fbpx

MER-C Laporkan Kericuhan 22 Mei ke Mahkamah Internasional

MER-C Laporkan Kericuhan 22 Mei ke Mahkamah Internasional

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengecam keras tindakan represif dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan dan berencana melaporkan hal tersebut ke Mahkamah Internasional.

Aparat Represif, MER-C Laporkan Kericuhan 22 Mei ke Mahkamah Internasional

Konten.co.id – Organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengecam keras tindakan represif dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan dalam menangani demonstran menolak kecurangan Pemilihan Umum 2019, berlangsung di Jakarta, 21-23 Mei.

MER-C berencana melaporkan hal tersebut ke Mahkamah Internasional. “Kita tidak punya pretensi untuk politik praktis tapi ini adalah masalah kemanusiaan. Masalah kemanusiaan ini dihargai di mana-mana, oleh agama apapun, oleh bangsa manapun, tidak bisa kita melakukan hal-hal yang diluar yang sudah disepakati sebagai nilai-nilai kemanusiaan,” kata Jose Rizal selaku pendiri dan Dewan Penasihat MER-C kepada wartawan, Sabtu (25/5/2019).

Ia mengatakan berdasarkan laporan dan pantauan tim MER-C di lapangan, aparat keamanan menangani pengunjuk rasa dengan kekerasan dan senjata api. Aparat keamanan menembak anak kecil, mengejar demonstran hingga ke dalam masjid, menembak dalam jarak dekat, menembak orang yang sudah jatuh, tidak memakai meriam air terlebih dahulu tetapi langsung menembakkan gas air mata, menggunakan peluru karet dan peluru tajam.

Menurutnya, dalam demonstrasi tersebut, polisi terkesan menghalangi petugas medis melakukan evakuasi dengan melarang ambulans masuk ke daerah konflik. Selain itu, aparat keamanan juga menyerang ambulans dan tim medis yaitu dari Dompet Dhuafa di sekitar gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) saat unjuk rasa pada 22 Mei

Padahal, lanjut Jose Rizal, dalam Pasal 24 Konvensi Jenewa 1949 disebutkan personel medis yang secara eksklusif terlibat dalam pencarian, pengumpulan, pengangkutan, atau perawatan orang luka atau sakit, atau dalam pencegahan penyakit, staf yang secara eksklusif terlibat dalam administrasi unit medis dan perusahaan harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan.

Jose Rizal juga menunjukkan bukti peluru tajam dan peluru karet yang dipakai aparat keamanan dalam menangani demonstran. Namun dia menolak di mana dan kapan kedua barang bukti itu ditemukan.

Ia menegaskan korban yang meninggal dalam suatu demonstrasi akibat kekerasan, baik ditembak maupun dianiaya, merupakan kejahatan kemanusiaan. Sebab, menurut hukum internasional, dalam kondisi perang sekali pun, hak-hak warga sipil harus dilindungi. Anak-anak, perempuan, orang tua, dan tokoh agama tidak boleh diserang atau dibunuh. Rumah ibadah pun tidak bisa menjadi target serangan. Apalagi hanya demonstrasi yang berujung rusuh.

Ia pun menekankan aparat seharusnya tidak menangani demonstran dengan gaya militer atau menggunakan kekerasan dan kekuatan berlebihan.
.
Hanya saja Jose Rizal belum mau menjawab terkait siapa yang akan dilaporkan ke Mahkamah Internasional. Ia hanya bilang biasanya yang bertanggung jawab adalah pengambil kebijakan dan komando.

Namun dia menyerahkan hal tersebut kepada tim hukum MER-C. Jose Rizal menegaskan rencana melaporkan rusuh 21-23 Mei ke Mahkamah Internasional bukan karena alasan sakit hati atau ada tim MER-C yang diserang, tetapi karena nilai-nilai kemanusiaan yang dilanggar.

Kepolisian Indonesia menegaskan pihaknya profesional dalam menangani aksi demonstrasi dan kerusuhan pada 21- 22 Mei. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan jika ada anggota kepolisian yang terbukti melanggar standar operasional prosedur saat mengamankan kericuhan di sejumlah titik di Jakarta pada 22 Mei pihaknya tidak segan-segan mengambil tindakan tegas.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan kerusuhan pada 21-23 Mei tersebut menewaskan delapan orang dan melukai 737 orang lainnya, termasuk 79 orang cedera berat. Korban yang berusia 20-29 tahun berjumlah 294 orang, sementara 170 orang lainnya berumur di bawah 19 tahun. (*)

Penulis: Ade Indra
Editor: Mahesa

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *