fbpx

Mahfud MD Minta Prabowo Adu Data di KPU dan MK

Mahfud MD Minta Prabowo Adu Data di KPU dan MK

Prabowo Subianto menolak hasil pilpres 2019 dan ini dianggap sah. Namun harus diadu data dengan KPU dan MK.

Tolak Hasil Pemilu, Mahfud MD Minta Prabowo Adu Data di KPU dan MK

Konten.co.id – Menunggu hasil pemilu 2019, masyarakat pun masih terpecah belah. Akibatnya saling sindir pun terus terjadi.

Yang terjadi belakangan ini adalah calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menolak hasil pemilu dan menarik sleuruh saksinya di KPU pusat. Mantan ketua MK Mahfud MD menilai dalam konteks hukum, hal ini tidak bermasalah.

Artinya kalau misalnya Prabowo menolak proses rekapitulasi tak mau tanda tangan padahal sidang sudah dibuka secara sah dan diberikan kesempatan untuk mengadukan pendapat lalu dia tetap tidak mau terima maka Pemilu dianggap selesai.

“KPU bisa mengesahkan pada tanggal 22 Mei mendatang dan kalau sampai tanggal 25 mei tidak menggugat ke MK pilpres secara hukum dianggap selesai,” katanya, Kamis (16/5/2019).

Namun, lanjutnya, secara politik akan timbul masalah baru. Dimana pihak Prabowo Subianto mengatakan ada kecurangan dan lain sebagainya namun tidak mau menunjukkan datanya. Tentu hal ini menunjukkan sikap tidak fair.

“Kalau memang ada kecurangan ya tunjukkan saja data dan adu data di KPU, Kalau tidak kuat di KPU adu lagi ke MK, padahal nantinya juga bisa saja merubah suara seperti di DPR, bupati, wali kota dan lainnya, bahkan bisa mengubah ranking yang tadinya 1, 2, 3 bisa saja berganti,” ucapnya.

“Yang terpenting bisa dibuktikan. Karena dalam hukum tersebut kebenaran materiilnya bisa ditunjukkan didalam persidangan, lalu sikap fair seperti itu yang kita harapkan dalam demokrasi,” tambah mantan ketua MK tahun 2006-2013 ini.

Menanggapi kecurangan pemilu, Mahfud mengatakan harus bisa membedakan mana kecurangan, kesalahan dan kekeliruan. Hanya saja ia mengakui, adanya kesalahan teknis banyak terjadi di KPU. Seperti adanya beberapa suara yang cukup tinggi masuk ke paslon nomor urut 02.

“Saya punya datanya. Seperti ada suara yang mestinya 133 menjadi 833 itu ada, ada juga yang masuk ke Jokowi, artinya itu tidak bersifat struktur dan bersifat sporadis. Kesalahan seperti itu bisa diperbaiki saat adu data bukan di situng,” tuturnya.

Kalau kecurangan yang dilakukan aparat seperti yang dituduhkan, hal itu bisa diajukan ke MK. Sejauh kita bisa membuktikan hal itu terjadi dan sangat signifikan. “Misalnya ada suara tiga juta namun ada suara ditemukan di desa dengan pemilihnya 300 taruhlah kecurangan semua, nah nanti bisa dikurangkan dengan 3 juta itu, jadi kalau ada seperti itu bisa dilaporkan ke MK dan nantinya bisa dikurangkan dengan jumlah suara dari KPU itu sudah biasa, dan jangan dianggap itu tidak bisa,” katanya.

“Saya dulu pernah membatalkan keterpilihan Agung Laksono sebagai ketua DPR. Waktu itu aktif dia terpilih lalu diadukan ke MK ini ada kecurangan di KPUnya, kita batalkan Agung Laksono dan 72 anggota DPR lainnya di seluruh Indonesia waktu itu,” sambungnya.

Mahfud MD menambahkan, peran MK dalam hal itu tidak main-main. “Jangan dikira di MK itu main-main, yang penting Anda bisa membuktikan itu bisa. Berapa gubernur yang saya batalkan, bupati. Itu bisa asalkan bisa membuktikan dan itu tidak sulit kalau Anda punya bukti,” tandasnya.

Ia mengakui dulu, MK disebut Mahkamah Kalkulator. Namun sejak Mahfud menjabat hal itu tidak bisa terjadi. Lantaran pihaknya punya data hukum yang bisa jadi acuan.

“MK tidak mau menghitung, karena kalau menghitung itu pegawai dan pengadilan menggunakan kalkulator ramai-ramai. Makanya saya punya teori kalau ada kecurangan terstruktur, sitematif dan masif mudah dibaca dan saya sudah membatalkan seperti itu,” terangnya.

“Seperti di tahun 2009 dimana ada 72 anggota DPR saya batalkan dan ada nama-namanya,” tukasnya. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video