fbpx

Prabowo Disebut Bakal Gembosi Pendukungnya Jika Menang Pilpres

Prabowo Disebut Bakal Gembosi Pendukungnya Jika Menang Pilpres

Artikel yang dibuat jurnalis asal negeri Paman Sam membuat heboh. Pasalnya dalam artikel itu menyebutkan rencana Prabowo jika memenangkan Pilpres 2019.

Jurnalis Asal AS Sebut Prabowo Akan Lumpuhkan Kelompok Islam Kanan Jika Menang Pilpres

Konten.co.id – Jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn membuat publik Indonesia terkejut dengan laporan tentang skenario Prabowo jika memenangkan Pilpres 2019.

Artikel itu dirilis Allan pada Senin (15/4/2019) pukul 12.00 di laman blogspot miliknya. Laporan yang dibuat Allan itu diklaim berdasarkan notulensi rapat yang diadakan di rumah Prabowo pada akhir tahun lalu.

Pertemuan dihadiri 11 orang dan berasal dari 8 jenderal purnawirawan dan tiga orang sipil, yang disebut Allan dengan mengutip laporan itu sebagai “lingkaran satu” Prabowo. Dalam pertemuan itu, muncul sejumlah kesepakatan.

Prabowo Subianto telah menyusun rencana untuk melakukan penangkapan massal, baik terhadap lawan-lawan politik maupun koalisinya, tulis Allan.

Dikutip dari Tirto.id, rapat itu membuat  tim untuk melakukan tugas-tugas khusus “mengadili sebanyak-banyaknya lawan politik,” dan “melumpuhkan” kelompok-kelompok Islamis yang menyokong kampanye Prabowo-Sandiaga setelah terpilih sebagai presiden.  

Pada halaman 1 laporan itu tertulis sejumlah nama yang hadir dalam rapat itu, antara lain Prabowo, Letjen (Purn.) J.S. Prabowo, Letjen (Purn.) Yunus Yosfiah, Laksanama (Purn.) Tedjo Edhy Purdijanto, Mayjen (Purn.) Glenny Kairupan, Laksamana Madya (Purn.) Moekhlas Sidik, Mayjen TNI (Purn.) Judi Magio Yusuf, Mayjen TNI (Purn.) Arifin Seman, Mayjen TNI (Purn.) Musa Bangun, Fadli Zon, Arief Puyono, Habiburahman, dan lainnya.

Prabowo telah menyiapkan apa yang diistilahkan Allan sebagai “Malam Pisau Panjang” (istilah yang dipakai sejarawan untuk membersihkan sekutu Hitler di Nazi) untuk mengonsolidasikan kekuasaan sekaligus menyakinkan Washington.

Demi memperoleh kepercayaan itu, Prabowo memerintahkan Arief Poyuono, wakil ketua umum Gerindra, untuk menggagalkan gugatan hukum para pekerja Freeport terhadap perusahaan tersebut, tulis Allan.

Notulen rapat menyebut Poyuono sebagai salah satu dari tiga orang sipil yang hadir dalam rapat strategis di rumah Prabowo pada 21 Desember 2018, menurut laporan itu.

Untuk mengamankan kebijakan dalam bidang hukum, Prabowo menunjuk sejumlah orang yang akan bertugas memilih Kapolri, Jaksa Agung, dan pimpinan KPK, tulis Allan seperti tertera dalam dokumen.

Tak hanya itu, Prabowo berencana membuat Gerindra semakin kuat, dengan menugaskan Badan Intelijen Negara melumpuhkan kelompok Islam radikal, yakni HTI, FPI, dan JAD, serta partai koalisi oposisi, serta berencana menjatuhkan Partai Demokrat dan PKS, tulis laporan tersebut.

Keinginan menjatuhkan Demokrat, tulis Allan, dilatari dendam politik masa lalu lantaran SBY terlibat memecat Prabowo dari Angkatan Darat setelah Soeharto jatuh.

PKS dan Partai Demokrat, menurut Allan seperti dituliskan dokumen, akan digembosi melalui berbagai kasus korupsi, baik kasus lama maupun baru, supaya Prabowo mengesankan diri sebagai presiden yang kuat dan tegas dalam menegakkan hukum.

Sementara kepentingan untuk menjatuhkan kelompok Islam radikal, tulis Allan, dengan “menangkap ulama-ulama radikal” demi memperlihatkan kepada Amerika Serikat bahwa Prabowo-Sandiaga tegas mengatasi radikalisme dan terorisme di Asia Tenggara.

Allan juga menyebut, Prabowo sudah bertemu dengan Dubes Amerika Serikat Joseph R. Donovan Jr untuk membicarakan perang dagang Cina-AS serta membahas komitmen Indonesia melawan terorisme ke depan.

Johannes Surjo Prabowo yang ditulis dalam laporan itu mengatakan, “Apa ada artikel Allan Nairn yang terbukti benar? Saya tidak tahu persis tanggal 21 Desember ada rapat atau tidak, karena saya Natalan.”

Ia melanjutkan, “Setahu saya, setiap pertemuan saya dengan Prabowo CS, entah itu rapat atau tidak, tidak pernah ada “notulen” rapat yang ditulis seperti itu,” katanya, Senin siang (15/4).

Sementara Arief Poyouno dan Habiburrakhman berkata senada.

“Itu semacam dokumen palsu,” kata Arief. (FW)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *