Menakar Validitas Hasil Quick Count Pemilu 2019

Menakar Validitas Hasil Quick Count Pemilu 2019

Sejumlah pihak ada yang meyakini hasil Quick Count, sementara pihak lainnya ada juga yang meragukan. Berikut gambaran Quick Count pada Pemilihan Umum 2019.

Validitas Quick Count Diyakini Tapi Diragukan

Konten.co.id – Hasil quick count atau hitung cepat Pilpres 2019 yang dilakukan lima lembaga survei hingga Rabu (17/4/2019) pukul 21.00 WIB menunjukkan perolehan suara pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin masih mengungguli calon presiden nomor urut 02 Prabowo – Sandiaga Uno. Demikian dilansir CNBC Indonesia, kamis (18/4/2019).

Meski demikian, Prabowo melawan hasil quick count dari sejumlah lembaga survei yang mengunggulkan Jokowi itu.

Prabowo bahkan dua kali menggelar konferensi pers, Rabu, dan mengklaim kemenangan berdasarkan baik dari exit poll, quick count, dan real count yang dilakukan secara internal.

Dalam konferensi pers yang digelar terakhir pada pukul 20.35 WIB, Prabowo mengklaim menang dengan perolehan suara 62 persen. 

“Saudara-saudara sebangsa sekalian, saya mau memberikan update. Berdasarkan real count kita, kita berada di 62%,” kata Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan Rabu Malam (17/4/2019).

Lantas, seberapa validkah hasil hitungan quick count?

Sebagai informasi, quick count merupakan sebuah metode dengan menghitung persentase hasil pemilu di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang menjadi sampel. Hasil pemilu dapat diketahui pada hari yang sama ketika pemilu digelar. Data quick count diperoleh dari berita acara hasil penghitungan suara (C1) di TPS.

Data hasil pemungutan suara dari TPS-TPS yang dijadikan sampel kemudian dikumpulkan dan ditampilkan secara real time dalam bentuk tabulasi.

Berapa pun data yang masuk akan diakumulasi dalam persentase (100%). Biasanya ditayangkan melalui berbagai media massa.

Kendati bukan hasil resmi KPU, namun quick count dianggap menggambarkan hasil pemilu sesungguhnya, sehingga lembaga survei berlomba-lomba menjadi yang terdepan menampilkan data quick count.

Menurut hasil laporan GSDRC Applied Knowledge Services, quick count biasanya memberikan pemeriksaan independen terhadap hasil pemilihan resmi dan analisis kualitatif dari proses hari pemilihan. Saat ketidakpercayaan dalam proses pemilihan tinggi, maka quick count dapat mempromosikan kepercayaan pada hasil resmi.

“Suatu organisasi seharusnya tidak melakukan quick count kecuali jika yakin bahwa hasil itu dapat mendekati hasil akhir nantinya,” tulis laporan itu.

Berkaca dari pemilu 2014 lalu, hasil quick count berbagai lembaga survei umumnya tidak jauh berbeda dengan hasil real count oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sementara itu, KPU baru akan memulai penghitungan suara manual Kamis (18/4/2019). Hasil penghitungan suara akan diumumkan pada 22 Mei atau 35 hari usai tanggal pemungutan suara. (ME) 

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *