Arti dan Perbedaan Exit Poll, Quick Count dan Real Count

Arti dan Perbedaan Exit Poll, Quick Count dan Real Count

Sistem penghitungan cepat dilakukan oleh berbagai lembaga survei. Lalu ada beberapa istilah yang muncul seperti exit poll, quick count dan real count. Apa arti dan perbedaan istilah ini?

Ketahui Arti Bedanya Exit Poll, Quick Count dan Real Count

Konten.co.id – Saat pemilihan umum (Pemilu) penghitungan suara bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada tiga cara yang digunakan yaitu exit poll, quick count, dan real count.

Masyarakat pun saat ini dikejutkan dengan kemunculan hasil exit poll Pemilu 2019 yang berlangsung di luar negeri. Hasil tersebut berseliweran di media sosial.

Pencoblosan di luar negeri telah berlangsung pada 8-14 April 2019. Sementara di Indonesia berlangsung pada 17 April 2019.

Sejumlah masyarakat merespons hasil exit poll tersebut, baik secara positif maupun negatif. Hasil exit poll tersebut belum dipastikan kebenarannya, sebab exit poll menunjukkan hasil berbeda.

Satu hasil exit poll memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf, lainnya memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menjelaskan Exit Poll, Quick Count dan Real Count. Kata dia, Exit poll berbeda dengan quick count dan real count.

Ia mengatakan exit poll selalu dilakukan beberapa saat setelah pemilih telah menyalurkan pilihan politiknya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Metode yang digunakan dalam exit poll biasanya dengan wawancara langsung di TPS. Hasanuddin menuturkan exit poll memiliki margin of error dan tingkat kepercayaan. Sebab, exit poll pada umumnya tidak mewawancarai seluruh pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap di TPS yang menjadi lokasi survei.

“Jadi secara teknis Exit Poll sama dengan survei. Ketika orang selesai nyoblos di TPS langsung ditanya milih siapa, 01 atau 02, atau rahasia,” ujar Hasanuddin dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (16/4).

“Jadi secara prinsip exit poll itu sama dengan survei. Jadi di situ ada tekniknya menggunakan wawancara, hingga kuisioner terstruktur,” ujarnya.

Sementara quick count, kata Hasanuddin, merupakan proses pengambilan data terhadap sampel TPS. Pada umumnya, lembaga survei hanya mengambil sampel di beberapa TPS untuk mewakili semua TPS.

Karenanya margin of error tidak sebesar saat survei seperti exit poll. Akan tetapi, kata Hasanudin, quick count tidak bisa menjadi patokan untuk memastikan kemenangan kandidat.

Sebab, TPS yang dipilih lembaga survei saat melakukan quick count belum tentu mewakili seluruh TPS. “Jadi dia akan mengukur atau menghitung perolehan kandidat di TPS itu dari formulir C1 di TPS terpilih,” ujar Hasanuddin.

“Ada juga motif kesengajaan memang ketika TPS yang dipilih itu diambil dari kandidat yang kira-kira akan unggul. Jadi ada kesengajaan di situ,” ujarnya.

Ia pun menjelaskan tentang real real count
Real count merupakan proses penghitungan keseluruhan surat suara yang ada di seluruh TPS. Real count, kata dia, dilakukan oleh KPU.

Pada umumnya, ia menyebut proses real count berlangsung lebih lama. Sebab, ia menyebut data yang digunakan bersumber dari seluruh TPS.

“Ini semacam sensus terhadap seluruh TPS. Makanya agak lebih lama di banding quick count,” ujar Hasanuddin. (AI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan