Pengaruh Dunia Barat Pada Kegagalan Khilafah di Timur Tengah

Pengaruh Dunia Barat Pada Kegagalan Khilafah di Timur Tengah

Kehancuran khilafah di Timur Tengah salah satunya karena adanya pengaruh sistem barat. Padahal sistem khilafah sudah digunakan umat Islam di Timur Tengah selama berabad-abad.

Khilafah di Timur Tengah Hancur Usai Muncul Keterlibatan Bangsa Barat

Konten.co.id – Sebagai negeri tempat diturunkannya tiga agama besar dunia, Yahudi, Nasrani, dan Islam, Timur Tengah jadi salah satu magnet dunia. Ditambah melimpahnya sumber energi fosil.

Sepeninggal Nabi Muhammad, konflik di wilayah jazirah arab mulai terlihat. Muncul istilah khilafah atau sistem kepemimpinan bagi umat Muslim.

Khilafah pun menyebar ke penjuru negara. Bahkan sejumlah warga di Indonesia menginginkan sistem khilafah. Meski Indonesia sudah mempunyai pedoman yaitu Pancasila.

Kembali ke wilayah Timur Tengah, Perang Dunia I (1914-1918) berakhir, tapi di Timur Tengah justru memasuki episode perseteruan. Menyusul melemahnya pemerintahan Islam di bawah ke-Khilafahan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki (699-1342 H/1299-1924 M).

Dilansir dari Antara, Semangat nasionalisme dan sekulerisme yang dipropagandakan oleh bangsa barat kepada masyarakat Muslim telah mengubah wajah Muslim di Timur Tengah.

Wilayah yang dulunya satu, berubah menjadi 17 bangsa yakni Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, dan Yaman. 

Keruntuhan Utsmaniyah yang disusul dengan berdirinya negara-negara nasionalis hanya menjadi bulan madu para elit politik. Arab Spring yang terjadi sejak 2010 menunjukkan bahwa kemewahan politik demokrasi menyimpan api pergerakan arus bawah dalam sekam nasionalisme yang setiap saat dapat tersulut dan meledak menjadi revolusi. 

Perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan contohnya, tak diraih dari hasil perundingan. Namun beraal dari gerakan intifada yang berasal dari rakyat Palestina bersenjatakan batu.

Hal serupa juga dimulai saat rakyat Suriah menggaungkan revolusi sebagai rentetan dari Arab Spring. Protes antipemerintah yang awalnya damai menyulut perlawanan yang lebih besar.

Situasi politik dalam negeri Suriah semakin pelik tatkala Amerika Serikat dan Rusia turut campur dalam proses perundingan perdamaian.

Sementara itu, alasan pemboikotan Qatar tercermin dalam 13 tuntutan yang diajukan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. Di antaranya adalah pemutusan hubungan dengan Iran, menghentikan dukungan bagi Ikhwanul Muslimin, menutup TV Al Jazeera, menutup semua pangkalan militer Turki di Qatar, dan penyerahan semua teroris yang ditunjuk di wilayahnya. 

Qatar telah menepis semua tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Namun demikian, pengucilan atas negara kecil seluas 11.571 kilometer persegi di Teluk Persia (Arab) tersebut masih berlangsung, walaupun Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Rex Tillerson telah berupaya membujuk empat negara Arab untuk mengakhiri boikot Qatar.

Ditimbang dari segi geo-sosio-kultural historis, konflik yang terjadi di tiga negara di kawasan Timur Tengah itu seharusnya dapat dengan mudah diselesaikan.

Sebelum muncul konflik, wilayah ini pernah bersatu dan hidup dalam kesejahteraan dan kemuliaan di bawah pemerintahan Khilafah Islamiyah yang menjalankan Syariat Islam. Termasuk yang berkaitan dengan masalah muamalah pada lingkup masyarakat yang plural dan di tingkat negara. 

Walau masyarakat di Timur Tengah terdiri atas beragam etnis dan kepercayaan, perbedaan tersebut dapat melebur dalam satu kesepakatan untuk setia pada pemimpin tertinggi Khalifah.

Pada kerangka negara Khilafah, perselisihan yang muncul di tengah masyarakat atau ketidaksepahaman antara masyarakat dan penguasa diselesaikan dengan mekanisme persaksian, pembuktian, dan pengadilan Islam oleh pihak keamanan dan hakim yang bekerja dengan mengacu pada Al-Quran dan As-sunnah.

Salah satu kunci keberhasilan Khilafah Utsmaniyah sebagai peradaban yang paling berumur panjang di dunia adalah sistem kekuasaan dan kepimimpinan yang sangat terpusat dan tidak terbelah dalam tiga struktur eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Namun, pelemahan ideologi Islam dalam negara Khilafah oleh tokoh-tokoh pergerakan nasionalisme di wilayah-wilayah Turki Utsmaniyah yang mendapat dukungan dana dan pasukan dari bangsa imperalis barat (terutama Inggris dan Prancis) dan serangan dari luar (terutama setelah Khilafah Utsmaniyah terlibat dalam Perang Dunia I) menjadi faktor yang mempercepat kejatuhan Khilafah Islam pada Maret 1924.

Ketiadaan kepemimpinan Islam (Imamah) melemahkan kehidupan Umat Islam (secara generik), dan menciptakan banyak celah untuk munculnya perpecahan di dunia Islam, termasuk sulitnya mencapai perdamaian di antara pihak-pihak yang bertikai di kawasan Timur Tengah. (FW)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *