Indonesia Darurat Sampah

Indonesia Darurat Sampah

Indonesia menjadi nomor dua penghasil sampah terbesar di Dunia, untuk itu semua pihak harus kerja sama untuk mencegah bertambahnya jumlah sampah.

Kurang TPA dan Pengawasan di Daerah, Indonesia Darurat Sampah

Konten.co.id – Plastik telah menjadi komponen penting dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat modern. Peran plastik yang telah menggantikan banyak fungsi kayu dan logam, kian menimbulkan permasalahan bagi lingkungan.

Di balik keunggulannya, plastik juga memiliki efek samping yang besar terhadap lingkunan, karena sulit terurai secara alami. Dibutuhkan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun agar plastik bisa terurai di alam.

Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Sampah yang dihasilkan juga banyak mencemari lautan yang sebagian dihasilkan dari wilayah daratan terutama kota-kota besar.

Diperkirakan ada sekitar 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke lautan setiap tahun di dunia. Jambeck, et.al (2015) pernah mempublikasikan penelitiannya yang berjudul Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean.

Dalam riset yang dilakukan terhadap 192 negara, terlihat bahwa Indonesia menyumbang sebanyak 3,22 juta metrik ton (millions of metric tons/MMT) limbah plastik. Penelitian lebih spesifik dilakukan oleh Lamb, et.al (2018) yang berjudul Plastic Waste Associated with Disease on Coral Reefs.

Riset ini menunjukkan bahwa sampah plastik paling banyak ditemukan di Indonesia, yakni 25,6 bagian per 100m2 terumbu karang di lautan Penelitian ini dilakukan terhadap 159 kawasan terumbu karang di Asia Pasifik pada periode 2011-2014.

Tingginya sampah plastik ini berkaitan dengan jumlah penduduk dan pengelolaan sampah, sekitar 80 persen sampah plastik berasal dari darat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2016, produksi sampah per hari tertinggi berada di Pulau Jawa, khususnya Surabaya. Pada 2015, produksi sampah di Surabaya sebesar 9.475,21 meter kubik dan meningkat menjadi 9.710,61 meter kubik di 2016.

Wilayah lain di luar Pulau Jawa yang produksinya tinggi adalah Kota Mamuju, yaitu 7.383 meter kubik dan Kota Makassar, sebesar 5.931,4 meter kubik pada 2016. Dari pemantauan Statistik Lingkungan Hidup pada 2010 hingga 2016, ditemukan bahwa kota-kota di Indonesia pada umumnya mengalami kenaikan produksi sampah. Tentunya dengan Pulau Jawa sebagai penyumbang terbesar karena kepadatan penduduknya yang lebih tinggi dibandingkan pulau lainnya.

Di Bali, sampah plastik juga bikin ekosistem pantai rusak. Setiap harinya tumpukan sampah juga ditemukan disana.

“Di pantai sekarang juga banyak sampah. Adahal sudah diperingatkan tapi tetap saja banyak yang nyampah di pantai,” ucap Made Kenting, petugas sampah di Pantai kuta Bali, Senin (6/5/2019).

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, gerakan bersih- bersih pantai pun sudah dilakukan. Selain dengan bersih- bersih juga dibangunnya tempat penambungan sampah.

Dini Trisyanti Co Founder Suistinable Waste Indonesia menilai sampah plastik tidak dipisahkan dengan sampah secara utuh. Ia mengatakan untuk memilah sampah harus dilihat dari komponennya terlebih dahulu.

Ia berkata, masyarakat harus melakukan lompatan besar. Dulu, ‘buang sampah di tempatnya’ memang kerap digaungkan, tapi kini, itu tidak cukup. Masyarakat seharusnya mulai memaksa diri untuk mau memilah sampah. Tak semua sampah harus dibuang. Sampah-sampah organik malah sebaiknya berakhir di composter dan bisa jadi pupuk kompos.

Aksi ini mungkin hanya berskala kecil karena memang lingkupnya hanya rumah tangga. Namun, jika semua mau bergerak, kata dia, maka perubahan bisa dirasakan. Dini memberikan contoh gerakan bersih-bersih di pantai-pantai di Bali. Awalnya hanya komunitas kemudian menjalar pada komunitas yang lebih luas bahkan masyarakat sekitar.

Sementara untuk wilayah Jakarta, katanya adalah penghasil sampah terbesar. Dengan jumlah sampah mencapai 7 ribu ton per hari. Maka dari itu sekarang ada undang- undang persampahan tahun 2008.

Hal ini agar peristiwa longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 yang menelan seratus lebih korban jiwa tidak terjadi lagi. “Masalah sampah memang sudah dari tahun itu,” katanya.

Meski sudah dibuang ke TPA, katanya hal ini tentu belum bisa mengatasi masalah persampahan di indonesia. Bahkan kini TPA bagaikan bom waktu. Terlebih dengan adanya sampah yang juga dibuang ke laut.
“Sekarang TPA juga sudah tidak bisa menampung sampah warga Indonesia. Akibatnya dibuang ke laut dan dimakan oleh ekosistem disana, tak heran kalau Paus dan kura- kura bisa ditemukan tewas setelah menelan sampah,” ucapnya.

Ia mengatakan keterbatasan kemampuan menampung sampah di wilayah kota besar membuat sebagian warga melakukan tindakan membakar sampah atau membuangnya ketempat lain seperti sungai atau laut.

Sementara Faiza Fauziah Partnership and Program Development Waste4charge mengatakan banyak jenis sampah yang ada di indonesia adalah sampah organik lima puluh persen. Diluar itu ada sampah lain seperti sampah popok yang digunakan bayi yang termasuk residu atau sampah yang sulit didaur ulang.

“Seperti yang terjadi di lautan sebenarya sampah didaratan adalah penyebabnya sementara di lautan lebih ke gejalanya,” terangnya.

Untuk itu, lanjutnya harus ada langkah pengelolaan manusia agar tidak terbuang sembarangan. Terlebih untuk sampah plastik, dimana Indonesia menyumbang 64 juta ton sampah plastik.

Dikatakannya, untuk mencegah menggunungnya sampah, terutama sampah plastik di indonesia adalah dengan memberikan aturan di berbagai tingkat wilayah. Sementara yang paling rentan adalah di tingkat kota.

Ia pun membenarkan kalau kekurangan TPA di tingkat kota menyebabkan menumpuknya sampah. Padahal, kata dia, harusnya penananganan sampah ada di tingkat kota terlebih dahulu. “Maka dari itu pengelolaan sampah di daerah menurut saya harus lebih ditingkatkan,” imbuhnya.

Untuk mencari TPA baru di suatu kota amatlah sulit. Terlebih dengan minimnya lahan. Selain itu Indonesia harus ada sistem yang benar untuk mengelola sampah yang sudah terpilah. “untuk itu harus ada dan edukasi bagaimana untuk mengelola sampah yang baik terlebih dahulu. Bagaimana penananganannya serta daur ulangnya dan itu semua harus terkoneksi dengan baik,” ucapnya.

Maka dari itu, pihaknya mendirikan waste4Change sebagai sarana membantu dalam prose pemilahan sampah yang baik. Karena menurutnya, meski banyak yang menilai sampah tidak berguna, tapi baginya masih bisa digunakan lagi. ‘kita terapkan Reduce, Reuse dan recycle pada sampah tersebut sehingga mengurangi jumlah sampah plastik di indonesia,” tukasnya. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *