Korban Meninggal Dunia Banjir di Bengkulu 29 Orang

Korban Meninggal Dunia Banjir di Bengkulu 29 Orang

Curah hujan yang ekstrem sehingga sungai meluap dan didukung kerusakan lingkungan membuat Bengkulu banjir menelan korban jiwa sebanyak 29 orang dan sembilan orang masih dalam pencarian.

Kerusakan Lingkungan, Korban Meninggal Dunia Banjir di Bengkulu 29 Orang

Konten.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban tewas banjir di Bengkulu sebanyak 29 jiwa. Sementara korban hilang sebanyak sembilan orang. Empat korban ditemukan hidup dengan kondisi luka.

“Sampai saat ini penanganan darurat masih terus dilakukan, jumlah korban 29 meninggal dunia, sembilan hilang, empat ditemukan hidup,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Selasa (30/4/2019).

Sejumlah korban saat dievakuasi warga dalam peristiwa banjir di Bengkulu.*

Selain itu, Sutopo mengatakan ternak mati terdapat 211 ekor, seperti sapi, kerbau, domba dan kambing. Kerusakan fisik melanda 184 rumah, tujuh fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur dan sarana prasarana KKP juga rusak.

Selain kerusakan fisik, juga terdapat sampah dan material lain yang hanyut terbawa banjir.

“Sampah dan material yang dihanyutkan banjir lumpur dan material lain memerlukan pembersihan, beberapa daerah telah menetapkan masa tanggap darurat 14 hari dan penanganan masih terus dilakukan,” tuturnya.

Sutopo mengatakan saat ini banjir sudah mulai surut. Menurutnya, banjir dan longsor di Bengkulu tak lain karena faktor alam dan ulah manusia.

Yakni, curah hujan yang ekstrem sehingga sungai meluap dan didukung kerusakan lingkungan.

“Kita melihat luasan wilayah dari 19 kabupaten kota di Bengkulu, ini memang hujan sangat ekstrim sehingga sungai-sungai meluap ditambah kerusakan lingkungan di sana, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan, ada tambang, ada pembangunan-pembangunan perumahan di daerah rawan bencana,” tuturnya.

Sutopo mengatakan korban jiwa banyak ditemukan di Bengkulu Tengah. Di wilayah itu terdapat delapan kawasan tambang yang cukup luas.

Dari pantauan yang dilakukan lewat satelit, Sutopo menjelaskan penambangan itu mengakibatkan ketidakseimbangan siklus hidrologi.

“Mengakibatkan ketidakseimbangan dari siklus hidrologi yang ada di dimana ketika terjadi hujan, air tadi menjadi aliran permukaan dan mencari sungai yang ada, hanya sedikit sekali yang meresap ke tanah,” paparnya. (AI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan