fbpx

Petisi “Stop Izin FPI” Jadi Pertimbangan Mendagri

Petisi “Stop Izin FPI” Jadi Pertimbangan Mendagri

Izin FPI akan habis bulan Juni mendatang, petisi “Stop Izin FPI” akan jadi acuan Mendagri dalam menentukan keputusan kelanjutan nasib ormas tersebut.

Izin Habis Bulan Depan, Petisi “Stop Izin FPI” Jadi Pertimbangan Mendagri

Konten.co.id – Izin ormas Front Pembela Islam (FPI) akan habis pada 20 Juni 2019. Petisi mengenai hal ini pun muncul dengan judul “Stop Izin FPI” di laman Change.org. Petisi yang ditujukan pada Kementerian Dalam Negeri ini telah ditandatangani oleh lebih dari 311 ribu orang.

Petisi ini awalnya dibuat oleh akun Ira Bisyir dengan alasan izin organisasi FPI akan segera berakhir. Dalam ajakannya, Ira Bisyir menuding bahwa FPI merupakan kelompok radikal, sehingga izinnya tak perlu diperpanjang oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Assalamualaikum.Salam sejahtera bagi kita semua. Mengingat akan berakhirnya ijin organisasi FPI di Indonesia,mari kita bersama-sama menolak perpanjangan ijin mereka.Karena organisasi tersebut adalah Merupakan kelompok Radikal, pendukung kekerasan dan pendukung HTI. Mohon sebar luaskan petisi ini,agar tercipta Indonesia yang aman dan damai MOHON TANDA TANGANI PETISI INI,” tulis penggagas petisi Ira Bisyir.

Mendagri Tjahjo Kumolo menyebutkan petisi tersebut akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pemberian izin berdasarkan Undang- Undang kebebasan berkumpul masyarakat.

Didalam Undang-Undang dan pancasila adalah alat untuk setiap orang bisa berserikat dan berkumpul didalam masyarakat. “Semua ada di ideologi, Undang-Undang dan pancasila. Selama berkumpul, dan berhimpun mengikuti aturan-aturan negara menerima pancasila, Undang-Undang 1945, tidak ada masalah,” katanya, Sabtu (11/5/2019).

Imam FPI DKI Jakarta, Muhsin bin Zaid mengaku pihaknya tidak terancam dengan adanya petisi tersebut. Muhsin juga menyoroti soal foto-foto aksi kekerasan diduga oleh FPI yang kini kembali ramai di media sosial. Menurutnya foto tersebut merupakan foto 10 atau 15 tahun lalu, yang kasusnya sudah diadili.

“Foto-foto petisi penolakan itu kan foto-foto kejadian 10 tahun yang lalu, 15 tahun yang lalu, yang memang sudah diadili kasus itu,” ungkap Muhsin.

Lebih lanjut, Muhsin menduga bahwa pembuat petisi adalah mereka yang suka dengan maksiat. Ia juga yakin masyarakat yang mendukung perpanjangan FPI lebih banyak. Terkait tuduhan terlibat radikalisme dan HTI, Muhsin dengan tegas membantahnya.

“Mungkin mereka-mereka yang suka dengan maksiat, artinya tidak menginginkan ada yang mengawasi atas perbuatan permaksiatan mereka,” imbuhnya.

“Saya pikir FPI itu tidak pernah melakukan tindakan kekerasan, kecuali manakala sudah ada pembiaran dari aparat penegak hukum,” tegasnya. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video