fbpx

Dagelan Uang Pensiun Koruptor

Dagelan Uang Pensiun Koruptor

Pidato tanpa teks Prabowo kerap menjadi blunder. Seringkali terselip kalimat yang kontradiktif dengan harapan rakyat Indonesia dan bahkan para pendukungnya sekalipun.

Asal Tobat, Prabowo akan Terima Koruptor sebagai Saudaranya

Oleh : Kang Oni

“KITA akan panggil koruptor-koruptor itu. Kita akan minta mereka taubat dan sadar. Kembaliken lah uang-uang yang kau curi… Ya, boleh kita…kita sisihkan dikit lah. Boleh nggak? Ya… untuk dia pensiun, ya?… Berapa?… Kita tinggalin berapa? …Hah?…Hah?… Lima persen?…Hah?…Lima persen!…Tiga persen?…Hah?… Enggak boleh?… Kalau mereka taubat, kita terima kembali sebagai saudara kita,… betul? … Kalau mereka tidak mau kembalikan….hah…. Saudara-saudara 17 April tinggal….”.

Itulah salah satu bagian pernyataan Capres 02, Prabowo Subianto, pada kampanye akbar di GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4/2019) kemarin. Tayangan videonya tersebar di jagat medsos dan cukup viral di Twitter.

Pernyataan dana pensiun koruptor memang terdengar sangat janggal. Terlebih diucapkan oleh seorang calon presiden pada kampanye krusial yang menjadi sorotan publik. Baik dari kubu pendukung, lawan tanding, atau bahkan para swing voters.

Pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan Prabowo tersebut sontak mendapat penolakan dari sejumlah peserta kampanye akbar. Mereka tidak setuju sepeser pun uang hasil korupsi digunakan oleh para koruptor. Apalagi dengan istilah untuk pensiun. Emang sejak kapan ada pensiunan koruptor? Mikir atuh!

Pernyataan Prabowo, boleh jadi hanya sebuah celotehan. Atau bagian dari stand up comedy ala Prabowo. Digulirkan secara spontan. Dan sepertinya bagian (pernyataan) ini tidak ada dalam “skenario” awal orasi politik Prabowo.

Pasalnya, selain pembahasannya tidak tuntas, Prabowo sepertinya tidak yakin dengan pemikirannya sendiri. Bahkan, ia sampai beberapa kali menanyakan kepada pendukungnya mengenai besaran prosentase uang hasil korupsi yang boleh dinikmati para koruptor di “masa pensiunnya”.

Pertanyaan tersebut, sebenarnya merupakan indikasi permintaan persetujuan Prabowo dari para pendukungnya. Sayang, tida ada satu pun pendukung Prabowo yang menyetujui. Bahkan ada salah satu celetukan tajam menohok.

“Bisa dilaknat (oleh Allah) itu!”

Celetukan kritis dan menusuk itu, rupanya membuat Prabowo tersadar dan tidak melanjutkan dagelan uang pensiun koruptornya .
Pernyataan dana pensiun koruptor tentu terdengar sangat janggal. Terlebih diucapkan oleh seorang calon presiden pada kampanye krusial yang menjadi sorotan publik. Baik dari kubu pendukung, lawan tanding, atau bahkan para swing voters.

Memasuki injury time seharusnya Prabowo bisa menimbang lebih matang apa yang akan diucapkannya. Seharusnya ia hanya menyampaikan statemen-statemen pemicu semangat tempur bagi para pendukungnya agar berjuang all out untuk memenangkan pertarungan di ajang pilpres nanti. Mengungkapkan gagasan-gagasan yang bisa meyakinkan swing voters atau bahkan pemilih kubu lawan mengalihkan pilihan kepadanya.

Prabowo memang selalu berorasi tanpa teks. Boleh jadi itu untuk menunjukkan bahwa dia seorang orator ulung. Tetapi, bukan berarti juga harus tanpa konsep. Sebab, bisa fatal jadinya.

Memberikan angin segar kepada para koruptor untuk menikmati hasil jarahannya adalah sebuah kesalahan besar. Apalagi di saat seluruh raykat Indonesia berharap kasus korupsi segera hilang dari Bumi Garuda.

Ada dua hal lain yang menarik dari pernyataan Prabowo tersebut.
Pertama, kata taubat dan menyisihkan dana hasil korupsi. Kata tobat yang dimaksud Prabowo, mungkin yang dikenal dalam agama Islam taubatan nasuha.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim [66]: 8).
Taubat merupakan ibadah yang sangat agung, mulia, dan memiliki banyak keutamaan. Ada tiga syarat taubatan nasuha. Menyesali perbuatan, berhenti dari melakukan dosa, dan berjanji dengan sungguh-sunggu untuk tidak mengulanginya.

Permintaan agar koruptor taubat, justru sangat bertentangan dengan kalimat membolehkan koruptor menikmati sedikit hasil jarahannya.
Kalau seseorang menyatakan taubatan nasuha dari perbuatan korupsi, seharusnya dibarengi dengan menyerahkan seluruh hasil korupsinya kepada negara. Sebab, kalau masih menikmati hasil korupsi yang dilakukannya, itu sebenarnya dia belum bertaubat dari seluruh kesalahannya.

Atau mungkin yang dimaksud Prabowo dengan kata tobat itu adalah taubat sambal? Asal tobat, atau taubat asal.
Kedua, pernyataan “Kalau mereka taubat, kita terima kembali sebagai saudara kita”.

Tentu, kalimat tersebut tidak dimaksudkan bahwa setiap koruptor yang bertaubat otomatis bisa dibebaskan dari jerat hukum. Sekalipun Prabowo mengatakan para koruptor yang bertaubat akan diterima kembali sebagai saudaranya.

Antara taubat dengan penegakan hukum adalah dua hal berbeda. Seseorang yang menyadari dan menyesali kesalahannya, tidak bisa menggugurkan kasus hukumnya. Pernyataan penyesalan, hanya akan menjadi bagian yang meringankan hukuman bagi seorang terdakwa.

Ada seorang miskin datang kepada Rasulullah SAW. Dia mengaku telah melakukan dosa berhubungan badan di siang hari pada bulan Ramadan.
Pelaku dosa itu memang orang miskin, namun Nabi Muhammad SAW tetap menyatakan orang tersebut harus membayar kifarat (denda). Meski pada akhirnya Rosulullah SAW sendiri yang memberikan kurma untuk membayar dendanya. Dan justru orang miskin berdosa itulah yang pada akhirnya disuruh memberikan kurma kifarat kepada keluarganya. Sebab mereka merupakan keluarga termiskin di kampungnya.

Jadi, pernyataan Prabowo akan menerima koruptor yang bertaubat sebagai saudaranya, bukan berarti harus membebaskan sang koruptor dari jeratan hukuman pidana.

Atau mungkin justru karena pemikiran itulah, Prabowo mengizinkan sejumlah mantan koruptor nyaleg melalui perahu partainya?***

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video