Ibu Kota Baru Harus Perhatikan Beban 25 Tahu ke Depan

Ibu Kota Baru Harus Perhatikan Beban 25 Tahu ke Depan

Pemindahan Ibu Kota Indonesia yang baru harus memperhatikan beban 25 tahun ke depan. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya pemindahan ibu kota harus dibantu dengan teknologi.

Guru Besar ITB: Ibu Kota Baru Harus Perhatikan Beban 25 Tahu ke Depan

Konten.co.id – Saat ini wacana pemindahan Ibu Kota Indonesia mencuat kembali akhir bulan April lalu. Bahkan isu tempat yang diusulkan seperti Jonggol, Kertajati Jabar, hingga Kalimantan dan Sulawesi terus menjadi bahan diskusi.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Suhono Harso mengatakan masing-masing punya dasar dan alasan dengan faktor seperti biaya, teknis, sosial, keamanan, kenyamanan, ekonomi hingga lingkungan, termasuk juga masalah pemerataan dan mungkin politik.

Namun demikian, lanjut dia, masih jarang yang membahas (konsider) beban pemerintahan yang akan diemban oleh ibu kota ke depan, katakan 100 tahun kemerdekaan tahun 2045, waktu selama 25 tahun ke depan cukup untuk melakukan rencana pembangunan dalam rangka pencapain cita cita bangsa.

“Transformasi pada hakekatnya adalah perubahan dari satu kondisi ke suatu kondisi yang diharapkan. Makna hijrah yang sering dimaknai pindah lokasi, bisa diartikan juga perubahan,” katanya.

Pemerintahan yang mempunyai fungsi perencaanaan, pelaksanaan, pengaturan hingga pengawasan pembangunan, kata dia, tentu sangat bisa terbantukan oleh teknologi informasi, kerja pemerintahan akan lebih efektif dalam melakukan observasi, orientasi, keputusan dan tindakan sistem pemerintahan.

“Beban atau proses yang selama ini dilakukan untuk fungsi administrasi, baik dalam monitoring, pelaporan rapat bahkan proses pengambilan keputusan dengan mudah terbantukan oleh teknologi,” katanya.

Dalam kerangka 25 tahun kedepan menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia, kata Suhono, jika progres Making Indonesia 4.0 berhasil maka proses pemerintahan mestinya dengan mudah dibantu oleh teknologi informasi.

Upaya pemindahan Ibu Kota atau tetap di ibu Kota lama, menurut Suhono, perlu memperhatikan kebutuhan ibu kota dan kemampuan teknologi dalam membantu tugas dan fungsi ibu kota jangka panjang.

Roadmap pemerintahan berbasis elektronik (smart government) kata dia, perlu dibuat dan dikaji lebih rinci, kebutuhan ruang ASB pertemuan, dan sistem terdistribusi bisa mengurangi beban Ibu Kota.

Untuk itu, Suhono memandang pemindahan ibu kota perlu dipikirkan lebih masak lagi, tetapi yang lebih penting lagi bagaimana visi atau bentuk pemerintahan yang berakibat kebutuhan fisik dan virtual yang saling melengkapi.

Seiring dengan revolusi industri, kata dia, maka revolusi pemerintahan juga perlu disiapkan dengan baik, toll langit, jalan darat hingga maritim menjadi saling sinergi dalam suatu platform sistem cerdas.

Suhono Harso mengatakan lima tahun terakhir masyarakat disibukan dengan hadirnya suatu revolusi industri yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0, kehadiran disrupsi teknologi seperti IoT, Cloud Computing hingga kecerdasan buatan telah mengubah cara pabrik atau industri berproses.

Maka dari itu perlu adanya sistem pemerintahan 4.0 dengan menggunakan teknologi yang memudahkan kerja pemerintahan. Pada tahun 2045, Aparatur Sipil Negara dan penduduk akan diisi oleh kaum yang saat ini banyak disebut sebagai generasi millenia, yaitu generasi yang tidak perlu kantor tetap, lebih bisa kerja di “co working space” atau sistem kerja gabungan non formal dengan dunia virtual.

“Kehadiran teknologi ini tentu bisa memberikan kontribusi bidang bidang lain seperti bidang pendidikan, kesehatan , perdagangan hingga pemerintahan,” kata Suhono kepada wartawan di Bandung, Rabu (1/5/2019).

“Tentu ini akan berpengaruh terhadap rancangan “government co working space. Masalah infrastructure sharing, tidak boleh dilupakan juga masalah keamanan fisik dan virtual. Hoax dan hacker perlu di antisipasi lebih baik lagi,” tambahnya.

Ia menegaskan, teknologi robot, komputasi, jaringan, hingga kecerdasan tiruan (Artificial Intellegence) sangat dimungkinkan mengurangi beban admistrasi pemerintahan.

Bahkan, lanjut dia, bisa dilakukan penyimpanan dokumen secara terdistribusi, jika ada bencana, data bisa disimpan secara “mirror” di beberapa lokasi atau yang disebut sebagai “Data Recovery Center”, termasuk pertemuan, rapat, koordinasi bisa dilakukan melalui jejaring video, teks dan suara.

“Sejatinya pemerintah juga sedang siapkan sistem pemerintahan berbasis elektronik, walau progresnya, sejak ada Inpres e-Gov 2003 hingga Perpres SPBE 2018 masih belum membanggakan, karena mungkin ekosistem pendukungnya belum siap, ekosistemnya menyangkut sarana dan prasarana, regulasi hingga sumber daya manusia,” jelasnya.

Hal itu pun juga akan berdampak pada pemindahan Ibu Kota Indonesia. Di ibu kota baru nanti harus memenuhi aspek yang terintegrasi dengan menerapkan teknologi 4.0. (AI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *