Kehebatan Orang yang Berpuasa di Zaman Dulu

Kehebatan Orang yang Berpuasa di Zaman Dulu

Puasa yang dijalankan oleh umat muslim sedunia saat ini juga dilakukan oleh banyak orang di dunia dan semua agama.

Kisah Kehebatan Orang yang Berpuasa di Zaman Dulu

Konten.co.id – Puasa di bulan ramadhan adalah kewajiban umat muslim sedunia setahun sekali. Puasa sendiri tidak hanya dilakukan oleh umat muslim saja.

KH. Ahmad Muwafiq dalam salah satu ceramahnya mengatakan Puasa merupakan bentuk syukur kita kepada Allah swt. Dan masih diulang dengan ajaran kuno.

Ibarat manusia sekolah didunia ini ada ujian. Salah satu kurikulumnya adalah puasa. “Karena sejak dulu sudah disuruh puasa sama Allah SWT. Maka dari dulu sampai sekarang orang itu mengenal puasa. Siapapun orangnya sebab puasa ini sudah diwajibkan, maka puasa itu eksklusif,” kata dia.

Dikatakan eksklusif lantaran semua orang kenal puasa. Siapapun orang didunia ini kenal puasa. Sebab puasa ini kewajiban kuno.

Sebagai contoh zaman dulu ada agama kuno namanya Zuruaster dengan nabinya Zaratustra.

Tuhannya pun ada dua yaitu tuhan yang terang yaitu Ahriman yang mengendalikan matahari dan yang gelap yaitu Ahura Mazda yang mengendalikan bulan.

Keduanya berselisih. Kepercayaan agama ini adalah penganut agama Zuruaster diwajibkan puasa 41 hari.

Ia pun menceritakan adanya percampuran budaya agama lain didalam islam. Jaman dulu ada agama majusi. Agama ini menyembah api yang ditempatkan ditempat tinggi yang bernama Manaro.

Raja Majusi yang bernama Rustam masuk Islam lantaran berhubungan besan dengan Sayidina Ali RA. Ia memiliki menantu Sayidina Husain yang memiliki anak Sayidina Zainal Abidin.

“Raja Rustam masuk islam maka Manaro ditaruh didepan masjid dan apinya dibuang. Yang pada akhirnya masjid orang islam punya Manaro atau Menara,” katanya.

Sementara kubah berasal dari nasrani. Lantaran dulu gereja- gereja di Romawi memiliki kubah. Lantaran banyak yang memeluk islam, kubahnya pun ditempelkan diatas masjid.

Ia melanjutkan puasa juga diajarkan Upawasa. Upawasa yaitu seseorang tidak makan, tidak minum dan tidak berkumpul suami istri di Pohon Topo Broto.

“Nanti tubunya mengecil kecil laapp hilang. Makanya banyak orang Jawa dulu mengecil kecil kecil malah ingat suami atau istrinya. Ya ga jadi mau hilang gak bisa. Sudah mati juga tak bisa. Maka jadi jenglot atau Batara Karang,” tuturnya.Karena pnganut Hindu kalau melakukan upawasa tidak berhenti dan dilakukan terus saja. Maka pada akhirnya bulan puasa Indonesia dikenal dengan Puasa dari tembung upawasa.

Sementara Budha mengatakan Barang siapa yang ingin mendapat kesempurnaan delapan jalan Nirwana itu harus puasa dibawah pohon besar.

Mereka tidak makan tidak minum dan tidak ada batas waktunya dengan menggunakan kain selempang seperti Pakaian Ihrom berwarna kuning. “Nanti kalau berhasil mendapatkan derajat sebagai wakil sang Budha. Itu juga puasanya 41 hari,” terangnya.

Orang nasrani juga diajarkan puasa saat Jumat Agung menjelang paskah. Kuil shaolin di Cina yang bagian dari perpencaan (pencak) dan di Indonesia Setia Hati (SH) kalau mau menempuh hidup shaolin juga puasa.

Selain itu Satria Samurai juga melakukan puasa sebelum memasuki kuil Kyoto.”Mereka tidak makan tidak minum dan menyentuh suami atau istri,” ucapnya.

Itu nyata dan buktinya sudah ada orang di dunia kenal puasa.Untuk muslim Nabi Nuh juga puasa. Sebelum menanam pohon mulai dari Panin pohon sampai dijadikan perahu.

“Nabi Daud AS puasa seperti kita ini. Nabi Isa AS juga puasa, Nabi Musa AS puasa. Semua agama mengerti dari dulu sudah diwajibkan. Yang dilakukan juga puasa,” terangnya.

Ia mencontohkan orang Jawa sebagai gudangnya puasa. Ada puasa makannya dedaunan saja namanya Ngidang.

Lalu ada puasa makan nasi putih saja namanya puasa mutih. Ada puasa yang diam saja tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namanya Mbisu (tidak ngomong). Ada puasa tidak kena sinar matahari dan api namanya Pati Geni.

Puasa juga menempati sejarah kebesaran manusia ketika hidup di dunia. Ia mencontohkan Nabi Daud AS yang puasa satu hari dan satu hari tidak bisa merubah besi menjadi baju.

Nabi Muhammad SAW pun mendapatkan wahyu setelah puasa 15 tahun naik turun gua Hiro’. “Syekh Abdul Qodir Al Jailani puasa dibimbing oleh Syekh Mubarok Al Mathzumi selama 25 tahun di padang pasir. Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili puasanya 20 tahun,” kata dia.

Di tanah Khatulistiwa, ada Brandal Lokajaya Raden Syahid yang bisa naik pangkat bergelar kanjeng Sunan Kalijaga setelah dituntun puasa tiga tahun oleh Sunan Bonang. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *