya, seperti datang ke Masjid menjelang sholat Isya dan beritikaf sampai subuh.

Bisa juga datang ke Masjid beberapa jam sebelum sholat Subuh dan beritikaf sampai Subuh atau pagi hari.

Itikaf harus dilakukan di Masjid

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam Masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di Masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di Masjid.”

Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di Masjid.

Mengenai Masjid yang dipakai untuk Itikaf, menurut mazhab Hanafi dan Hambali yakni Masjid yang di dalamnya didirikan sholat berjamaah.

Menurut mazhab Maliki, tempat Itikaf adalah semua Masjid.Tidak boleh beritikaf di Masjid rumah yang tertutup untuk orang umum.

Demikian pula menurut mazhab Syafi’i, tempat itikaf adalah seluruh Masjid.
Keutamaan Itikaf

Itikaf mampunyai berbagai keutamaan.

  • Mendapat Pahala

Orang yang melaksanakan Itikaf akan mendapatkan pahala setiap saat.

Sebab, diamnya di Masjid dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT.

Saat terjaga, ia mengisi waktunya dengan shalat, tilawah, dzikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakkur atau mengkaji ilmu.

Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumahnya.

Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian Itikaf.

  • Meraih Lailatul Qadar

Orang yang Itikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, insya Allah akan mendapatkan Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar turun pada malam ganjil pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Orang yang Itikaf di Masjid akan merasakan hadirnya Lailatul Qadar.

Bahkan seandainya orang yang beritikaf itu sedang tertidur dan hanya bangun sebentar pada malam Lailatul Qadar, Insya Allah ia tetap mendapat Lailatul Qadar karena tidurnya merupakan rangkaian itikaf dan berpahala.

  • Meningkatkan Kesungguhan dalam Beribadah

Dikutip TribunStyle.com dari rumahzakat.org, orang yang melaksanakan Itikaf dapat meningkatkan kesungguhan dalam beribadah.

Aisyah menceritakan, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya” (HR. Muslim).

  • Terhindar dari Perbuatan Maksiat

Orang yang Itikaf di Masjid akan terjaga dari perbuatan maksiat.

Itikaf ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa, walau kecil sekalipun.

Itikaf dapat mencegah keinginan untuk melakukan kemaksiatan, serta mendidik berlaku sabar dalam menghadapi segala bentuk kemaksiatan.

  • Perenungan Tentang Hidup

Orang yang melaksanakan Itikaf juga bisa merenung banyak hal tentang hidup.

Berada di dalam Masjid membuat kita terkondisikan untuk mengingat Allah dan mengingat segala kebesarannya.

Untuk itu, kita akan mengingat bahwa dalam hidup banyak sekali dosa-dosa dan kesahalan baik yang disengaja ataupun tidak.

Untuk itulah Allah memberikan kita kesempatan itikaf salah satunya untuk mengingat dan merenungi kehidupan.

Perenungan saat Itikaf di Bulan Ramadhan ini juga bisa tentang masalah dunia dan akhirat, masalah kebahagiaan, masalah kesalahan di masa lalu, apa yang sudah kita lakukan dan apa yang sudah kita lalaikan. (*)

Penulis: Kharisma
Editor: Azzahra

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *