Tarif Bus di Kampung Rambutan Naik

Tarif Bus di Kampung Rambutan Naik

Kenaikan tarif sudah wajar terjadi setiap tahun.

Jelang Lebaran, Tarif Bus di Kampung Rambutan Naik

Konten.co.id – Menjelang lebaran, bus pun ramai dilirik oleh pemudik. Namun siapa sangka Perusahan Otobus (PO) justru ambil keuntungan dengan menaikkan tarif.

Salah satunya PO Harta Sanjaya yang berada di Terminal Bus AKAP Kampung Rambutan, Jakarta. Sejak tanggal 26 Mei 2019, pihak penyedia bus lintas Pulau Jawa ini menerapkan tuslah di kisaran 50 persen dari tarif hari biasa.

“Kisaran 50 persen lebih naiknya, h-10 kita sudah mulai naikkan. Kaya ke Solo-Semarang aja dari harga Rp 250 ribu, sekarang Rp 395 ribu,” kata Oyo salah satu petugas tiket PO Harta Sanjaya, di Terminal Kampung Rambutan, Rabu (29/5/2019).

Selain Oyo, ada juga Sofyan dari PO Sempati Star yang mengakui pihaknya memberikan tuslah untuk tarif mudik lebaran pada busnya. Dia pun mengakui sama-sama menaikkan harga hingga 50 persen lebih dari hari biasa.

Sofyan mencontohkan dari Jakarta ke Medan biasanya tiket hanya Rp 600 ribu, setelah diterapkan tuslah harganya naik jadi Rp 900 ribu.

“Buat harganya ya hampir 50% lebih naiknya. Semakin dekat lebaran semakin tinggi, belum lagi kita eksekutif kan jadi fasilitas harus bagus nggak bisa kalau bayar murah,” tutur Sofyan.

Sementara Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi menjelaskan bahwa memang para PO diberikan kesempatan untuk menaikkan harga. Bus dengan kelas ekonomi sendiri menurut Budi diatur dalam Peraturan Menteri no 36 tahun 2017 pengaturan tarifnya.

Budi menjelaskan di dalam aturan tersebut bus ekonomi diberikan tarit batas atas dan tarif batas bawah. Jadi, menurut Budi jelang lebaran para PO diizinkan menaikkan tarifnya di sekitar batas atas besarannya.

“Kalau bus itu kan gini ya kalau bus yang ekonomi itu kan ada tarif batas atas dan bawah ya PM no 36 tahun 2017, nah kalau momentum lebaran gini akan dimainkan itu ama mereka harga batas atasnya,” kata Budi dilansir detikFinance, Rabu (29/5/2019).

Menurutnya bagi bus ekonomi dipersilakan untuk menaikkan tarif, asalkan para PO masih menaikkan di bawah tarif batas atas. “Asalkan mereka itu tetap main di bawah batas tarif atas,” kata Budi.

Sedangkan bus eksekutif menurut Budi tidak diatur oleh pemerintah, keseluruhan tarif diatur lewat skema pasar. Para PO menurut Budi berlomba memberikan fasilitas yang baik sesuai dengan tarif yang ditawarkan.

“Kalau yang eksekutif itu tidak diatur oleh kita tapi mereka sendiri yang ngatur, mereka akan kasih banyak fasilitas itu biar dilirik. Tapi kalau harganya kemahalan pun kan nanti juga masyarakatnya yang pilih,” kata Budi.

Berapapun besaran tuslah saat mudik pada bus eksekutif, menurut Budi bebas dan sah-sah saja. Dia kembali menjelaskan pihaknya tidak mengatur tarif yang ada pada bus eksekutif.

“Kalau misalnya busnya kemahalan ya masyarakat tau cari yang lain. Kita ya nggak ngatur memang sah-sah aja mau berapapun naikkannya,” kata Budi. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *