UI Kembangkan Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan

UI Kembangkan Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan

Indonesia dinilai masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kecerdasan buatan (AI) baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk itu, Universitas Indonesia mulai mengembangkan pusat penelitian kecerdasan buatan.

Universitas Indonesia Luncurkan Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan

Konten.co.id (Depok) – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meresmikan Tokopedia-UI Artificial Intelligence Center of Excellence (Pusat Unggulan Kecerdasan Buatan) di Universitas Indonesia, Depok (28/3).

Menristekdikti mengatakan bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kecerdasan buatan (AI) baik secara kuantitas maupun kualitas. Kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Tokopedia sebagai salah satu perusahaan startup ‘unicorn’ Indonesia ini merupakan langkah penting untuk melahirkan para ahli kecerdasan buatan di Indonesia yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan perusahaan startup dan industri baik dalam maupun luar negeri.

“Nanti lulusan dari perguruan tinggi, dari Universitas Indonesia bisa langsung dimanfaatkan oleh industri, termasuk dalam hal ini Tokopedia. Kalau ini bisa dilakukan secara massif, maka Indonesia ke depan tidak akan mengalami kesulitan dalam sumber daya manusia. Sekarang para startup masih kesulitan mencari resources di bidang artificial intelligence yang dibutuhkan industri tersebut,” kata Menteri Nasir dilansir laman resmi Kemenristek-Dikti, senin (15/4).

Menteri Nasir menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia kerja/industri. Perguruan tinggi harus dapat bersinergi dengan dunia industri agar tidak terjadi ‘gap’ antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan di dunia kerja.

“Kemenristekdikti mendorong perguruan tinggi ke depan dapat berkolaborasi dengan industri sebagai pengguna. Kalau perguruan tinggi tidak pernah berkolaborasi dengan industri, itu akan mengalami gap yang luar biasa antara lulusan dengan penggunanya nanti,” ungkap Menristekdikti.

Nasir menyampaikan saat ini perusahaan startup masih membutuhkan banyak tenaga ahli di bidang ilmu komputer dan sistem informasi, lebih spesifiknya dalam kecerdasan buatan. UI diharapkan dapat menjadi salah satu perguruan tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan perusahaan startup di masa mendatang.

Menristekdikti mendorong tidak hanya UI dan ITB saja saat ini sudah berkolaborasi dengan unicorn membentuk pusat penelitian dan pengembangan artificial intelligence, tapi perguruan tinggi lainnya juga turut berkompetisi untuk berkolaborasi dengan perusahaan pemula maupun perusahaan besar.

“Kalau bisa tidak hanya dari UI dan ITB saja. Di perguruan tinggi lain juga bisa lakukan hal yang sama, secara massif, secara nasional, supaya bisa dilakukan nilai tambah ekonomi. Tugas pemerintah adalah bagaimana ada investor-inventor collaboration, supaya antara industri dengan peneliti ada kolaborasi,” jelas Menteri Nasir.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis menyampaikan perguruan tinggi tidak boleh melihat perkembangan teknologi sebagai hambatan, namun harus dengan adaptif mengikuti perguruan tinggi tersebut melalui kolaborasi dengan industri.

“Kita tahu kehidupan kita sehari-hari sangat tergantung dari perkembangan teknologi. Itu tidak bisa kita hindari. Teknologi ini kita kenal dengan istilah industri 4.0, ada disruptive technology, yang mau tidak mau kita harus mengubah perilaku kita. Kerja sama ini bentuk nyata kerja sama antara industri dengan perguruan tinggi, dimana industri memang yang terdepan untuk menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi, dimana perguruan tinggi terdapat banyak pikiran-pikiran untuk menopang penguasaan teknologi tersebut. Itu prinsipnya,” ungkap Rektor UI.

Kepala Pejabat Eksekutif atau Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya yang turut hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan diantara perkembangan teknologi yang perlu diantisipasi Indonesia, artificial intelligence akan menjadi dasar bagi perkembangan teknologi di masa depan untuk berbagai lini industri.

“Satu dekade yang lalu semuanya bicara tentang internet. Dua tahun lalu semuanya bicara tentang mobile internet, tahun ini mulai semuanya bicara tentang artificial intelligence. Teknologi itu akan selalu berubah, namun artificial intelligence ini menjadi nadi dari teknologi ke depan, dan itu tidak hanya di industri e-commerce saja, tapi juga di industri lainnya,” ungkap CEO Tokopedia.

Selain dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, acara ini turut dihadiri juga oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya, Director of South East Asia, Australia, and New Zealand Region NVIDIA Corporation Ettikan Kandasamy Karuppiah, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail, Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis, para eselon dari Kemenristekdikti dan UI, serta dosen dan mahasiswa UI. (ME)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan