fbpx

Sulman Sang Pelempar Bola Api

Sulman Sang Pelempar Bola Api

Berbekal sedikit keberanian, Sulman coba menggelindingkan fireball ke arah rumahnya sendiri.

Sulman, Melempar Bola Membuka Wacana

Oleh : Kang Oni

MENGANDALKAN kejujuran saja tidak cukup. Menegakan kebenaran butuh nyali besar dan istiqomah. Sebab, seringkali bola kebenaran yang digelindingkan menabrak dinding angkaramurka yang teramat kokoh. Bukan dinding yang jebol, melainkan bola yang pecah.

Atau, boleh jadi karena bahan bolanya cukup tebal. Ketika dilempar ke dinding, bola malah mental menabrak si pelempar hingga terkapar. Dinding tak pecah, bolanya pun demikian. Tetapi, si pelempar akhirnya menjadi korban lemparannya sendiri.

Si pelempar rupanya bukan ahli fisika. Karena itu, dia tak begitu pandai menghitung seberapa kuat momentum pantulan bola yang dilemparnya. Dia juga tidak memperhitungkan seberapa besar bola harapan yang dilempar. Rupanya, ukuran bola jauh lebih besar dibanding tubuh pelempar. Sehingga, ketika bola berbalik arah, pelempar tak berdaya menahannya.

Seandainya si pelempar adalah seorang picher softball profesional, mungkin dia bisa melakukan underhand throw. Teknik lemparan bawah ini biasanya hanya digunakan dalam keadaan darurat dan dalam waktu yang sangat cepat. Selain lebih tepat sasaran, teknik underhand throw dapat mematikan tim lawan meski lemparan yang dihasilkan tidak terlalu kuat.

Atau, andai saja si pelempar seorang pebiliar profesional, mungkin dia bisa melakukan teknik safety shot. Pukulan untuk menyulitkan lawan apabila posisi bola kurang menguntungkan. Sehingga ketika bola sasaran tidak masuk lubang, lawan juga akan sama-sama kesulitan mengarahkan cue ball (bola putih)  kepada bola sasaran.

Sang pelempar – Sulman Aziz, memang bukan picher softball atau pebiliar profesional. Dia juga bukan murid Albert Einsten yang ahli fisika. Sulman hanyalah seorang aparatur negara yang coba memberanikan diri membobol  tembok kekusaan di dalam rumahnya sendiri. Modalnya, konon, hanya mengandalkan kejujuran dan sedikit keberanian. Atau mungkin diperkuat rasa dongkol dan sakit hati.

Sayang, Sulman bukanlah sosok orang saleh yang digambarkan Allah SWT dalam surah al-Buruj ayat 1-10. Rupanya, keberanian Sulman mengungkapkan sebuah fakta kebenaran, terlibas oleh rasa ketakutan yang lebih besar. Entah karena apa.

Apapun laju cerita selanjutnya, ada satu hal yang bisa dibaca. Sulman telah berhasil membuka wacana. Ralat yang disampaikan, tidak otomatis menghapus jejak persoalan yang digelindingkan.

Boleh jadi, ini merupakan fire ball yang sengaja dilemparkankan. Dia kembali ke rumah, dan membiarkan bola api menggelinding ke sana ke mari. Dengan harapan ada pihak lain yang terus mengawal arah bola api yang semakin membara menuju sasaran, sekalipun itu bisa membakar rumahnya sendiri.***

Kang Oni
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video