Pemungutan Suara di Australia Ricuh, Banyak WNI Tak Bisa Memilih

Pemungutan Suara di Australia Ricuh, Banyak WNI Tak Bisa Memilih

Pemungutan suara Pemilu 2019 di luar negeri hari ini terakhir dilakukan. WNI di beberapa negara harus kecewa karena tak bisa memberikan hak suaranya.

Hari Terakhir Pemungutan Suara di Australia Ricuh, Banyak WNI Tak Bisa Memilih

Konten.co.id – Di Indonesia, hari ini baru memasuki hari tenang Pemilu 2019. Namun untuk WNI yang ada di luar negeri, hari ini merupakan waktu terakhir pemungutan suara.

Pemungutan suara di luar negeri sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019. Namun hari ini merupakan pemungutan suara di TPS. Sedangkan sejak tanggal 8 April, diperuntukkan bagi pemilih yang tak bisa datang ke TPS. Dengan mengirim surat suara melalui pos.

Tak jelasnya mekanisme pemungutan suara di TPS, membuat antrean panjang di beberapa TPS yang ada di KBRI dan lokasi TPS beberapa negara.

Ariningsun Cinantya (35), jadi salah seorang WNI di Sydney, Australia yang sangat kecewa karena gagal memilih. Ia menyebut pemungutan suara agak chaos dan tak jelas aturannya.

“Saya sudah daftar sejak Oktober 2018. Lokasi pemungutan suara yang jauh dari tempat tinggal, saya minta dikirimi surat suara melalui pos. Namun, surat suara tidak dikirim,” ucap Ariningsun dilansir dari CNBC Indonesia, Minggu (14/4/2019).

Pemilu di Sydney diadakan di beberapa lokasi yang berjauhan, seperti Townhall, Konsulat Jenderal RI di Maroubra, dan Marrickville, karena luas kota tersebut yang cukup besar.

Ariningsun baru mendapat kabar pada Rabu lalu jika dirinya harus mencoblos di TPS 09 di Townhall. Dirinya pun masuk Daftar Pemilih Khusus (DPK) dan diminta hadir pukul 17.00 hingga pukul 18.00 untuk memberikan suara.

Namun, panitia rupanya tidak memberikan lokasi detail TPS di tengah-tengah wilayah Townhall yang merupakan bangunan publik terluas di Australia. Ariningsun pun terpaksa berputar-putar sebelum akhirnya menemukan TPS dimaksud.

Ia pun tiba sekitar 20 menit sebelum pukul 17.00 dan menemukan antrean sudah mengular hingga dua blok di luar gedung. Ketika pemungutan suara ditutup pukul 18.00, ia masih antre di samping gedung dan hanya maju sekitar 50 meter dari posisinya semula berdiri.

“Padahal saya ada di daftar cadangan, ada undangan SMS dan email. Tapi mereka (panitia) tidak membedakan antrean. Yang antre di belakang saya enggak daftar pemilu,” ujarnya.

Beberapa antrean panjang juga ditemui di lokasi pemilu luar negeri seperti di Belanda dan Jepang.

WNI di Belanda harus antre panjang dan lama demi bisa menggunakan hak suara mereka yang lebih dulu diadakan pada Sabtu (13/4/2019).

Tessa Tamin, seorang warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di Rotterdam, Belanda, harus mengantre selama lebih dari 3,5 jam. Sekolah Indonesia Den Haag menjadi satu-satunya lokasi TPS di belanda.

“3,5 jam lebih (antre) karena cuma ada lima TPS untuk sekitar 7.000 orang,” ujar Tessa.

“Tidak jelas mekanismenya. Jadi, orang harus antre dan akhirnya banyak yang nyerobot (antrean),” tambahnya.

WNI di Belanda juga harus antre di tengah hujan dan salju. Meski begitu, tak menyurutkan semangat WNI untuk memberikan hak suaranya.

Waktu pencoblosan yang disediakan pihak Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Den Haag adalah pukul 09.00 hingga 19.00 waktu setempat. (FW)

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan